....Aku tak tau kapan
perasaan suka ini bertransformasi menjadi perasaan suka yang amat dalam, tapi
yang jelas cinta ini bukan cinta yang berlandaskan hasrat sesaat, bukan juga
cinta yang meledak-ledak yang harus padam pada akhirnya, tapi cinta ini adalah
cinta yang terbalut dalam kerendahan hati....
Begitulah sepenggal kalimat dari
surat cintaku untuk lelaki bernama lengkap Faris Faishal. Iya pria berhidung
mancung dengan bibir semerah hibiscus
ini telah berhasil membuat ledakan-ledakan
ajaib di lembah hatiku, bahkan namanya tak pernah absen
dalam setiap doa yang kupanjatkan. Ah.. sejenak kurangkai khayalku bersamanya,
namun baru sebentar aku mencicipi khayalku, tiba-tiba saja seseorang yang entah
siapa menepuk bahuku dengan kencang dan berhasil membuat lamunanku buyar. Vera,
dialah orang yang melakukannya.
“
Ya ampun.. jadi sahabat aku yang jomblo
ini lagi falling
in love nih,
sama siapa sih Nay? “ ujar Vera menggodaku
“ Kepoo.. yaudah yuk kita ke kantin sekalian aku mau masukin surat ini
ke kotak
cinta “ ujarku tersernyum malu
***
Satu minggu sudah berlalu, namun tampaknya sosok yang
kucintai belum juga memberi tanda-tanda kepadaku, tapi aku yakin bahwa Faris
pasti sudah menerima kertas yang berisikan untaian kata itu. Kulihat jam
tanganku menunjukkan pukul 12.20 pertanda bahwa istirahat akan berakhir. Aku
yang tak ditemani oleh Vera memutuskan untuk segera ke kelas, karena sebentar
lagi akan ada pelajaran yang cukup menguras energi, yaitu fisika. Beruntung
saat tiba di kelas aku belum melihat guru yang dikenal killer itu, jadi aku masih bisa bernafas dengan lega, tapi
sesampainya aku di kelas aku melihat amplop biru tergeletak di meja Faris, iya
amplop biru itu adalah surat cinta yang kutuliskan
untuknya. Sejenak aku terdiam, bertanya dalam hati mengapa amplop biru tersebut
masih tertutup rapi, tapi belum sempat aku menanyakan hal tersebut ke Faris,
tiba-tiba saja aroma parfum yang menyengat langsung mengheningkan suasana
bingar di kelas, iya aroma parfum tersebut sudah pasti aroma parfum milik Bu
Dina, guru fisikaku. Selama pelajaran berlangsung seluruh sel-sel impuls di
otakku terus dibius oleh sejumlah pertanyaan. Mengapa dia tidak membukanya? apakah Faris sudah tau
siapa pengirimnya? atau
jangan-jangan dia tau kalau aku suka dia. Ah.. semua pertanyaan itu benar-benar
mengusikku, tapi syukurlah bel pulang melenyapkan semua pertanyaan gila itu.
Satu persatu temanku
sudah pergi meninggalkan kelas ini, tapi tidak dengan Faris. Iya lelaki
berbadan tegap itu justru menghampiriku dan kini berdiri persis di hadapanku.
“ Ehm Nayla.. aku bisa bicara sebentar
ga? “
“ Bisa.. bisa banget kok, oh iya..
suratnya udah kamu
baca belum? “
“ Surat?? surat apa ya? “ tanyanya
dengan raut wajah bingung
“ Surat di amplop biru itu “
“ Oh itu, ehm.. kayaknya aku tinggalin di kolong
meja deh, ah tapi yaudahlah paling juga isinya ga penting “
“ Ga penting? tapi kan kamu belum tau siapa pengirimnya?
“ tanyaku menyelidik
“
Ya aku
ga tau sih siapa pengirimnya, tapi emangnya kenapa sih kok daritadi kamu nanyain surat itu
terus? “
“ Oh ga kenapa-kenapa, eh ya tadi aku mau bicara apa ris? “
“ Ehm.. jadi gini Nay sebenarnya
hari ini aku
mau nyatain cinta ke Vera,
masalahnya
hari ini Veranya ga masuk, nah.. kamu
kan sahabatnya Vera jadi tolong
bilangin
ke dia ya kalau Sabtu ini aku
ngajak dia kencan, soalnya ga tau kenapa Vera kayaknya selalu
ngehindar gitu deh,
ehm.. kamu mau bantu aku kan Nay? “
Sejenak
aku terdiam dan entah mengapa bibirku saat itu terasa kelu, aku tak tau
perasaan apa yang kini melandaku, tapi rasanya sakit, sakit sekali seperti
terhantam oleh batu karang yang besar. Aku juga tak mengerti mengapa bolamataku
menggelindingkan butiran air yang sangat banyak, mungkin jumlahnya milyaran,
ah.. entahlah tapi yang jelas untuk beberapa saat aku masih mematung bagai
manusia yang tak bernyawa hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi
meninggalkannya
***
Kulihat
sesosok makhluk Tuhan dengan struktur wajah yang nyaris sempurna membuka pintu,
menatapku dengan tatapan teduh, dan dalam beberapa detik saat itu kunikmati
sorot matanya yang teduh.
“
Nayla.. kamu ngapain di rumah aku? “
“
Ehm.. aku mau bicara sebentar sama kamu, tapi bukan disini “
“
Yaudah gimana kalau kita ke taman dekat sini aja “
Sabtu
sore di taman itu benar-benar cukup indah, wajah langit juga tampak cerah ceria
dan banyak pasangan remaja yang kulihat sedang merajut cinta di taman itu, tapi
sayangnya aku datang kesini bukan untuk itu dengan Faris melainkan untuk
sesuatu yang lebih penting.
“ Oh
ya Nay, kamu udah bilang ke Vera kalau malam ini aku mau ngajak dia kencan? “
ujarnya sambil mencoba untuk duduk di salah satu bangku taman
“
Udah kok, dan dia bilang dia tunggu kamu di kafe jam 7 malam “ ujarku seraya
ikut duduk disampingnya
“
Makasih banget ya Nay kamu udah mau bantuin aku, oh ya Nay tadi kamu mau bicara
apa ya? “
“ Aku
mau bicara tentang surat di amplop biru itu, ehm.. sebenarnya surat itu adalah surat cintaku
untuk kamu, tapi kamu malah ga baca dan justru ninggalin di kolong meja,
ehm..awalnya aku marah sama kamu karena kamu ga baca surat itu dan yang lebih
parah lagi kamu suka sama Vera, tapi ternyata setelah aku pikir-pikir ternyata
ga seharusnya aku marah, karena aku ga punya hak untuk itu dan hari ini aku mau
bilang sama kamu, kalau aku cinta sama kamu “
“
Tapi kan aku… “
“ Aku
tau kamu suka sama Vera, dan kamu juga ga harus jawab cinta aku kok, aku juga
ga peduli kalau aku harus kembali lagi menyandang predikat sebagai jomblowati,
karena menurut aku, bisa mencintaimu adalah salah satu anugrah terindah dari
Tuhan untuk aku “
“
Maaf ya Nay aku ga tau kalau ternyata surat di amplop biru itu adalah surat
cinta dari kamu, tapi aku yakin kamu pasti dapat pria yang jauh lebih baik dari
aku “ ujarnya seraya mengenggam hangat kedua telapak tanganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar