Kamis, 30 Juli 2015

Rio Sang Pendongeng Cilik



            Rio Sang Pendongeng Cilik
        Oleh : Nola Dewanti
            “ Lalu Tuan Brokolito berhasil menyelamatkan Nona Apelia dan mereka pun kembali menjadi sahabat seperti dulu “ ujar Rio mengakhiri dongengnya seraya mencium kening adiknya yang sedang tertidur pulas.
            Ini sudah menjadi kebiasaan Rio untuk menceritakan sebuah dongeng kepada adiknya sebelum tidur. Biasanya hal ini dilakukan oleh Ayahnya, tapi semenjak Ayahnya meninggal, Rio lah yang bertugas untuk mendongeng. Namun seringkali ketika Rio menceritakan dongeng kepada adiknya, ia justru mengingat masa-masa dimana Ayahnya hidup dulu dan hal ini membuat Rio merasa sedih.
            Dan keesokan harinya ketika jam istirahat tiba seluruh siswa di kelas Rio heboh membicarakan tentang lomba Tunjukan Bakatmu yang akan diselenggarakan minggu depan, tapi Rio sendiri enggan untuk ikut ke acara tersebut.
            “ Rio nanti kamu akan menunjukan bakat apa untuk acara minggu depan? “ tanya Dimas kepada Rio
            Ah, aku malas ikut acara tersebut! “
            Lho! acara tersebut kan wajib diikuti oleh siswa kelas IV, apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Bu Sarah tadi? “
            “ Iya sih! tapi masalahnya aku tidak tahu bakat apa yang akan aku tampilkan, memangnya kamu akan menampilkan apa Dimas? “
            “ Kalau aku sih menyanyi, nanti aku akan menyanyikan lagu Bunda untuk Ibuku “
            Wah! pasti Ibumu sangat bangga padamu, tapi aku rasa aku tidak punya bakat apa-apa deh Dimas, kalaupun menyanyi aku juga tidak bisa, aku kan tidak suka menyanyi “ ujar Rio tidak bersemangat
            “ Aku yakin kamu pasti punya bakat Rio, hanya saja kamu tidak menyadarinya, coba kamu ingat-ingat hal apa yang paling kamu gemari? “ tanya Dimas dengan semangat
            Ehm..??” Sejenak Rio berfikir
            “ Mendongeng, aku senang sekali mendongeng untuk adikku! “ seru Rio
            Nah! Berarti kamu sudah tahu bakat kamu apa, tinggal kamu berlatih deh!
            “ Kalau begitu terimakasih ya Dimas karena telah menyemangatiku untuk ikut acara tersebut “ ujar Rio sumringah
            Rio yang awalnya tidak tertarik untuk ikut ke acara tersebut akhirnya menjadi sangat bersemangat sekali, ia pun terus berlatih dan berlatih agar bisa menampilkan yang terbaik untuk acara tersebut. Namun Ibu Rio justru tidak bisa hadir untuk menyaksikan penampilan Rio di acara tersebut, lantaran  ada urusan pekerjaan , padahal Rio sangat berharap sekali agar Ibunya bisa hadir untuk menyaksikan bakatnya di atas panggung nanti, dan hal ini membuat Rio sangat kecewa bahkan hingga acara Tunjukan Bakatmu berlangsung Rio masih saja terlihat murung.
            “ Ini dia kita sambut peserta berikutnya Rio dari kelas IVB!! ” ujar Bu Sarah  yang diikuti dengan tepuk tangan meriah dari para penonton
            Rio melangkah menuju ke atas panggung, namun ketika Rio sudah diatas panggung entah mengapa mulutnya seakan tidak bisa bergerak, terlihat ada raut kekecewaan di wajah Rio saat itu.
            “ Rio ayo mulai!! “ ujar Bu Sarah dengan suara yang rendah
            Tapi Rio tidak menanggapi perkataan Bu Sarah, ia tetap diam di atas panggung dan perlahan ada tetes air mata yang mengalir di kedua bolamata Rio.
            “ Rio ingin ibu ada disini “ pinta Rio dalam hati
            “ Rio kamu pasti bisa! “
            Terdengar ada suara seorang wanita dari kejauhan dan perlahan Rio menyadari bahwa suara tersebut adalah suara milik Ibunya. Lalu mata Rio langsung tertuju ke arah penonton dan betapa terkejutnya ia, ketika ia berhasil mendapati Ibu serta adiknya yang sedang tersenyum ke arahnya, dan segera saja Rio meyeka air matanya dan ia pun perlahan mulai mendongeng.
“.... Pangeran Bima berhasil menyelamatkan Putri Kejora dari serangan Dewi Elektra, lalu mereka kembali ke istana dan Pangeran Bima serta Putri Kejora pun hidup bahagia untuk selamanya “ ujar Rio mengakhiri dongengnya
            Lalu satu per satu siswa berikutnya pun tampil untuk menunjukkan bakatnya diatas panggung, seperti menyanyi, bermain drum, akting dan lain sebagainya yang banyak menarik perhatian dewan juri serta penonton. Hal ini membuat Rio sedikit khawatir, ia takut penampilannya tadi mengecewakan Ibunya, namun disisi lain Rio masih berharap agar penampilannya tadi memperoleh kemenangan agar bisa membuat bangga Ibunya.
            Setelah semua siswa tampil untuk menunjukkan bakatnya, tibalah waktunya untuk Bu Dewi selaku perwakilan dari dewan juri untuk mengumumkan pemenang lomba Tunjukan Bakatmu.
            “ Baiklah tibalah saatnya untuk saya mengumumkan pemenang dari Lomba Tunjukkan Bakatmu, mohon perhatian sebentar ya Ibu, Bapak serta anak-anakku tercinta! Baik, untuk juara ketiga dimenangkan oleh Kamelia dari kelas IVA dengan bakat aktingnya! dan untuk juara keduanya dimenangkan oleh Bayu dari kelas IVA dengan bakat bermain drumnya! , dan untuk juara satunya adalah....!” ujar Bu Dewi seraya memberi jeda sejenak
             “ Dan juara satunya adalah Dimas dari kelas IVB dengan bakat menyanyinya! “ ujar Bu Dewi yang diiringi oleh tepuk tangan dari para penonton.
            Betapa kecewanya Rio ketika ia mendengar bahwa Dimas lah yang mendapatkan juara satu, namun sebisa mungkin Rio berusaha untuk tidak menangis, dan tak berapa lama kemudian Bu Dewi kembali mengumumkan sesuatu.
            “ Serta ada satu lagi juara untuk Bakat terfavorit yang dimenangkan oleh siswa dari kelas IVB yaitu Rio!! dan untuk para pemenang dimohon untuk naik ke atas panggung agar menerima piagam penghargaan! “ Seru Bu Dewi yang kembali diikuti oleh tepuk tangan meriah dari penonton
            Rio tdak menyangka bahwa ia akhirnya mendapatkan juara dengan bakat mendongengnya tersebut,  lalu dengan wajah yang bahagia ia pun melangkah menuju ka atas panggung, tapi ketika sesampainya di atas panggung tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya
            “ Rio Sang pendongeng Cilk! Ibu sangat bangga padamu !! “ teriak Ibu Rio seraya bertepuk tangan
            Lalu Rio pun tersenyum ke arah Ibunya dan semenjak itu Rio berjanji untuk selalu membuat Ibunya bangga terhadap dirinya.

