Minggu, 25 Januari 2015

Harapan



       Sebenarnya apakah harapan itu ? bukankah ia tidak berwujud, disentuh pun juga tak bisa, lalu mengapa masih banyak milyaran makhluk Tuhan dibumi ini yang sanggup bertahan hidup hanya dengan sebuah harapan ? Pernah ada yang bilang padaku bahwa harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, hanya ilusi,  hanya sebuah fiksi manis pengantar lelap, namun bila harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, lantas mengapa kita selalu merangkainya menjadi sebuah impian dan justru menjadikannya semakin sempurna? Apakah karena ada sensasi magis saat merangkainya menjadi sebuah impian bisa dijadikan sebagai alasan untuk mempertahankan harapan itu? Ataukah karena ada seseorang yang spesial di dalamnya, membuat harapan tersebut menjadi pantas untuk kita perjuangkan? Entahlah, aku sendiri tak pernah punya jawaban yang pasti untuk serentetan pertanyaan itu, tapi seseorang yang telah lama hilang dari kehidupanku pernah mengajariku tentang sebuah harapan. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya terasa begitu sempurna di telingaku, ia bercerita banyak tentang harapan, memberi bius kepadaku dengan kata-katanya. Dia menjadikan harapan itu terasa begitu dekat tanpa pernah bilang bahwa ternyata ada begitu banyak sekat diantara sela-sela harapan itu. Dia telah berhasil memberi nyawa dari setiap perkataannya, hingga membuat perkataannya hidup dan menjadi sebuah harapan baru untukku. Dia bilang, sebuah harapan akan terwujud nyata bila kita mempertahankannya, dan aku yang sangat polos kala itu dengan mudahnya percaya. Ya, setelah dia berkata bahwa harapan harus dipertahankan, aku terus mempertahankan harapan yang ku punya dan justru semakin merangkainya menjadi sebuah impian yang sangat sempurna, jauh lebih sempurna dari segala kata-katanya tentang harapan. Dan kuakui harapan itu memang pernah begitu dekat dari jangkauanku, membuatku ku  nyaris mendapatkannya, namun aku tak tahu bila pada akhirnya ada begitu bayak sekat di antara sela-sela harapan itu, membuatku sulit untuk menggapainya dan ternyata salah satu  dari banyaknya sekat itu adalah dia yang telah mengajariku tentang harapan. Dia yang menjadi fondasi dari harapanku justru dia pula lah yang diam-diam menghancurkannya. Namun walaupun sudah dihancurkan, bukan berarti harapanku telah hilang begitu saja, tentu masih ada meskipun harus memungutnya dari puing-puing harapan yang telah hancur itu. Dari serpihan harapan itu aku kembali merangkainya menjadi sebuah impian yang sama sempurnanya seperti dulu, tapi dengan sebuah fondasi yang jauh lebih kuat, yaitu ambisi dan setelah ku pikir-pikir sebenarnya yang menghancurkan sebuah harapan ialah bukan dia yang menjadi sekat, tapi diri kita sendirilah yang menghancurkannya, itu karena kita terlalu merangkai sempurna harapan tanpa pernah tau cara mewujudkannya.
            Tulisan ini kubuat bukan untuk membuat kalian yang membacanya menjadi berhenti berharap, namun hanya mengingatkan kembali bahwa harapan tidak cukup dengan sekedar berharap saja, melainkan harus diiringi dengan kemampuan untuk mewujudkannya dan tulisan ini juga kubuat sebagai tanda terimakasihku kepadamu yang telah mengajariku tentang sebuah harapan.
Spesial untuk (mantan) sahabatku

Tidak ada komentar: