Minggu, 18 Mei 2014

Desember 12







      Kulitnya yang kelabu, serta tubuhnya yang hanya ditutupi oleh koteka sangat menegaskan bahwa pria itu berasal dari daerah cendrawasih. Dilihat dari parasnya, pria itu tidak terlalu menawan, namun sepertinya hal itulah yang membuat seorang gadis Jawa berdarah ningrat seperti Lembayung Gendis Jayadiningrat, justru semakin asik menikmati wajah pria tersebut melalui bingkai foto yang saat ini sedang dipegangnya. Saat Gendis menatap pria tersebut melalui bingkai foto, Gendis nampak begitu bahagia, namun terkadang butiran air mata juga mengalir dari bola matanya, dan juga sering diiringi oleh jeritan yang histeris.  Dan kini, perasaan pilu bercampur rindu menyelimuti hati Gendis, bahkan fikiran Gendis pun teringat pada Desember 12, yah itulah tanggal yang mempertemukan Gendis dengan sosok pria tersebut. Perkenalan Gendis dengan sosok pria tersebut, seolah membuka kembali lembaran kenangan manis Gendis dengan pria tersebut.

 2009, Desember 12
Semburat cahaya jingga yang muncul di ufuk timur sangat menghiasi kanvas angkasa kala itu. Rumput yang bergoyang mengiringi senandung dari kicauan burung, serta langkah kaki warga Saubeba telah mengusik tidur Gendis. Walaupun sedikit  tertatih, namun ke dua bola mata perempuan berambut lebat itu akhirnya terbuka juga. Perempuan itu hanya mencuci wajah manisnya, maklum daerah disana masih kekurangan pasokan air kala itu. Setelah membasuh wajahnya, perempuan itu lekas berganti pakaian tidurnya dengan baju bermotif  batik khas kota pelajar. Gendis hendak pergi dari rumah kepala desa yang semalam ia singgahi, namun sebelum ia pergi, kamera Polaroid segera dia masukkan ke dalam ransel yang motifnya tak jauh beda dengan baju yang dia kenakan saat itu. Sebenarnya Gendis ingin meneliti kebudayaan desa Saubeba untuk bahan skripsinya, namun lantaran Gendis belum bisa berbahasa Papua dengan benar, jadi Gendis butuh seseorang untuk membatunya berkomunikasi. Peneas Lokbere yang menjadi kepala desa disana menyarankan agar Gendis menunggu seorang pemuda yang nantinya bisa membantu Gendis. Satu jam Gendis  menunggu kedatangan sosok pria tersebut, namun pria yang disebut-sebut bisa membantu Gendis pun belum terlihat juga, karena terlalu lama akhirnya Gendis hendak pergi sendiri, namun sayang rencana Gendis untuk pergi sendiri pun gagal, lantaran sosok pria yang masih menggunakan koteka tersebut akhirnya menampakkan dirinya di hadapan Gendis. Mata Gendis tak  berkedip sedikit pun ketika dia melihat sosok pria tersebut.
“ Kamu wanita yang bernama Gendis? “ tanya pria tersebut
Gendis diam seribu bahasa, lalu pria tersebut mencoba memegang tangan Gendis.
 “ Ayo cepat hari sudah mulai siang “ ujar pria tersebut dengan logat Papuanya.
Tersadar tangannya sedang digenggam oleh pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis melepaskan tangannya dari genggaman pria berambut keriting itu.
“ Ehm.. i..iya aku Gendis, tapi kamu siapa? “  tanya Gendis dengan tatapan yang sinis.
“ Dia adalah orang yang saya bilang bisa membantu kamu, namanya Yoku Morinta Kharell” ujar Pak  Peneas Lokbere yang tiba-tiba keluar dari dalam rumahnya.
“ Apaa? dia bisa bantu saya? dia saja masih memakai koteka Pak, bagaimana bisa dia membantu saya?” ujar Gendis tak percaya
“ Walau dia masih mengenakan koteka,  tapi dia orang sangat dikenal oleh masyarakat disini, jadi saya kira dia pasti sangat membantu kamu, lagipula Yoku juga lancar berbahasa Nusantara “ ujar Pak Peneas dengan khas logatnya.
“ Tapi pak..??”
“ Sudahlah kasihan Yoku menunggu, hari juga mulai siang”, ujar Pak Peneas
          Akhirnya Gendis dan Yoku pun pergi meninggalkan Pak Peneas. Sepanjang perjalanan Gendis bertanya-tanya seputar kebudayaan dari desa Saubeba, cukup banyak yang diketahui oleh Yoku, terlebih lagi sikap Yoku yang sangat ramah terhadap Gendis, membuat Gendis ingin mengambil foto Yoku melalui kamera Polaroid yang ia bawa. Gendis yang awalnya beranggapan bahwa Yoku  adalah sosok yang terbelakang, kini justru menganggap bahwa Yoku adalah sosok pria yang menyenangkan. Namun karena langit sudah nampak merekah kemerah-merahan, akhirnya Yoku dan Gendis memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Peneas.
“ Ehm…  aku ingin sekali melihat penyu belimbing” ujar Gendis sepanjang perjalanan pulang.
“ Kalau Gendis ingin melihat penyu belimbing, bagaiamana kalau besok saya dan Gendis pergi ke Jamursba Medi, disana Gendis bisa melihat penyu belimbing bertelur “ ujar Yoku dengan logat bahasanya yang kental.
“ Sungguh kamu ingin membawa aku kesana?” tanya Gendis
“ Tentu, mengapa tidak?”
“ Kalau begitu aku tunggu kamu di rumah Pak Peneas jam 3 sore ya?” ujar Gendis tersenyum manis.
“ Saya janji akan datang ”, ujar Yoku dengan semangat.
Langit yang tadi merekah kemerah-merahan kini berubah jadi gelap, dan Gendis pun baru memasuki rumah Pak Peneas setelah Yoku melambaikan tangannya. Keesokan harinya tepat pukul 3 sore, Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis, namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Yoku tidak memakai koteka melainkan Yoku memakai baju seperti orang kebanyakan.
“ Sudah menunggu dari tadi?” tanya Yoku
“ Yah begitulah, tapi mengapa hari ini penampilanmu berbeda?” ujar Gendis balik bertanya.
“ Ehmm.. saya hanya ingin tampil beda saja, ah, sudahlah lebih baik kita segera pergi “ ajak Yoku.
Yoku dan Gendis pun pergi menuju ke Jamursba Medi. Selama perjalanan Gendis masih bertanya kepada Yoku seputar kebudayaan dari Desa Saubeba, dan tak terasa waktu cepat berlalu, akhirnya Yoku dan Gendis pun tiba di Pantai Jamursba Medi. Setibanya disana, mata Gendis langsung dimanjakan oleh pemandangan pantai pasir putih Jamursba Medi yang membentang sangat indah. Pertama kali kaki Gendis menyentuh permukaan pasirnya, Gendis langsung bisa merasakan halusnya butiran pasir Jamursba Medi, terlebih lagi bayi-bayi penyu belimbing yang sedang merangkak menuju lautan  seakan menyambut kedatangan Gendis dan juga Yoku. Hari mulai senja, namun Gendis seperti tak ingin beranjak pergi dari Jamursba Medi. Sementara itu, Yoku yang masih setia menemani Gendis di Jamursba Medi hanya bisa menatap wajah ayu Gendis.
“ Sore hari disini begitu indah sekali, rasanya aku tak mau pergi dari sini, tapi sayang besok aku harus balik ke Yogya “, ujar Gendis
“ Yogya?” tanya Yoku
“ Iya Yogya, tempat asal ku ”
“ Maksud Gendis, besok Gendis sudalah tidak ada di Sauseba lagi? “ tanya Yoku kembali.
“ Iya “ jawab Gendis sambil mengangguk
  Yoku diam sesaat setelah mendengar perkataan Gendis.
“ Yoku, kenapa kamu diam?” tanya Gendis
“ Ah tak apa, saya hanya tak menyangka secepat itu Gendis pergi”, ujar Yoku tak semangat.
Yoku dan Gendis saling diam, namun wajah dua insan itu jelas menunjukkan bahwa ada sebuah cinta yang tak mampu untuk dideskripsikan. Dan seiring senja yang mulai menua, bibir Yoku pun secara perlahan mulai menyentuh bibir merona Gendis. Pantai Jamursba Medi seakan menjadi saksi bisu cinta mereka.