Delusi



              Kau berlari dan berlari tanpa pernah tahu apa yang kau cari. Kau jatuh dan terjatuh hingga berkali-kali, membuatmu buta akan rasa sakit. Luka itu ada dan perlahan menjalar hingga ke dasar hatimu seraya menggerogoti hatimu seperti predator yang siap mencabik mangsanya. Kau tak peduli, tepatnya kau tak mau tahu tentang itu. Kau pura-pura tidak tahu tentang luka itu, dan bodohnya kau justru berlari dengan membawa luka itu. Sementara rasa cemas, takut, khawatir semakin menyiksa batinmu. Terus menerus kau mengkhawatirkan kemungkinan yang belum terjadi. Rasa takutmu seperti hantu yang mengejarmu dari belakang. Tak ada arah atau navigator yang kau genggam, kau hanya berlari tanpa tujuan, mencari sesuatu yang selama ini tak pernah ada. Betapa menyedihkannya melihatmu seperti itu, berbahagia seakan tak pernah ada luka yang kau peram. Kau ciptakan delusi dari rasa sakitmu, seakan ada banyak cinta yang menghampirimu padahal jelas-jelas kesendirian tergurat nyata di parasmu. Tatapan kasihan mulai kau lihat dari mata mereka, berbisik-bisik membicarakan dirimu dengan gelak tawa yang tak pernah kau mengerti maksudnya apa. Sejenak kau terhenti, kau melihat tatapan mereka, tatapan kasihan itu kini persis di hadapmu. Mereka yang melihatmu dengan tatapan kasihan membuatmu seperti melihat iblis yang siap menghujam dirimu kapan saja. Entah mengapa seluruh persendian, saraf dan oraganmu seakan kaku tak bergerak. Kau diam dengan tanya yang membelenggu dirimu. Ada tanya yang belum memiliki jawaban sementara kini kau lihat denga kedua bolamatamu sendiri bahwa ada luka yang selama ini kau tutupi. Kau tak pernah tahu bahwa ada luka yang selama ini sudah telanjur membusuk di hatimu. Selama ini kau sengaja tak mau menyembuhkan lukanya, kau pura-pura tidak melihat luka itu sementara luka yang busuk itu telah bertransformasi menjadi virus untuk hatimu. Kini luka itu tak lagi membuatmu perih tapi kebenaran bawa ada luka yang selama ini kau simpan mengajarkanmu akan rasa sedih. Rasa sedih yang selama ini kau delusikan jadi cinta sekarang semakin memperjelas betapa bodoh dan menyedihkannya dirimu.