Minggu, 03 Mei 2015

Ada

Ada
Kristal yang mencair lembut di pipiku
Dan luka terus mengiris tajam sisa hati yang terkelupas
          Ada
          Kisah yang perlahan tertulis di dadaku
          Sebuah gumpalan luka yang terlanjur menjadi paragraf
Ada
Cemas yang melilit rasa itu
Sementara waktu berdetak dengan lambat
Seolah mencari-cari yang telah pergi
          Ada
          Kalimat yang tersimpan di balik bibirku
          Sedang ingatan diam-diam berlayar tanpa arah
Ada
Rembulan yang menggantung di matamu
Memaksa mataku untuk melihat bias sinarmu

Jakarta, 02 Mei 2015

Jumat, 17 April 2015

Buku Antologi kedua ( Untaian Tirai Musim )



         

Judul : Untaian Tirai Musim
Penulis : Osella - Mita Putri Indrayanti - Anggi Ermona - Leni Siswati - Nur Wahida Batalipu - Aoirisuka - Yoni Prawardayana - Tegar Setiadi Dwi Amrulloh - Prapti Rahayu Ningtias - Ulul Ilmi - Wanda Hijriani H - Alis Maharani - Asri Hanifah Putri - Elisa Dana Lestari - Lia Vandona - Yadi Karyadipura - Aridanti Hanifah - Nola Dewanti - Nitha Reva - EL Malka - Nurul Oktavia - Natasia Deva - Nathania Christabel Gunawan - Dika Mustika - Nenny Makmun - Daisy Wu - Aufa Vicka - Najmia Adis - Andi Nurul Azizah Tenrilili - Lilis Setiawati - Arial Ratih
ISBN : 978-602-284-034-3

Layout : Rahmi Afzhi W.
Editing : Rahmi Afzhi W.
Cover : Arial Ratih
Harga : Rp 53.000 (kontributor), Rp 55.000 (umum)
Jumlah halaman : 301 halaman


Rabu, 01 April 2015

Untuk Seorang Gadis Yang Sedang Berjalan Jauh



Tak pernah terbayangkan olehku, seorang gadis yang selalu punya ambisi yang menyala-nyala ternyata bisa dengan mudah terpikat oleh paras rupawan dari seorang pria yang usianya dua tahun lebih dewasa darinya. Tak ada yang spesial dari pria tersebut, namun yang jelas pria yang bermahkotakan rambut ikal tersebut telah berhasil menyeret si gadis ke sebuah jalan yang berhiaskan duri di sepanjang jalannya.
            Tak ada yang tahu pasti  sampai kapan duri itu tiada, namun setidaknya si gadis yang ternyatanya naif tersebut tahu persis kemana tujuannya. Walau ia tahu bahwa jalan yang ia tempuh nantinya akan gelap dan mungkin akan semakin pekat gelapnya bila ia terus mengayunkan kakinya lebih jauh lagi, namun ia tetap tak perduli, ia terus melangkah tanpa tahu bahwa akan ada banyak persimpangan yang justru akan membuatnya terjebak di jalan yang salah atau mungkin justru terperangkap di sebuah jalan yang buntu laksana lingkaran yang tak pernah kenal awal dan akhir.
            Entah si gadis terlalu naif atau mungkin ia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, namun ia pernah berkata bahwa lelaki tersebut adalah navigatornya. Sudah pasti pernyataan si gadis “ bodoh “ itu bertentangan dengan logikaku, sebab bagaimana mungkin seorang pria yang belum bisa ia jamah dapat dijadikannya sebagai petunjuk arah?
            Kurasa hasrat si gadis itu sudah membakar habis seluruh ambisinya, karena yang terlihat di matanya kini hanyalah sebuah impian fiksi yang dibalut indah dengan setumpuk harapan
Dua puluh satu menit sebelum menjelang ulang tahunmu