           Satu tahun kemudian…

2010, Desember 12
Gendis yang hanya seorang diri bersepeda menyusuri jalan Malioboro, terlihat begitu ayu dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya. Namun sayang, senyum manis yang menghiasi parasnya itu tidak berlangsung lama, raut wajah Gendis mendadak panik tak karuan, dikarenakan rem sepeda Gendis mendadak blong, hingga menyebabkan Gendis terjatuh dan hampir menabrak seorang pria.
“ awasss….” teriak Gendis
Gendis jatuh dari sepedanya, sementara  itu pria yang hampir ditabrak oleh Gendis selamat. Tersadar bahwa Gendis terjatuh, pria itu pun segera menghampiri Gendis.
“ Kamu tidak apa-apa?” tanya pria tersebut.
“ A..a..duh, kaki aku” ujar Gendis merintih kesakitan
“ Kaki kamu kenapa?” tanya pria tersebut kembali
“ Kaki aku…” ujar Gendis sambil menatap wajah pria tersebut.
Dan ketika Gendis menatap wajah pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis membisu, seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya itu nyata.
“ Gendis “ ujar pria tersebut terkejut
Gendis masih diam
“ Gendis, ini saya Yoku?” ujar Yoku kembali
“ Yoku..” ujar Gendis
Sontak Gendis menangis dan langsung memeluk erat tubuh Yoku. Yoku terdiam, namun tangan kanannya membelai rambut hitam Gendis. Sentuhan lembut dari jemari Yoku, perlahan mulai menyeka butiran air mata Gendis.
“ Aku tak sangka, kita bisa bertemu lagi di Desember 12, tanggal yang sama ketika kita pertama kali bertemu di Saubeba”  ujar Gendis sambil mengusap bola matanya yang sembab.
Mendengar  Gendis berkata seperti itu, Yoku hanya membalasnya dengan sebuah senyum manis yang terpancar di wajah cerahnya, namun sayang cerahnya wajah Yoku, tak secerah langit di Malioboro kala itu. Langit kala itu nampak kelabu, pertanda butiran air hujan akan jatuh ke bumi, dan ternyata benar rintihan hujan mulai membasahi mereka.
“ Hujan.. ayo segera kita berteduh “ ujar Yoku sambil beranjak berdiri
Gendis berusaha berdiri, namun kakinya yang terkilir tidak bisa menopang tubuhnya.
“ adduh.. “ ujar Gendis yang terjatuh saat berusaha berdiri
“ kaki kamu terkilir?” tanya Yoku
“ iya “ ujar Gendis mengangguk
“ Kalau begitu kamu naik di atas punggungku, biar ku gendong! “ ujar Yoku sambil membungkukkan tubuhnya
“ Kamu sungguh ingin menggendong ku?” tanya Gendis kaget
“ iya, ayo cepatlah naik ke punggungku” ujar Yoku sambil menolehkan wajahnya
 Dan Gendis pun menaiki punggung Yoku
“ Pegangan yang erat, kita akan berlari bersama “ ujar Yoku
Akhirnya Yoku berlari sambil menggendong Gendis. Gendis yang berada di atas punggung Yoku pun nampak begitu bahagia, dan tak berapa lama kemudian Yoku memilih sebuah kedai kopi untuk tempat berteduh.
“ kita sementara disini dulu ya, sampai hujannya reda “ ujar Yoku sambil menurunkan Gendis
“ iya ga apa-apa, oh ya kamu kenapa ke Yogya? “ tanya Gendis
“ Saya kesini karena Pak Peneas yang menyuruh, katanya saya bisa banyak belajar disini ” ujar Yoku sambil membuka sebuah buku yang dibawanya.
“ Oh.. jadi begitu ya”
Selama mereka menunggu hujan reda, Yoku membaca buku tersebut , sebuah buku yang tak dikenal oleh Gendis.
“ itu buku apa ? “ tanya Gendis bingung
“ Ini bukan buku, tapi ini Kitab”
“ Kitab apa?” tanya Gendis kembali
“ Injil “
“ Injil? Itu berarti kamu..?”
“ Aku nasrani “ ujar Yoku sambil menunjukkan kalung salibnya
Mendengar pernyataan Yoku sebagai umat Nasrani, Gendis tiba-tiba terdiam, bibirnya seakan kelu.
