Sebenarnya
apakah harapan itu ? bukankah ia tidak berwujud, disentuh pun juga tak bisa,
lalu mengapa masih banyak milyaran makhluk Tuhan dibumi ini yang sanggup
bertahan hidup hanya dengan sebuah harapan ? Pernah ada yang bilang padaku
bahwa harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, hanya ilusi, hanya sebuah fiksi manis pengantar lelap,
namun bila harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, lantas mengapa kita
selalu merangkainya menjadi sebuah impian dan justru menjadikannya semakin
sempurna? Apakah karena ada sensasi magis saat merangkainya menjadi sebuah
impian bisa dijadikan sebagai alasan untuk mempertahankan harapan itu? Ataukah
karena ada seseorang yang spesial di dalamnya, membuat harapan tersebut menjadi
pantas untuk kita perjuangkan? Entahlah, aku sendiri tak pernah punya jawaban yang
pasti untuk serentetan pertanyaan itu, tapi seseorang yang telah lama hilang
dari kehidupanku pernah mengajariku tentang sebuah harapan. Setiap kata yang
terlontar dari mulutnya terasa begitu sempurna di telingaku, ia bercerita
banyak tentang harapan, memberi bius kepadaku dengan kata-katanya. Dia
menjadikan harapan itu terasa begitu dekat tanpa pernah bilang bahwa ternyata
ada begitu banyak sekat diantara sela-sela harapan itu. Dia telah berhasil
memberi nyawa dari setiap perkataannya, hingga membuat perkataannya hidup dan
menjadi sebuah harapan baru untukku. Dia bilang, sebuah harapan akan terwujud
nyata bila kita mempertahankannya, dan aku yang sangat polos kala itu dengan
mudahnya percaya. Ya, setelah dia berkata bahwa harapan harus dipertahankan,
aku terus mempertahankan harapan yang ku punya dan justru semakin merangkainya
menjadi sebuah impian yang sangat sempurna, jauh lebih sempurna dari segala
kata-katanya tentang harapan. Dan kuakui harapan itu memang pernah begitu dekat dari
jangkauanku, membuatku ku nyaris
mendapatkannya, namun aku tak tahu bila pada akhirnya ada begitu bayak sekat di
antara sela-sela harapan itu, membuatku sulit untuk menggapainya dan ternyata
salah satu dari banyaknya sekat itu
adalah dia yang telah mengajariku tentang harapan. Dia yang menjadi fondasi
dari harapanku justru dia pula lah yang diam-diam menghancurkannya. Namun
walaupun sudah dihancurkan, bukan berarti harapanku telah hilang begitu saja, tentu
masih ada meskipun harus memungutnya dari puing-puing harapan yang telah hancur
itu. Dari serpihan harapan itu aku kembali merangkainya menjadi sebuah impian
yang sama sempurnanya seperti dulu, tapi dengan sebuah fondasi yang jauh lebih
kuat, yaitu ambisi dan setelah ku pikir-pikir sebenarnya yang menghancurkan
sebuah harapan ialah bukan dia yang menjadi sekat, tapi diri kita sendirilah
yang menghancurkannya, itu karena kita terlalu merangkai sempurna harapan tanpa
pernah tau cara mewujudkannya.
Tulisan ini kubuat bukan untuk
membuat kalian yang membacanya menjadi berhenti berharap, namun hanya mengingatkan kembali bahwa harapan tidak
cukup dengan sekedar berharap saja, melainkan harus diiringi dengan kemampuan untuk mewujudkannya dan tulisan ini
juga kubuat sebagai tanda terimakasihku kepadamu yang telah mengajariku tentang
sebuah harapan.
Spesial untuk (mantan) sahabatku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar