Selasa, 03 Februari 2015

Surat Cinta Nayla



....Aku tak tau kapan perasaan suka ini bertransformasi menjadi perasaan suka yang amat dalam, tapi yang jelas cinta ini bukan cinta yang berlandaskan hasrat sesaat, bukan juga cinta yang meledak-ledak yang harus padam pada akhirnya, tapi cinta ini adalah cinta yang terbalut dalam kerendahan hati....
            Begitulah sepenggal kalimat dari surat cintaku untuk lelaki bernama lengkap Faris Faishal. Iya pria berhidung mancung dengan bibir semerah hibiscus ini telah berhasil membuat ledakan-ledakan ajaib di lembah hatiku, bahkan namanya tak pernah absen dalam setiap doa yang kupanjatkan. Ah.. sejenak kurangkai khayalku bersamanya, namun baru sebentar aku mencicipi khayalku, tiba-tiba saja seseorang yang entah siapa menepuk bahuku dengan kencang dan berhasil membuat lamunanku buyar. Vera, dialah orang yang melakukannya.
            “ Ya ampun.. jadi sahabat aku yang jomblo ini lagi falling in love nih, sama siapa sih Nay? “ ujar Vera menggodaku
            Kepoo.. yaudah yuk kita ke kantin sekalian aku mau masukin surat ini ke kotak cinta “ ujarku tersernyum malu
***
            Satu minggu sudah berlalu, namun tampaknya sosok yang kucintai belum juga memberi tanda-tanda kepadaku, tapi aku yakin bahwa Faris pasti sudah menerima kertas yang berisikan untaian kata itu. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 12.20 pertanda bahwa istirahat akan berakhir. Aku yang tak ditemani oleh Vera memutuskan untuk segera ke kelas, karena sebentar lagi akan ada pelajaran yang cukup menguras energi, yaitu fisika. Beruntung saat tiba di kelas aku belum melihat guru yang dikenal killer itu, jadi aku masih bisa bernafas dengan lega, tapi sesampainya aku di kelas aku melihat amplop biru tergeletak di meja Faris, iya amplop biru itu adalah surat cinta yang kutuliskan untuknya. Sejenak aku terdiam, bertanya dalam hati mengapa amplop biru tersebut masih tertutup rapi, tapi belum sempat aku menanyakan hal tersebut ke Faris, tiba-tiba saja aroma parfum yang menyengat langsung mengheningkan suasana bingar di kelas, iya aroma parfum tersebut sudah pasti aroma parfum milik Bu Dina, guru fisikaku. Selama pelajaran berlangsung seluruh sel-sel impuls di otakku terus dibius oleh sejumlah pertanyaan. Mengapa dia tidak membukanya? apakah Faris sudah tau siapa pengirimnya? atau jangan-jangan dia tau kalau aku suka dia. Ah.. semua pertanyaan itu benar-benar mengusikku, tapi syukurlah bel pulang melenyapkan semua pertanyaan gila itu. Satu persatu temanku sudah pergi meninggalkan kelas ini, tapi tidak dengan Faris. Iya lelaki berbadan tegap itu justru menghampiriku dan kini berdiri persis di hadapanku.
            “ Ehm Nayla.. aku bisa bicara sebentar ga? “
            “ Bisa.. bisa banget kok, oh iya.. suratnya udah kamu baca belum? “
            “ Surat?? surat apa ya? “ tanyanya dengan raut wajah bingung
            “ Surat di amplop biru itu “
            “ Oh itu, ehm.. kayaknya aku tinggalin di kolong meja deh, ah tapi yaudahlah paling juga isinya ga penting “
            “ Ga penting? tapi kan kamu belum tau siapa pengirimnya? “ tanyaku menyelidik