“ Gendis kamu kenapa? “ ujar Yoku bingung
“ Ah, aku ga apa-apa kog, tapi kalau boleh tau kamu sejak kapan jadi umat nasrani? “
“ Sejak kamu meninggalkan Saubeba ,dan semenjak saat itu saya menjadi manusia yang sering marah-marah, tapi saya bersyukur Pak Peneas mengajarkan saya tentang keikhlasan dan juga kasih Tuhan, dan saat itu lah saya jadi lebih dekat dengan Tuhan Yesus, kamu masih ingat dengan Pak Peneas kan?”
“ Iya aku ingat kog, oh..ya hujannya udah reda, aku pergi dulu ya “ ujar Gendis
“ Kalau begitu saya antar ya”  ujar Yoku sambil menutup kitab injilnya
“ Ga usah, rumah aku dekat kog dari sini”
“ Tapi kaki kamu?” tanya Yoku
“ Di ujung jalan ada andong kog, kaki aku juga sekarang ga terlalu sakit sih, buktinya aku sekarang bisa berdiri “
“ Ehm..yasudah kalau kamu inginnya begitu, tapi kamu yakin kaki kamu tidak kenapa-kenapa?”  tanya Yoku kembali
“ Iya kaki aku beneran ga kenapa-kenapa, yaudah kalau gitu aku duluan ya” ujar Gendis
Dan Gendis pun berjalan menuju ke sebuah andong di ujung jalan, namun saat Gendis sudah berada di ujung jalan dan segera ingin menaiki andong tersebut, tiba-tiba Yoku berteriak
“ Gendis…!! “ teriak Yoku
Mendengar teriakkan Yoku, Gendis hanya menoleh dengan tatapan wajah yang bingung
“ Sa Cinta Ko “ teriak Yoku dari kejauhan
“ Apa?” ujar Gendis yang juga ikut berteriak
Yoku sempat diam sesaat, namun matanya mengarah ke sebuah papan reklame dekat kedai kopi tempat ia berteduh, dan setelah melihat tulisan di papan reklame tersebut, Yoku kembali berteriak
“ Saya Tresno Karo Kowe “ teriak Yoku kembali
Mendengar perkataan Yoku seperti itu, sontak Gendis langsung berlari menuju Yoku, dan saat Gendis berada tepat di hadapan Yoku, secara tiba-tiba Yoku langsung memeluk erat tubuh mungil Gendis.
“ saya cinta kamu “ ujar yoku sambil memeluk Gendis
“ Aku tau itu, oh..ya tadi kalimat yang pertama kamu katakan, itu bahasa apa, kog aku ga pernah dengar ya”
“ Maksud kamu Sa Cinta Ko?
“ Iya, itu apa maksudnya?”
“  Itu bahasa Papua, yang artinya saya cinta kamu “
“ Oh gitu, terus kamu kenapa ngucapin untuk yang kedua kalinya dalam bahasa Yogya? kamu tau dari mana?”
“ Saya tau dari situ “ ujar Yoku sambil menunjuk ke sebuah papan reklame
“ hahahhaha..” ujar Gendis yang tertawa
Dan Gendis pun tertawa  saat melihat papan reklame untuk pertunjukan ketoprak yang ditunjuk oleh Yoku.
“ Lho, kamu kenapa ketawa? memang ada yang lucu?”
“ Ga apa-apa kog, “ ujar Gendis sambil menahan tawa
“ Ehmm.. yasudah  kalau begitu kamu sekarang mau saya antar?” tanya Yoku kembali
“ Iya aku mau “ ujar Gendis sambil mengangguk
Semenjak pertemuan itu, hubungan Gendis dengan Yoku kian hari semakin dekat. Hubungan mereka bukan lagi sekedar teman biasa, melainkan lebih dari itu. Rupanya hasrat cinta masih melekat di hati Gendis dan juga Yoku, dan pertemuan itu seolah mengobarkan kembali api cinta diantara mereka. Hari demi hari mereka menjalin sebuah cinta yang terdengar klise bagi orang lain, terlebih lagi bila mereka sedang pergi bersama dan terdengar suara adzan berkumandang , pastilah saat itu juga Gendis meminta Yoku untuk menemaninya ke musalla, tempat dimana Gendis bersujud menyembah Sang Maha Kuasa. Sementara itu, Yoku yang berkalung salib sangat setia menunggu Gendis keluar dari musalla. Namun ketika Gendis dan juga para jamaah yang lainnya keluar dari musalla, sering kali para jamaah itu berbisik-bisik menyudutkan Gendis.
“ Keturunan ningrat kog ya pacarannya sama orang kafir, kayak ndak ada laki-laki yang lain aja yo
Begitulah mereka berkata dengan logat Jawanya yang kental. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh para jamaah itu justru semakin membuat Gendis mempertahankan hubungannya dengan Yoku.
       Segala rintangan dan hambatan telah dilalui bersama oleh Gendis dan juga Yoku selama 12 bulan.  Namun sayang, nampaknya hubungan yang selama ini diperjuangkan, seakan menyeret Gendis ke dalam sebuah ketakutan yang selama ini dirisaukan olehnya. Yah, keimanan yang dianut oleh Yoku adalah hal yang membuat Gendis tidak bisa bersama  dengan  Yoku secara utuh, dan itu alasan dari segala ketakutan yang terus berotasi di benak Gendis.
“ Kita sudah melewati jutaan detik, aku khawatir jika kita ga bisa melewati lebih dari itu “ ujar Gendis sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Yoku
“  Mengapa kamu mengkhwatirkan sesuatu hal yang hanya berlandaskan jika?” tanya Yoku
“ Entahlah, mungkin karena rasa khawatir inilah yang membuat aku bertahan hingga sejauh ini”
“ Tapi bukankah khawatiranmu itu tidak terjadi?”
“ Bukannya tidak terjadi, tapi belum terjadi saja, dan itu yang membuat aku semakin takut kehilangan dirimu “
“ Rasa takutmu itu hanya akan melukai hatimu saja, tenanglah saya terlahir ke dunia ini hanya untukmu, apakah itu belum cukup untuk menghilangkan rasa takutmu?”
“ Mungkin kamu memang terlahir untukku, namun apakah kamu dan aku ditakdirkan untuk bersama?”
“ Saya tidak bisa meramalkan takdir, tapi saya yakin Tuhan tahu yang terbaik untuk kita,” ujar Yoku sambil mengenggam erat jemari Gendis
“ Oh ya, nanti malam datang ke rumah aku ya, soalnya aku ingin ibu tahu tentang hubungan kita”
“ Saya janji akan datang ”
            Pukul 7 malam Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis dan juga Ibu Gendis. Yoku yang kala itu mengenakan setelan tuxedo tampak begitu gagah ketika menyapa Ibu Gendis. Awalnya, percakapan antara Ibu Gendis dan Yoku berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi sikap ramah yang ditunjukkan  oleh Ibu Gendis terhadap Yoku membuat rasa ragu di hati Gendis akan hubungannya perlahan mulai pudar. Namun sayang, sikap ramah yang ditunjukkan oleh Ibu Gendis mendadak berubah ketika ia melihat kalung salib melingkar di leher Yoku. Bahkan raut wajahnya pun berubah seperti  api  amarah yang segera ingin disemburkan ke putri satu-satunya itu. Dan secara tiba-tiba saja dia menarik tangan Gendis dan memaksa Gendis untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan Yoku.
“ Kamu toh kenapa ndak bilang ke ibu kalau pria itu bukan muslim, kamu tahu kan kalau keluarga kita berdarah ningrat dan almarhum bapakmu itu juga seorang kiyai, lalu mau taruh dimana muka Ibu kalau kamu sampai menikah dengan orang yang berlainan agama!” ujarnya dengan suara yang lantang
“ Walau kita menganut agama yang berbeda, tapi Tuhan itu kan tetap satu bu “ ujar Gendis dengan suara yang getir
“ Pakai akal sehatmu Gendis, bagaimana bisa anak seorang kiyai bisa menikah dengan orang kafir seperti Itu! “
“ Yoku bukan kafir bu! “ ujar Gendis dengan lantang
 “ Gendis!! “ bentak Ibu Gendis sambil mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Gendis.
Mendengar perdebatan hebat dari dalam, Yoku mendadak masuk untuk melihat kejadian yang sebenarnya.
“ Maaf  bu, bukan maksud saya untuk lancang, tapi tak sepantasnya seorang Ibu menampar wajah putrinya” ujar Yoku
“ Saya tidak butuh nasihat dari kamu, saya harap mulai sekarang dan seterusnya kamu jauhi anak saya, dan sekarang juga saya minta kamu untuk angkat kaki dari rumah saya “
“ Baik kalau itu yang Ibu mau, saya janji tidak akan berhubungan lagi dengan Gendis “ ujar Yoku
“ Yoku, kamu tidak benar-benar melakukan itu kan Yoku?” tanya Gendis sambil menahan tangisnya
“ Maaf  Gendis saya harus melakukannya, ini adalah yang terbaik untuk kita, dan saya juga berterima kasih kepada Ibu karena sudah mau menerima kedatangan saya pada malam hari ini” ujar Yoku
“ Yoku! “ teriak Gendis
Yoku pergi meninggalkan Gendis, bahkan dia pun tidak menoleh saat Gendis memanggil namanya. Gendis berusaha untuk mengejar Yoku, namun perempuan yang tadi menampar Gendis justru menghalanginya.

2011, Desember 12
 “ Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku
“ Eh kamu udah bangun ya, maaf  ya aku udah lancang masuk ke rumah kamu, soalnya pintu rumah kamu ga dikunci sih, jadi aku langsung masuk aja deh. Oh ya, karena sekarang Desember 12 jadi aku buatin kamu sarapan pagi ya, kamu mau makan apa pagi ini?”
“ Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku kembali
“ Aku kabur dari rumah, makanya aku kesini “
“ Kamu harus pulang Gendis! “
“ aku ga mau pulang, aku mau disini sama kamu! “
“ Gendis sadarlah bahwa keimanan kita berbeda, kita memang tidak akan pernah bisa untuk bersama “
“ Kalau gitu kita tinggal di luar negeri saja, aku punya cukup uang kog, kamu mau kemana? Ke Belanda? atau ke Jepang, disana kita bisa menikah dan tetap bisa menganut agama kita “
“ Gendis sadarlah! ini memang yang terbaik untuk kita, kamu akan bahagia jika kamu tidak bersama dengan saya “ ujar Yoku dengan tegas
“ Tapi aku hanya ingin bahagia bersama denganmu, aku tak perduli dengan perkataan orang lain tentang kita, yang aku inginkan adalah bersamamu, menikah denganmu! “ ujar Gendis dengan suara yang lantang
“ Tapi saya tidak ingin menikah dengan wanita yang berlainan agama !! “ bentak Yoku
“ aku ga nyangka kamu mengatakan itu “ ujar Gendis sambil beranjak pergi
“ Gendis tunggu !"
Yoku berlari mengejar Gendis, tapi Gendis seakan menghiraukannya. Namun ketika Yoku sampai di persimpangan jalan dan berteriak memanggil Gendis berkali-kali, barulah Gendis menolehkan wajahnya ke belakang. Akan tetapi  sungguh naas nasib lelaki berbadan tegap itu, ketika ia hendak menghampiri pujaan hatinya yang berada di ujung jalan , tiba-tiba saja sebuah truk berbadan besar menabraknya hingga menyebabkannya terhempas. Terlihat di keningnya darah mengucur, bibirnya pun sangat pucat kala itu, sontak Gendis langsung berlari kearah lelaki itu.
“ Yoku kamu harus bertahan! Kamu ga boleh meninggalkan aku sendiri! “ ujar Gendis sambil menangis
“ Kita pasti akan berjumpa lagi “ ujar Yoku sambil mengenggam tangan Gendis
Perlahan kelopak mata Yoku mulai tertutup, namun entah mengapa kala itu ia meninggalkan sebuah senyum di wajahnya.
“ Yoku !! “ teriak Gendis

Satu tahun kemudian….

2012, Desember 12
            Ditatapnya wajah pria itu melalui bingkai foto yang ia pegang. Awalnya sebuah senyum terpancar di wajahnya, namun lambat laun butiran air mulai mengalir dari bola matanya, dan bila ada yang mencoba mengambil bingkai foto itu, maka ia akan menjerit histeris. Tidak hanya itu, dia juga sering kali berbicara kepada bingkai foto itu, seolah  pria yang ada di bingkai foto yang ia pegang tersebut hidup.
“ Yoku kita pasti nikah kan?” ujar Gendis sambil memeluk bingkai foto Yoku


TAMAT