Kamis, 20 Februari 2014

Kesekian Kalinya Hatiku Bersuara


Hidupku kian lama semakin indah semenjak dirimu bertatahta di kalbuku. Yah, kau sudah terlanjur menjadi dewa di taman hatiku dan juga sudah berhasil menjadikan aku ratu di hatimu, namun sayang hal itu berubah ketika kau lepaskan genggamanku. Kau lepaskan genggamanku hanya untuk mengejar ambisimu, dan ambisimu itu seolah menaburkan  misteri dalam hidupku, namun misteri yang kau taburkan itu kian lama berubah menjadi sebuah panah yang menusuk kalbuku. Dan tahukah kau, semenjak kau pergi untuk melintasi mimpi-mimpimu, hidupku kini bagaikan malam tanpa bintang, bahkan bulan nan genit pun juga sudah enggan tersenyum padaku, kala ku tatap  dia seorang diri.
Sebenarnya aku tak sanggup mengarungi hidup tanpa dirimu, aku rapuh tanpamu,  namun kenangan saat kita bersama-sama tersenyum melihat dunia, hanya itulah yang mampu membuat aku sanggup bertahan melewati sepinya hariku, namun kenangan itu tetap tak mampu meredam kepedihan hatiku.
Ah… kau terlanjur membuat aku terjebak dalam ruang rindu. Namun jauh di lubuk hatiku,  sebenarnya  aku masih tak mengerti alasan mengapa kau sangat berambisi untuk meraih mimpi-mimpimu itu, apakah karena aku bukan mimpimu, hingga kau sangat bergairah mengejar impianmu itu. Ah, sudahlah mungkin itu hanya kekhwatiran ku saja,   aku  sangat yakin kenangan kita akan membuat kau kembali padaku.