              Ya aku ga tau sih siapa pengirimnya, tapi emangnya kenapa sih kok daritadi kamu nanyain surat itu terus? “
            “ Oh ga kenapa-kenapa, eh ya tadi aku mau bicara apa ris? “
            “ Ehm.. jadi gini Nay sebenarnya hari ini aku mau nyatain cinta ke Vera, masalahnya hari ini Veranya ga masuk, nah.. kamu kan sahabatnya Vera jadi tolong bilangin ke dia ya kalau Sabtu ini aku ngajak dia kencan, soalnya ga tau kenapa Vera kayaknya selalu ngehindar gitu deh, ehm.. kamu mau bantu aku kan Nay? “
            Sejenak aku terdiam dan entah mengapa bibirku saat itu terasa kelu, aku tak tau perasaan apa yang kini melandaku, tapi rasanya sakit, sakit sekali seperti terhantam oleh batu karang yang besar. Aku juga tak mengerti mengapa bolamataku menggelindingkan butiran air yang sangat banyak, mungkin jumlahnya milyaran, ah.. entahlah tapi yang jelas untuk beberapa saat aku masih mematung bagai manusia yang tak bernyawa hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkannya
***
            Kulihat sesosok makhluk Tuhan dengan struktur wajah yang nyaris sempurna membuka pintu, menatapku dengan tatapan teduh, dan dalam beberapa detik saat itu kunikmati sorot matanya yang teduh.
            “ Nayla.. kamu ngapain di rumah aku? “
            “ Ehm.. aku mau bicara sebentar sama kamu, tapi bukan disini “
            “ Yaudah gimana kalau kita ke taman dekat sini aja “
            Sabtu sore di taman itu benar-benar cukup indah, wajah langit juga tampak cerah ceria dan banyak pasangan remaja yang kulihat sedang merajut cinta di taman itu, tapi sayangnya aku datang kesini bukan untuk itu dengan Faris melainkan untuk sesuatu yang lebih penting.
            “ Oh ya Nay, kamu udah bilang ke Vera kalau malam ini aku mau ngajak dia kencan? “ ujarnya sambil mencoba untuk duduk di salah satu bangku taman
            “ Udah kok, dan dia bilang dia tunggu kamu di kafe jam 7 malam “ ujarku seraya ikut duduk disampingnya
            “ Makasih banget ya Nay kamu udah mau bantuin aku, oh ya Nay tadi kamu mau bicara apa ya? “
            “ Aku mau bicara tentang surat di amplop biru itu, ehm..  sebenarnya surat itu adalah surat cintaku untuk kamu, tapi kamu malah ga baca dan justru ninggalin di kolong meja, ehm..awalnya aku marah sama kamu karena kamu ga baca surat itu dan yang lebih parah lagi kamu suka sama Vera, tapi ternyata setelah aku pikir-pikir ternyata ga seharusnya aku marah, karena aku ga punya hak untuk itu dan hari ini aku mau bilang sama kamu, kalau aku cinta sama kamu “
            “ Tapi kan aku… “
            “ Aku tau kamu suka sama Vera, dan kamu juga ga harus jawab cinta aku kok, aku juga ga peduli kalau aku harus kembali lagi menyandang predikat sebagai jomblowati, karena menurut aku, bisa mencintaimu adalah salah satu anugrah terindah dari Tuhan untuk aku “
            “ Maaf ya Nay aku ga tau kalau ternyata surat di amplop biru itu adalah surat cinta dari kamu, tapi aku yakin kamu pasti dapat pria yang jauh lebih baik dari aku “ ujarnya seraya mengenggam hangat kedua telapak tanganku.

Minggu, 25 Januari 2015

Harapan



       Sebenarnya apakah harapan itu ? bukankah ia tidak berwujud, disentuh pun juga tak bisa, lalu mengapa masih banyak milyaran makhluk Tuhan dibumi ini yang sanggup bertahan hidup hanya dengan sebuah harapan ? Pernah ada yang bilang padaku bahwa harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, hanya ilusi,  hanya sebuah fiksi manis pengantar lelap, namun bila harapan itu adalah sesuatu yang belum terjadi, lantas mengapa kita selalu merangkainya menjadi sebuah impian dan justru menjadikannya semakin sempurna? Apakah karena ada sensasi magis saat merangkainya menjadi sebuah impian bisa dijadikan sebagai alasan untuk mempertahankan harapan itu? Ataukah karena ada seseorang yang spesial di dalamnya, membuat harapan tersebut menjadi pantas untuk kita perjuangkan? Entahlah, aku sendiri tak pernah punya jawaban yang pasti untuk serentetan pertanyaan itu, tapi seseorang yang telah lama hilang dari kehidupanku pernah mengajariku tentang sebuah harapan. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya terasa begitu sempurna di telingaku, ia bercerita banyak tentang harapan, memberi bius kepadaku dengan kata-katanya. Dia menjadikan harapan itu terasa begitu dekat tanpa pernah bilang bahwa ternyata ada begitu banyak sekat diantara sela-sela harapan itu. Dia telah berhasil memberi nyawa dari setiap perkataannya, hingga membuat perkataannya hidup dan menjadi sebuah harapan baru untukku. Dia bilang, sebuah harapan akan terwujud nyata bila kita mempertahankannya, dan aku yang sangat polos kala itu dengan mudahnya percaya. Ya, setelah dia berkata bahwa harapan harus dipertahankan, aku terus mempertahankan harapan yang ku punya dan justru semakin merangkainya menjadi sebuah impian yang sangat sempurna, jauh lebih sempurna dari segala kata-katanya tentang harapan. Dan kuakui harapan itu memang pernah begitu dekat dari jangkauanku, membuatku ku  nyaris mendapatkannya, namun aku tak tahu bila pada akhirnya ada begitu bayak sekat di antara sela-sela harapan itu, membuatku sulit untuk menggapainya dan ternyata salah satu  dari banyaknya sekat itu adalah dia yang telah mengajariku tentang harapan. Dia yang menjadi fondasi dari harapanku justru dia pula lah yang diam-diam menghancurkannya. Namun walaupun sudah dihancurkan, bukan berarti harapanku telah hilang begitu saja, tentu masih ada meskipun harus memungutnya dari puing-puing harapan yang telah hancur itu. Dari serpihan harapan itu aku kembali merangkainya menjadi sebuah impian yang sama sempurnanya seperti dulu, tapi dengan sebuah fondasi yang jauh lebih kuat, yaitu ambisi dan setelah ku pikir-pikir sebenarnya yang menghancurkan sebuah harapan ialah bukan dia yang menjadi sekat, tapi diri kita sendirilah yang menghancurkannya, itu karena kita terlalu merangkai sempurna harapan tanpa pernah tau cara mewujudkannya.
            Tulisan ini kubuat bukan untuk membuat kalian yang membacanya menjadi berhenti berharap, namun hanya mengingatkan kembali bahwa harapan tidak cukup dengan sekedar berharap saja, melainkan harus diiringi dengan kemampuan untuk mewujudkannya dan tulisan ini juga kubuat sebagai tanda terimakasihku kepadamu yang telah mengajariku tentang sebuah harapan.
Spesial untuk (mantan) sahabatku

Selasa, 18 November 2014

Contoh Karangan Teks Eksposisi Dan Argumentasi

Karangan Teks Eksposisi
Manfaat Handphone Untuk Pelajar
Kemajuan teknologi komunikasi telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah bukti kemajuan teknologi komunikasi adalah dengan diciptakannya benda bernama Handphone. Handphone sendiri adalah sebuah teknologi yang diciptakan oleh manusia untuk mempermudah komunikasi. Dan di zaman serba teknologi seperti sekarang ini, handphone atau ponsel bukanlah barang asing bagi siapapun. Bahkan, anak-anak kecil pun sudah banyak yang bermain dengan handphone. Terlebih lagi, di kurikulum 2013 seperti saat ini, handphone adalah benda yang cukup berperan penting dalam proses belajar bagi para siswa. Berikut ini beberapa manfaat handphone bagi pelajar :
  • Sebagai alat komunikasi jarak jauh, handphone menjadi andalan siswa untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Hal ini bisa mempermudah siswa untuk mengkoordinasi teman-temannya bila ingin belajar kelompok atau mengerjakan tugas bersama. Handphone diciptakan untuk memudahkan kehidupan, dan sudah terbukti bahwa hidup siswa pun memang cukup terbantu oleh keberadaan handphone. Misalnya, di luar jam sekolah, siswa bisa berkomunikasi dengan temannya untuk menanyakan materi tugas atau PR tanpa harus keluar rumah yang bisa menghabiskan banyak waktu. Selain itu, Handphone bisa menyimpan suatu data dan mudah dibawa kemana-mana, ini tentu sangat berguna. Manfaat handphone bagi siswa berdasarkan hal ini misalnya siswa bisa mencatat materi pelajaran dan bisa menghapalnya di mana pun dan kapan pun. Contoh lain, siswa bisa mencatat beberapa informasi penting dan menyimpannya dalam HP, misal pengumuman ujian, suatu materi yang sedang disampaikan.
  • Tidak hanya dalam bidang pelajaran, handphone juga memiliki fitur-fitur hiburan, seperti musik (MP3) atau game. Fitur ini bisa menghibur para siswa yang mungkin penat saat belajar. Dengan demikian otak siswa akan kembali segar dan mampu menampung materi pelajaran dengan baik.
  • Saat ini telah banyak diproduksi handphone berfitur internet. Hal ini cukup memudahkan para siswa untuk mencari informasi tentang materi pelajaran lewat internet yang sudah tersedia di handphone.  Dalam hal ini, layanan internet akan membantu siswa dalam menemukan informasi yang dapat menopang pengetahuannya di sekolah.
Dengan demikian, dari beberapa manfaat handphone untuk pelajar yang dipaparkan diatas,  dapat disimpulkan bahwa penggunaan handphone sudah sepatutnya diperbolehkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, mengingat banyak sekali manfaat dari handphone itu sendiri bagi kalangan pelajar, bila digunakan secara tepat dan benar.





Karangan Argumentasi
UN Dengan Dampak Negatifnya
                Sudah kita ketahui bersama bahwa setiap tahunnya Kemendikbud selalu mengadakan ujian nasional dimulai dari tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai dengan tingkat sekolah menengah atas ( SMA ). Tentunya ujian nasional atau sering disingkat dengan UN adalah kalimat yang  sangat tidak asing lagi di telinga kalangan pelajar. Namun, walaupun UN sangat akrab bagi kalangan pelajar , tentu saja UN adalah salah satu ujian yang selalu mnimbulkan rasa khawatir serta cemas bagi setiap siswa yang akan menghadapinya, terutama bagi pelajar SMA.  Rasa khawatir dan cemas inilah yang nantinya  memicu setiap siswa untuk melakukan berbagai tindak kecurangan demi berhasil dalam melaksanakan UN. Salah satu  tindak kecurangan yang sering dilakukan para siswa setiap akan menghadapi UN ialah dengan membeli kunci jawaban UN. Transaksi jual beli kunci jawaban UN tentunya bukan hal yang asing lagi bagi kalangan pelajar. Namun sayangnya, gencarnya hal tersebut hanya direspons dengan penyangkalan-penyangkalan oleh pihak Kemendikbud. Siswa tentu tahu persis dari mana mereka mendapatkan kunci jawaban UN tersebut. Selain menimbulkan rasa khawatir dan menumbuhkan perilaku tidak jujur, ternyata ujian nasional juga menjadi penghambat bagi siswa untuk berfikir kritis. Bagaimana tidak, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya berbagai “ ritual ” yang dilakukan oleh pihak sekolah sebelum UN dilaksanakan. Misalnya saja Pedalaman Materi ( PM ) yang dilakukan setiap pulang sekolah dan juga sejumlah Uji Coba ( Try Out ) dengan tingkat kesusahan yang terkadang di luar kemampuan siswa.  Bahkan, Guru yang mengajar mata pelajaran yang diujikan cenderung fokus pada bagaimana membuat siswa terbiasa menjawab soal-soal daripada memproses kemampuan berfikirnya. Proses belajar-mengajar sering kali tersulap menjadi sekadar berlatih soal-soal yang akan keluar dalam tes-­tes di sekolah.  Hal ini menjadikan kemampuan berpikir siswa hanya terlatih pada kemampuan berpikir tingkat rendah, yaitu menghafal dan menjawab pertanyaan. Dengan demikian, kesempatan siswa untuk berlatih berpikir kritis relatif terbatas.
            Dari paparan diatas jelaslah bahwa peran UN dalam menguji pemahaman siswa atas materi yang sudah dipelajari selama di bangku sekolah justru cenderung menimbulkan berbagai dampak negatif, diantaranya yang sudah dijelaskan diatas, yaitu menimbulkan rasa khawatir dan cemas, menumbuhkan perilaku tidak jujur serta penghambat bagi siswa untuk berfikir kritis. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa penghapusan ujian nasional perlu dilakukan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan pemerintah harus secepatnya fokus  dalam membenahi standar pendidikan nasional sebagai upaya nyata perbaikan kualitas generasi bangsa.