Kulitnya yang kelabu, serta tubuhnya yang hanya ditutupi oleh koteka sangat menegaskan bahwa pria itu berasal dari daerah cendrawasih. Dilihat dari parasnya, pria itu tidak terlalu menawan, namun sepertinya hal itulah yang membuat seorang gadis Jawa berdarah ningrat seperti Lembayung Gendis Jayadiningrat, justru semakin asik menikmati wajah pria tersebut melalui bingkai foto yang saat ini sedang dipegangnya. Saat Gendis menatap pria tersebut melalui bingkai foto, Gendis nampak begitu bahagia, namun terkadang butiran air mata juga mengalir dari bola matanya, dan juga sering diiringi oleh jeritan yang histeris. Dan kini, perasaan pilu bercampur rindu menyelimuti hati Gendis, bahkan fikiran Gendis pun teringat pada Desember 12, yah itulah tanggal yang mempertemukan Gendis dengan sosok pria tersebut. Perkenalan Gendis dengan sosok pria tersebut, seolah membuka kembali lembaran kenangan manis Gendis dengan pria tersebut.
2009, Desember 12
Semburat
cahaya jingga yang muncul di ufuk timur sangat menghiasi kanvas angkasa kala
itu. Rumput yang bergoyang mengiringi senandung dari kicauan burung, serta langkah
kaki warga Saubeba telah mengusik tidur Gendis. Walaupun sedikit tertatih, namun ke dua bola mata perempuan berambut
lebat itu akhirnya terbuka juga. Perempuan itu hanya mencuci wajah manisnya,
maklum daerah disana masih kekurangan pasokan air kala itu. Setelah membasuh
wajahnya, perempuan itu lekas berganti pakaian tidurnya dengan baju bermotif batik khas kota pelajar. Gendis hendak pergi
dari rumah kepala desa yang semalam ia singgahi, namun sebelum ia pergi, kamera
Polaroid segera dia masukkan ke dalam ransel yang motifnya tak jauh beda dengan
baju yang dia kenakan saat itu. Sebenarnya Gendis ingin meneliti kebudayaan
desa Saubeba untuk bahan skripsinya, namun lantaran Gendis belum bisa berbahasa
Papua dengan benar, jadi Gendis butuh seseorang untuk membatunya berkomunikasi.
Peneas Lokbere yang menjadi kepala desa disana menyarankan agar Gendis menunggu
seorang pemuda yang nantinya bisa membantu Gendis. Satu jam Gendis menunggu kedatangan sosok pria tersebut, namun
pria yang disebut-sebut bisa membantu Gendis pun belum terlihat juga, karena
terlalu lama akhirnya Gendis hendak pergi sendiri, namun sayang rencana Gendis
untuk pergi sendiri pun gagal, lantaran sosok pria yang masih menggunakan
koteka tersebut akhirnya menampakkan dirinya di hadapan Gendis. Mata Gendis
tak berkedip sedikit pun ketika dia
melihat sosok pria tersebut.
“ Kamu wanita yang
bernama Gendis? “ tanya pria tersebut
Gendis diam seribu
bahasa, lalu pria tersebut mencoba memegang tangan Gendis.
“ Ayo cepat hari sudah mulai siang “ ujar pria
tersebut dengan logat Papuanya.
Tersadar tangannya
sedang digenggam oleh pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis melepaskan tangannya
dari genggaman pria berambut keriting itu.
“ Ehm.. i..iya aku
Gendis, tapi kamu siapa? “ tanya Gendis
dengan tatapan yang sinis.
“ Dia adalah orang yang
saya bilang bisa membantu kamu, namanya Yoku Morinta Kharell” ujar Pak Peneas Lokbere yang tiba-tiba keluar dari
dalam rumahnya.
“ Apaa? dia bisa bantu
saya? dia saja masih memakai koteka Pak, bagaimana bisa dia membantu saya?”
ujar Gendis tak percaya
“ Walau dia masih
mengenakan koteka, tapi dia orang sangat
dikenal oleh masyarakat disini, jadi saya kira dia pasti sangat membantu kamu,
lagipula Yoku juga lancar berbahasa Nusantara “ ujar Pak Peneas dengan khas
logatnya.
“ Tapi pak..??”
“ Sudahlah kasihan Yoku
menunggu, hari juga mulai siang”, ujar Pak Peneas
Akhirnya Gendis dan Yoku pun pergi meninggalkan Pak Peneas.
Sepanjang perjalanan Gendis bertanya-tanya seputar kebudayaan dari desa Saubeba,
cukup banyak yang diketahui oleh Yoku, terlebih lagi sikap Yoku yang sangat
ramah terhadap Gendis, membuat Gendis ingin mengambil foto Yoku melalui kamera
Polaroid yang ia bawa. Gendis yang awalnya beranggapan bahwa Yoku adalah sosok yang terbelakang, kini justru
menganggap bahwa Yoku adalah sosok pria yang menyenangkan. Namun karena langit
sudah nampak merekah kemerah-merahan, akhirnya Yoku dan Gendis memutuskan untuk
kembali ke rumah Pak Peneas.
“ Ehm… aku ingin sekali melihat penyu belimbing” ujar
Gendis sepanjang perjalanan pulang.
“ Kalau Gendis ingin
melihat penyu belimbing, bagaiamana kalau besok saya dan Gendis pergi ke
Jamursba Medi, disana Gendis bisa melihat penyu belimbing bertelur “ ujar Yoku
dengan logat bahasanya yang kental.
“ Sungguh kamu ingin
membawa aku kesana?” tanya Gendis
“ Tentu, mengapa tidak?”
“ Kalau begitu aku
tunggu kamu di rumah Pak Peneas jam 3 sore ya?” ujar Gendis tersenyum manis.
“ Saya janji akan
datang ”, ujar Yoku dengan semangat.
Langit yang tadi
merekah kemerah-merahan kini berubah jadi gelap, dan Gendis pun baru memasuki
rumah Pak Peneas setelah Yoku melambaikan tangannya. Keesokan harinya tepat
pukul 3 sore, Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis, namun tidak
seperti sebelumnya, kali ini Yoku tidak memakai koteka melainkan Yoku memakai
baju seperti orang kebanyakan.
“ Sudah menunggu dari
tadi?” tanya Yoku
“ Yah begitulah, tapi mengapa
hari ini penampilanmu berbeda?” ujar Gendis balik bertanya.
“ Ehmm.. saya hanya
ingin tampil beda saja, ah, sudahlah lebih baik kita segera pergi “ ajak Yoku.
Yoku dan Gendis pun
pergi menuju ke Jamursba Medi. Selama perjalanan Gendis masih bertanya kepada
Yoku seputar kebudayaan dari Desa Saubeba, dan tak terasa waktu cepat berlalu,
akhirnya Yoku dan Gendis pun tiba di Pantai Jamursba Medi. Setibanya disana,
mata Gendis langsung dimanjakan oleh pemandangan pantai pasir putih Jamursba
Medi yang membentang sangat indah. Pertama kali kaki Gendis menyentuh permukaan
pasirnya, Gendis langsung bisa merasakan halusnya butiran pasir Jamursba Medi,
terlebih lagi bayi-bayi penyu belimbing yang sedang merangkak menuju
lautan seakan menyambut kedatangan
Gendis dan juga Yoku. Hari mulai senja, namun Gendis seperti tak ingin beranjak
pergi dari Jamursba Medi. Sementara itu, Yoku yang masih setia menemani Gendis
di Jamursba Medi hanya bisa menatap wajah ayu Gendis.
“ Sore hari disini
begitu indah sekali, rasanya aku tak mau pergi dari sini, tapi sayang besok aku
harus balik ke Yogya “, ujar Gendis
“ Yogya?” tanya Yoku
“ Iya Yogya, tempat
asal ku ”
“ Maksud Gendis, besok
Gendis sudalah tidak ada di Sauseba lagi? “ tanya Yoku kembali.
“ Iya “ jawab Gendis
sambil mengangguk
Yoku
diam sesaat setelah mendengar perkataan Gendis.
“ Yoku, kenapa kamu
diam?” tanya Gendis
“ Ah tak apa, saya hanya
tak menyangka secepat itu Gendis pergi”, ujar Yoku tak semangat.
Yoku dan Gendis saling
diam, namun wajah dua insan itu jelas menunjukkan bahwa ada sebuah cinta yang
tak mampu untuk dideskripsikan. Dan seiring senja yang mulai menua, bibir Yoku
pun secara perlahan mulai menyentuh bibir merona Gendis. Pantai Jamursba Medi
seakan menjadi saksi bisu cinta mereka.