Minggu, 15 Maret 2015

Sabtu Malam



Sabtu malam seorang hawa terpaku membungkam
Sepasang bolamatanya memandang awan hitam
Membiaskan kisah kelam
Kau
Menerjemahkan sorot matanya
Hasrat terbelenggu katamu
Yang lara seraya terpenjara
Ada apa dengannya? sukmamu menanya
Sedang dirinya tetap berdialog dengan malam
Insan Tuhan itu memasang rupa suram
Dan kau masih disana dengan diam
Hingga bulan jenuh mengintipmu
Kau tetap disana seraya bersembunyi
Dan si bundar bercahaya berbisik kejam padamu
Tak sekalipun ia akan jadi kisahmu
Bisik purnama pada dirimu yang termangu
Jakarta, 14 Maret 2015

Selasa, 03 Februari 2015

Surat Cinta Nayla



....Aku tak tau kapan perasaan suka ini bertransformasi menjadi perasaan suka yang amat dalam, tapi yang jelas cinta ini bukan cinta yang berlandaskan hasrat sesaat, bukan juga cinta yang meledak-ledak yang harus padam pada akhirnya, tapi cinta ini adalah cinta yang terbalut dalam kerendahan hati....
            Begitulah sepenggal kalimat dari surat cintaku untuk lelaki bernama lengkap Faris Faishal. Iya pria berhidung mancung dengan bibir semerah hibiscus ini telah berhasil membuat ledakan-ledakan ajaib di lembah hatiku, bahkan namanya tak pernah absen dalam setiap doa yang kupanjatkan. Ah.. sejenak kurangkai khayalku bersamanya, namun baru sebentar aku mencicipi khayalku, tiba-tiba saja seseorang yang entah siapa menepuk bahuku dengan kencang dan berhasil membuat lamunanku buyar. Vera, dialah orang yang melakukannya.
            “ Ya ampun.. jadi sahabat aku yang jomblo ini lagi falling in love nih, sama siapa sih Nay? “ ujar Vera menggodaku
            Kepoo.. yaudah yuk kita ke kantin sekalian aku mau masukin surat ini ke kotak cinta “ ujarku tersernyum malu
***
            Satu minggu sudah berlalu, namun tampaknya sosok yang kucintai belum juga memberi tanda-tanda kepadaku, tapi aku yakin bahwa Faris pasti sudah menerima kertas yang berisikan untaian kata itu. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 12.20 pertanda bahwa istirahat akan berakhir. Aku yang tak ditemani oleh Vera memutuskan untuk segera ke kelas, karena sebentar lagi akan ada pelajaran yang cukup menguras energi, yaitu fisika. Beruntung saat tiba di kelas aku belum melihat guru yang dikenal killer itu, jadi aku masih bisa bernafas dengan lega, tapi sesampainya aku di kelas aku melihat amplop biru tergeletak di meja Faris, iya amplop biru itu adalah surat cinta yang kutuliskan untuknya. Sejenak aku terdiam, bertanya dalam hati mengapa amplop biru tersebut masih tertutup rapi, tapi belum sempat aku menanyakan hal tersebut ke Faris, tiba-tiba saja aroma parfum yang menyengat langsung mengheningkan suasana bingar di kelas, iya aroma parfum tersebut sudah pasti aroma parfum milik Bu Dina, guru fisikaku. Selama pelajaran berlangsung seluruh sel-sel impuls di otakku terus dibius oleh sejumlah pertanyaan. Mengapa dia tidak membukanya? apakah Faris sudah tau siapa pengirimnya? atau jangan-jangan dia tau kalau aku suka dia. Ah.. semua pertanyaan itu benar-benar mengusikku, tapi syukurlah bel pulang melenyapkan semua pertanyaan gila itu. Satu persatu temanku sudah pergi meninggalkan kelas ini, tapi tidak dengan Faris. Iya lelaki berbadan tegap itu justru menghampiriku dan kini berdiri persis di hadapanku.
            “ Ehm Nayla.. aku bisa bicara sebentar ga? “
            “ Bisa.. bisa banget kok, oh iya.. suratnya udah kamu baca belum? “