Satu tahun kemudian…
2010, Desember 12
Gendis
yang hanya seorang diri bersepeda menyusuri jalan Malioboro, terlihat begitu
ayu dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya. Namun sayang, senyum manis
yang menghiasi parasnya itu tidak berlangsung lama, raut wajah Gendis mendadak
panik tak karuan, dikarenakan rem sepeda Gendis mendadak blong, hingga menyebabkan Gendis terjatuh dan hampir menabrak seorang
pria.
“
awasss….” teriak Gendis
Gendis jatuh dari
sepedanya, sementara itu pria yang
hampir ditabrak oleh Gendis selamat. Tersadar bahwa Gendis terjatuh, pria itu
pun segera menghampiri Gendis.
“ Kamu tidak apa-apa?”
tanya pria tersebut.
“ A..a..duh, kaki aku”
ujar Gendis merintih kesakitan
“ Kaki kamu kenapa?”
tanya pria tersebut kembali
“ Kaki aku…” ujar
Gendis sambil menatap wajah pria tersebut.
Dan ketika Gendis menatap
wajah pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis membisu, seakan tak percaya bahwa
apa yang dilihatnya itu nyata.
“ Gendis “ ujar pria
tersebut terkejut
Gendis masih diam
“ Gendis, ini saya
Yoku?” ujar Yoku kembali
“ Yoku..” ujar Gendis
Sontak Gendis menangis
dan langsung memeluk erat tubuh Yoku. Yoku terdiam, namun tangan kanannya
membelai rambut hitam Gendis. Sentuhan lembut dari jemari Yoku, perlahan mulai
menyeka butiran air mata Gendis.
“ Aku tak sangka, kita
bisa bertemu lagi di Desember 12, tanggal yang sama ketika kita pertama kali
bertemu di Saubeba” ujar Gendis sambil
mengusap bola matanya yang sembab.
Mendengar Gendis berkata seperti itu, Yoku hanya
membalasnya dengan sebuah senyum manis yang terpancar di wajah cerahnya, namun
sayang cerahnya wajah Yoku, tak secerah langit di Malioboro kala itu. Langit
kala itu nampak kelabu, pertanda butiran air hujan akan jatuh ke bumi, dan
ternyata benar rintihan hujan mulai membasahi mereka.
“ Hujan.. ayo segera
kita berteduh “ ujar Yoku sambil beranjak berdiri
Gendis berusaha
berdiri, namun kakinya yang terkilir tidak bisa menopang tubuhnya.
“ adduh.. “ ujar Gendis
yang terjatuh saat berusaha berdiri
“ kaki kamu terkilir?”
tanya Yoku
“ iya “ ujar Gendis
mengangguk
“ Kalau begitu kamu
naik di atas punggungku, biar ku gendong! “ ujar Yoku sambil membungkukkan
tubuhnya
“ Kamu sungguh ingin
menggendong ku?” tanya Gendis kaget
“ iya, ayo cepatlah
naik ke punggungku” ujar Yoku sambil menolehkan wajahnya
Dan Gendis pun menaiki punggung Yoku
“ Pegangan yang erat,
kita akan berlari bersama “ ujar Yoku
Akhirnya Yoku berlari
sambil menggendong Gendis. Gendis yang berada di atas punggung Yoku pun nampak
begitu bahagia, dan tak berapa lama kemudian Yoku memilih sebuah kedai kopi
untuk tempat berteduh.
“ kita sementara disini
dulu ya, sampai hujannya reda “ ujar Yoku sambil menurunkan Gendis
“ iya ga apa-apa, oh ya
kamu kenapa ke Yogya? “ tanya Gendis
“ Saya kesini karena
Pak Peneas yang menyuruh, katanya saya bisa banyak belajar disini ” ujar Yoku
sambil membuka sebuah buku yang dibawanya.
“ Oh.. jadi begitu ya”
Selama mereka menunggu
hujan reda, Yoku membaca buku tersebut , sebuah buku yang tak dikenal oleh
Gendis.
“ itu buku apa ? “
tanya Gendis bingung
“ Ini bukan buku, tapi
ini Kitab”
“ Kitab apa?” tanya
Gendis kembali
“ Injil “
“ Injil? Itu berarti
kamu..?”
“ Aku nasrani “ ujar
Yoku sambil menunjukkan kalung salibnya
Mendengar pernyataan
Yoku sebagai umat Nasrani, Gendis tiba-tiba terdiam, bibirnya seakan kelu.
“ Gendis kamu kenapa? “
ujar Yoku bingung
“ Ah, aku ga apa-apa
kog, tapi kalau boleh tau kamu sejak kapan jadi umat nasrani? “
“ Sejak kamu
meninggalkan Saubeba ,dan semenjak saat itu saya menjadi manusia yang sering
marah-marah, tapi saya bersyukur Pak Peneas mengajarkan saya tentang keikhlasan
dan juga kasih Tuhan, dan saat itu lah saya jadi lebih dekat dengan Tuhan
Yesus, kamu masih ingat dengan Pak Peneas kan?”
“ Iya aku ingat kog,
oh..ya hujannya udah reda, aku pergi dulu ya “ ujar Gendis
“ Kalau begitu saya
antar ya” ujar Yoku sambil menutup kitab
injilnya
“ Ga usah, rumah aku
dekat kog dari sini”
“ Tapi kaki kamu?”
tanya Yoku
“ Di ujung jalan ada andong kog, kaki aku juga sekarang ga
terlalu sakit sih, buktinya aku sekarang bisa berdiri “
“ Ehm..yasudah kalau
kamu inginnya begitu, tapi kamu yakin kaki kamu tidak kenapa-kenapa?” tanya Yoku kembali
“ Iya kaki aku beneran
ga kenapa-kenapa, yaudah kalau gitu aku duluan ya” ujar Gendis
Dan Gendis pun berjalan
menuju ke sebuah andong di ujung
jalan, namun saat Gendis sudah berada di ujung jalan dan segera ingin menaiki
andong tersebut, tiba-tiba Yoku berteriak
“ Gendis…!! “ teriak
Yoku
Mendengar teriakkan
Yoku, Gendis hanya menoleh dengan tatapan wajah yang bingung
“ Sa Cinta Ko “ teriak
Yoku dari kejauhan
“ Apa?” ujar Gendis
yang juga ikut berteriak
Yoku sempat diam
sesaat, namun matanya mengarah ke sebuah papan reklame dekat kedai kopi tempat
ia berteduh, dan setelah melihat tulisan di papan reklame tersebut, Yoku
kembali berteriak
“ Saya Tresno Karo Kowe
“ teriak Yoku kembali
Mendengar perkataan
Yoku seperti itu, sontak Gendis langsung berlari menuju Yoku, dan saat Gendis
berada tepat di hadapan Yoku, secara tiba-tiba Yoku langsung memeluk erat tubuh
mungil Gendis.
“ saya cinta kamu “
ujar yoku sambil memeluk Gendis
“ Aku tau itu, oh..ya
tadi kalimat yang pertama kamu katakan, itu bahasa apa, kog aku ga pernah dengar
ya”
“ Maksud kamu Sa Cinta
Ko?
“ Iya, itu apa
maksudnya?”
“ Itu bahasa Papua, yang artinya saya cinta
kamu “
“ Oh gitu, terus kamu
kenapa ngucapin untuk yang kedua kalinya dalam bahasa Yogya? kamu tau dari
mana?”
“ Saya tau dari situ “
ujar Yoku sambil menunjuk ke sebuah papan reklame
“ hahahhaha..” ujar
Gendis yang tertawa
Dan Gendis pun tertawa saat melihat papan reklame untuk pertunjukan ketoprak yang ditunjuk oleh Yoku.
“ Lho, kamu kenapa
ketawa? memang ada yang lucu?”
“ Ga apa-apa kog, “
ujar Gendis sambil menahan tawa
“ Ehmm.. yasudah kalau begitu kamu sekarang mau saya antar?” tanya
Yoku kembali
“ Iya aku mau “ ujar
Gendis sambil mengangguk
Semenjak
pertemuan itu, hubungan Gendis dengan Yoku kian hari semakin dekat. Hubungan
mereka bukan lagi sekedar teman biasa, melainkan lebih dari itu. Rupanya hasrat
cinta masih melekat di hati Gendis dan juga Yoku, dan pertemuan itu seolah
mengobarkan kembali api cinta diantara mereka. Hari demi hari mereka menjalin
sebuah cinta yang terdengar klise bagi orang lain, terlebih lagi bila mereka
sedang pergi bersama dan terdengar suara adzan berkumandang , pastilah saat itu
juga Gendis meminta Yoku untuk menemaninya ke musalla, tempat dimana Gendis
bersujud menyembah Sang Maha Kuasa. Sementara itu, Yoku yang berkalung salib
sangat setia menunggu Gendis keluar dari musalla. Namun ketika Gendis dan juga
para jamaah yang lainnya keluar dari musalla, sering kali para jamaah itu berbisik-bisik
menyudutkan Gendis.
“ Keturunan ningrat kog
ya pacarannya sama orang kafir, kayak ndak
ada laki-laki yang lain aja yo”
Begitulah
mereka berkata dengan logat Jawanya yang kental. Namun, kata-kata yang
dilontarkan oleh para jamaah itu justru semakin membuat Gendis mempertahankan hubungannya
dengan Yoku.
Segala rintangan dan hambatan telah
dilalui bersama oleh Gendis dan juga Yoku selama 12 bulan. Namun sayang, nampaknya hubungan yang selama
ini diperjuangkan, seakan menyeret Gendis ke dalam sebuah ketakutan yang selama
ini dirisaukan olehnya. Yah, keimanan yang dianut oleh Yoku adalah hal yang
membuat Gendis tidak bisa bersama
dengan Yoku secara utuh, dan itu
alasan dari segala ketakutan yang terus berotasi di benak Gendis.
“
Kita sudah melewati jutaan detik, aku khawatir jika kita ga bisa melewati lebih
dari itu “ ujar Gendis sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Yoku
“ Mengapa kamu mengkhwatirkan sesuatu hal yang
hanya berlandaskan jika?” tanya Yoku
“
Entahlah, mungkin karena rasa khawatir inilah yang membuat aku bertahan hingga
sejauh ini”
“
Tapi bukankah khawatiranmu itu tidak terjadi?”
“
Bukannya tidak terjadi, tapi belum terjadi saja, dan itu yang membuat aku
semakin takut kehilangan dirimu “
“
Rasa takutmu itu hanya akan melukai hatimu saja, tenanglah saya terlahir ke
dunia ini hanya untukmu, apakah itu belum cukup untuk menghilangkan rasa
takutmu?”
“
Mungkin kamu memang terlahir untukku, namun apakah kamu dan aku ditakdirkan
untuk bersama?”
“
Saya tidak bisa meramalkan takdir, tapi saya yakin Tuhan tahu yang terbaik
untuk kita,” ujar Yoku sambil mengenggam erat jemari Gendis
“
Oh ya, nanti malam datang ke rumah aku ya, soalnya aku ingin ibu tahu tentang
hubungan kita”
“
Saya janji akan datang ”
Pukul 7 malam Yoku sudah menampakkan
dirinya di hadapan Gendis dan juga Ibu Gendis. Yoku yang kala itu mengenakan
setelan tuxedo tampak begitu gagah ketika menyapa Ibu Gendis. Awalnya,
percakapan antara Ibu Gendis dan Yoku berjalan dengan sangat baik, terlebih
lagi sikap ramah yang ditunjukkan oleh
Ibu Gendis terhadap Yoku membuat rasa ragu di hati Gendis akan hubungannya
perlahan mulai pudar. Namun sayang, sikap ramah yang ditunjukkan oleh Ibu
Gendis mendadak berubah ketika ia melihat kalung salib melingkar di leher Yoku.
Bahkan raut wajahnya pun berubah seperti
api amarah yang segera ingin
disemburkan ke putri satu-satunya itu. Dan secara tiba-tiba saja dia menarik
tangan Gendis dan memaksa Gendis untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa
memperdulikan Yoku.
“
Kamu toh kenapa ndak bilang ke ibu kalau pria itu bukan muslim, kamu tahu kan kalau
keluarga kita berdarah ningrat dan almarhum bapakmu itu juga seorang kiyai,
lalu mau taruh dimana muka Ibu kalau kamu sampai menikah dengan orang yang
berlainan agama!” ujarnya dengan suara yang lantang
“
Walau kita menganut agama yang berbeda, tapi Tuhan itu kan tetap satu bu “ ujar
Gendis dengan suara yang getir
“
Pakai akal sehatmu Gendis, bagaimana bisa anak seorang kiyai bisa menikah
dengan orang kafir seperti Itu! “
“
Yoku bukan kafir bu! “ ujar Gendis dengan lantang
“ Gendis!! “ bentak Ibu Gendis sambil
mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Gendis.
Mendengar
perdebatan hebat dari dalam, Yoku mendadak masuk untuk melihat kejadian yang
sebenarnya.
“
Maaf bu, bukan maksud saya untuk
lancang, tapi tak sepantasnya seorang Ibu menampar wajah putrinya” ujar Yoku
“
Saya tidak butuh nasihat dari kamu, saya harap mulai sekarang dan seterusnya
kamu jauhi anak saya, dan sekarang juga saya minta kamu untuk angkat kaki dari
rumah saya “
“
Baik kalau itu yang Ibu mau, saya janji tidak akan berhubungan lagi dengan
Gendis “ ujar Yoku
“
Yoku, kamu tidak benar-benar melakukan itu kan Yoku?” tanya Gendis sambil
menahan tangisnya
“
Maaf Gendis saya harus melakukannya, ini
adalah yang terbaik untuk kita, dan saya juga berterima kasih kepada Ibu karena
sudah mau menerima kedatangan saya pada malam hari ini” ujar Yoku
“
Yoku! “ teriak Gendis
Yoku
pergi meninggalkan Gendis, bahkan dia pun tidak menoleh saat Gendis memanggil
namanya. Gendis berusaha untuk mengejar Yoku, namun perempuan yang tadi
menampar Gendis justru menghalanginya.
2011, Desember 12
“ Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku
“
Eh kamu udah bangun ya, maaf ya aku udah
lancang masuk ke rumah kamu, soalnya pintu rumah kamu ga dikunci sih, jadi aku
langsung masuk aja deh. Oh ya, karena sekarang Desember 12 jadi aku buatin kamu
sarapan pagi ya, kamu mau makan apa pagi ini?”
“
Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku kembali
“
Aku kabur dari rumah, makanya aku kesini “
“
Kamu harus pulang Gendis! “
“
aku ga mau pulang, aku mau disini sama kamu! “
“
Gendis sadarlah bahwa keimanan kita berbeda, kita memang tidak akan pernah bisa
untuk bersama “
“
Kalau gitu kita tinggal di luar negeri saja, aku punya cukup uang kog, kamu mau
kemana? Ke Belanda? atau ke Jepang, disana kita bisa menikah dan tetap bisa
menganut agama kita “
“
Gendis sadarlah! ini memang yang terbaik untuk kita, kamu akan bahagia jika
kamu tidak bersama dengan saya “ ujar Yoku dengan tegas
“
Tapi aku hanya ingin bahagia bersama denganmu, aku tak perduli dengan perkataan
orang lain tentang kita, yang aku inginkan adalah bersamamu, menikah denganmu!
“ ujar Gendis dengan suara yang lantang
“
Tapi saya tidak ingin menikah dengan wanita yang berlainan agama !! “ bentak
Yoku
“
aku ga nyangka kamu mengatakan itu “ ujar Gendis sambil beranjak pergi
“
Gendis tunggu !"
Yoku
berlari mengejar Gendis, tapi Gendis seakan menghiraukannya. Namun ketika Yoku
sampai di persimpangan jalan dan berteriak memanggil Gendis berkali-kali,
barulah Gendis menolehkan wajahnya ke belakang. Akan tetapi sungguh naas nasib lelaki berbadan tegap itu,
ketika ia hendak menghampiri pujaan hatinya yang berada di ujung jalan ,
tiba-tiba saja sebuah truk berbadan besar menabraknya hingga menyebabkannya
terhempas. Terlihat di keningnya darah mengucur, bibirnya pun sangat pucat kala
itu, sontak Gendis langsung berlari kearah lelaki itu.
“
Yoku kamu harus bertahan! Kamu ga boleh meninggalkan aku sendiri! “ ujar Gendis
sambil menangis
“
Kita pasti akan berjumpa lagi “ ujar Yoku sambil mengenggam tangan Gendis
Perlahan
kelopak mata Yoku mulai tertutup, namun entah mengapa kala itu ia meninggalkan
sebuah senyum di wajahnya.
“
Yoku !! “ teriak Gendis
Satu tahun kemudian….
2012,
Desember 12
Ditatapnya wajah pria itu melalui
bingkai foto yang ia pegang. Awalnya sebuah senyum terpancar di wajahnya, namun
lambat laun butiran air mulai mengalir dari bola matanya, dan bila ada yang
mencoba mengambil bingkai foto itu, maka ia akan menjerit histeris. Tidak hanya
itu, dia juga sering kali berbicara kepada bingkai foto itu, seolah pria yang ada di bingkai foto yang ia pegang
tersebut hidup.
“
Yoku kita pasti nikah kan?” ujar Gendis sambil memeluk bingkai foto Yoku
TAMAT