            “ Surat?? surat apa ya? “ tanyanya dengan raut wajah bingung
            “ Surat di amplop biru itu “
            “ Oh itu, ehm.. kayaknya aku tinggalin di kolong meja deh, ah tapi yaudahlah paling juga isinya ga penting “
            “ Ga penting? tapi kan kamu belum tau siapa pengirimnya? “ tanyaku menyelidik
              Ya aku ga tau sih siapa pengirimnya, tapi emangnya kenapa sih kok daritadi kamu nanyain surat itu terus? “
            “ Oh ga kenapa-kenapa, eh ya tadi aku mau bicara apa ris? “
            “ Ehm.. jadi gini Nay sebenarnya hari ini aku mau nyatain cinta ke Vera, masalahnya hari ini Veranya ga masuk, nah.. kamu kan sahabatnya Vera jadi tolong bilangin ke dia ya kalau Sabtu ini aku ngajak dia kencan, soalnya ga tau kenapa Vera kayaknya selalu ngehindar gitu deh, ehm.. kamu mau bantu aku kan Nay? “
            Sejenak aku terdiam dan entah mengapa bibirku saat itu terasa kelu, aku tak tau perasaan apa yang kini melandaku, tapi rasanya sakit, sakit sekali seperti terhantam oleh batu karang yang besar. Aku juga tak mengerti mengapa bolamataku menggelindingkan butiran air yang sangat banyak, mungkin jumlahnya milyaran, ah.. entahlah tapi yang jelas untuk beberapa saat aku masih mematung bagai manusia yang tak bernyawa hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkannya
***
            Kulihat sesosok makhluk Tuhan dengan struktur wajah yang nyaris sempurna membuka pintu, menatapku dengan tatapan teduh, dan dalam beberapa detik saat itu kunikmati sorot matanya yang teduh.
            “ Nayla.. kamu ngapain di rumah aku? “
            “ Ehm.. aku mau bicara sebentar sama kamu, tapi bukan disini “
            “ Yaudah gimana kalau kita ke taman dekat sini aja “
            Sabtu sore di taman itu benar-benar cukup indah, wajah langit juga tampak cerah ceria dan banyak pasangan remaja yang kulihat sedang merajut cinta di taman itu, tapi sayangnya aku datang kesini bukan untuk itu dengan Faris melainkan untuk sesuatu yang lebih penting.
            “ Oh ya Nay, kamu udah bilang ke Vera kalau malam ini aku mau ngajak dia kencan? “ ujarnya sambil mencoba untuk duduk di salah satu bangku taman
            “ Udah kok, dan dia bilang dia tunggu kamu di kafe jam 7 malam “ ujarku seraya ikut duduk disampingnya
            “ Makasih banget ya Nay kamu udah mau bantuin aku, oh ya Nay tadi kamu mau bicara apa ya? “
            “ Aku mau bicara tentang surat di amplop biru itu, ehm..  sebenarnya surat itu adalah surat cintaku untuk kamu, tapi kamu malah ga baca dan justru ninggalin di kolong meja, ehm..awalnya aku marah sama kamu karena kamu ga baca surat itu dan yang lebih parah lagi kamu suka sama Vera, tapi ternyata setelah aku pikir-pikir ternyata ga seharusnya aku marah, karena aku ga punya hak untuk itu dan hari ini aku mau bilang sama kamu, kalau aku cinta sama kamu “
            “ Tapi kan aku… “
            “ Aku tau kamu suka sama Vera, dan kamu juga ga harus jawab cinta aku kok, aku juga ga peduli kalau aku harus kembali lagi menyandang predikat sebagai jomblowati, karena menurut aku, bisa mencintaimu adalah salah satu anugrah terindah dari Tuhan untuk aku “
            “ Maaf ya Nay aku ga tau kalau ternyata surat di amplop biru itu adalah surat cinta dari kamu, tapi aku yakin kamu pasti dapat pria yang jauh lebih baik dari aku “ ujarnya seraya mengenggam hangat kedua telapak tanganku.