Jumat, 14 Februari 2014

Bukan Liburan Biasa


Seperti remaja lainnya, Sisi juga ingin merasakan liburan bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun sayang, keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya, terutama oleh Mamanya. Hingga pada akhirnya Sisi pun berdebat dengan Mamanya, namun tetap saja perdebatan tersebut tidak membuat Sisi diperbolehkan untuk liburan ke puncak bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun takdir seakan memihak keinginan Sisi, keesokan harinya kedua orang tua Sisi pergi untuk menjenguk bibinya, sebenarnya Sisi diajak untuk ikut bersama, namun Sisi menolaknya dengan cara berpura-pura sakit. Tentu dengan kepergian orang tuanya itu, Sisi jadi lebih mudah untuk kabur dari rumah, terlebih lagi Pak Tono, sopir Sisi tidak mengantar ke dua orangtuanya ke rumah bibinya itu. Dengan perasaan yang sangat gembira, Sisi pun menghampiri Pak Tono.
“ Pak Tono, sekarang cepetan Pak Tono anterin saya ke rumahnya Reza “ , pinta Sisi kepada Pak Tono yang dari tadi sedang asyik meminum kopi. “ Sip non “ , jawab Pak Tono tanpa banyak bertanya.
Akhirnya Sisi pun menuju ke rumah pacarnya, yaitu Reza. Namun sayang, kemacetan seakan melanda perjalanan Sisi, dan tentu kemacetan ini membuat hati Sisi dilanda resah dan gelisah, namun perasaan yang melanda hati Sisi tersebut tidak berlangsung lama, perasaan Sisi tiba-tiba berganti dengan perasaan iba, ketika Sisi melihat di balik jendela ada seorang ibu-ibu di dalam bajaj yang sepertinya ingin melahirkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, Sisi langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
“ Bang, ibu-ibu yang di dalam, mau melahirkan ya? ” , tanya Sisi kepada sopir bajaj tersebut. “ Iya neng, ibu-ibu yang di dalem emang mau melahirkan “ , jawab sopir bajaj tersebut dengan wajah yang panik. “ Ya ampun kasian banget, sih..“  , ujar Sisi dengan wajah yang prihatin. “ Lho.. non Sisi kog malah disini, ayo non kita balik lagi ke mobil “ , ajak Pak Tono. “ Aduh pak, masa bapak gag ngeliat sih, kan di dalem ada ibu-ibu yang lagi pengen melahirkan, masa kita diem aja sih, kita tuh harus ngebawa ibu-ibu ini ke rumah sakit “ ,  ujar Sisi kepada Pak Tono. “ Iya juga sih, tapi caranya gimana non, kan jalanan macet? “ , tanya Pak Tono.
Mendengar pertanyaan Pak Tono, Sisi pun terdiam, seakan tak bisa menjawab pertanyaan pak Tono, namun Sisi tak kehilangan akal, Sisi tiba-tiba mendapat ide.
 “ Ehm.. gini aja, gimana kalo Pak Tono gendong Ibu-ibu ini sampai ke depan sambil ikutin jalan aku “ , ujar Sisi memberi ide. “ Iya…iya non, tapi mobilnya gimana non?“ , tanya Pak Tono kembali. “  Aduh.. udah biarin aja mobilnya dititipin sama abang bajaj “ , ujar Sisi tanpa berfikr terlebih dahulu.
Tanpa banyak bicara, Pak Tono mengikuti perintah Sisi dan meninggalkan sopir bajaj tersebut , namun setibanya mereka di depan, betapa kagetnya Sisi ketika melihat angkutan metromini yang ternyata menjadi penyebab kemacetan. Dan tanpa basa basi, Sisi pun  langsung menendang metromini tersebut dengan kakinya, dan tentu saja hal ini membuat amarah sopir metromini tersebut meluap.
“ Hei kau, kenapa pula kau tendang-tendang metro ku ini “ ,  ujar sopir metromini tersebut dengan logat bataknya. “ Lagian dari tadi gag jalan-jalan, gag tau apa kalo dibelakang ada ibu-ibu yang lagi melahirkan! “ , ujar Sisi dengan suara yang lantang. “ Lantas urusan dengan ku apa? Memang aku yang bikin wanita itu hamil?“ , ujar kembali sopir metro tersebut. “ Aduh…. Sakit… “ ujar ibu-ibu hamil tersebut merintih kesakitan. “ Aduh gimana nih, sabar ya bu.. sabar ” , ujar Sisi dengan wajah panik.  “ Ya udah non, daripada kelamaan mendingan kita bawa ibu-ibu ini ke metro ini aja, mumpung metro ini lagi kosong “ , ujar Pak Tono yang masih menggendong Ibu-ibu tersebut.
Ahirnya Sisi dan Pak Tono pun membawa ibu-ibu hamil tersebut ke dalam metromini yang tadi ditendang oleh Sisi. Sebenarnya Sopir tersebut mengusir mereka, namun dengan paksaan Sisi akhirnya hati sopir metromini tersebut luluh juga. Dan dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit, tiba-tiba saja Reza menelfon Sisi.
“ Sayang kamu lagi dimana sih, kog kedengerannya rame banget sih disitu? kamu jadi kan ke rumah aku “ , tanya Reza. “ Aduh maaf ya sayang, aku kayagnya gag jadi liburan ke pucak deh, soalnya aku lagi dalam keadaan gawat darurat nih “ , jawab Sisi. “ Gawat darurat apaan ? ” , tanya Reza kembali. “ Iya soalnya aku lagi lahiran “ , ujar Sisi. “HAAA? LAHIRAN ? SAMA SIAPA ?” , ujar Reza dengan sangat kagetnya.  “ Eh.. salah-salah maksud aku.. “
Gubrak…                                                                                                                       
Belum sempat Sisi mempebaiki kalimatnya, tiba-tiba saja hand phone Sisi jatuh ke bawah, lantaran sopir metromini tersebut mengemudi dengan sangat cepat. Namun ketika Sisi hendak mengambil handphonennya, sisi melihat darah  mengucur di kaki ibu-ibu hamil tersebut, tentu hal ini membuat Sisi terheran-heran, hingga akhirnya Sisi pun bertanya kepada ibu-ibu hamil tersebut.
“ Bu, kog tadi saya ngeliat darah ngalir di kaki ibu sih, ibu dateng bulan ya? “ , tanya Sisi polos. “ Wah non Sisi, itu sih namanya bukan dateng bulan, tapi itu namanya pendarahan non Sisi “ , jawab Pak Tono menjelaskan. “ Aduh..dek..aduh.. sakit “ , ujar kembali Ibu-ibu tersebut. “ APA ? PENDARAHAN ?? adduh… gimana nih, bu sabar ya bu.. tarik nafas yang dalem-dalem  terus keluarin, woi bang cepetan dong nyetirnya! “ , ujar Sisi dengan wajah yang panik.
Dan tiba-tiba saja kepanikan Sisi pun terhenti , lantaran tiba-tiba saja Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak.
“ Aduh..bang kalo ngerem itu pelan-pelan dong, gag liat apa ada ibu-ibu hamil nih “ , ujar Sisi marah. “ Kau ini bagaimana sih? kita sudah sampai ini di rumah sakit “ , jawab sopir metromini tersebut. “ Hah? udah nyampe ya, yaudah kalo gitu cepetan Pak Tono bawa Ibu ini ke dalam “ , ujar Sisi memberi perintah kepada Pak Tono.
Dan tanpa banyak bicara, akhirnya Pak Tono membawa Ibu-ibu hamil tersebut ke dalam rumah sakit yang diikuti oleh Sisi. Untung saja, saat mereka di dalam, mereka langsung bertemu dengan seorang dokter yang menangani tentang kehamilan, jadi ibu-ibu hamil tersebut langsung dibawa ke ruang bersalin. Selama 1 jam lebih, Sisi dan pak Tono menunggu, dan tentu hal ini membuat mereka dihantui perasaan cemas, namun perasaan cemas tersebut tiba-tiba berganti dengan perasaan haru, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin,  dan kebahagiaan mereka pun diikuti oleh ucapan teirma kasih dari ibu-ibu yang tadi.
“ Dek dan juga pak sopir, Ibu sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah mau mengantar Ibu sampai kesini “ , ujar Ibu-ibu tersebut sambil menggenggam tangan Sisi. “ Sama-sama bu, oh..ya Ibu  juga gag usah khawatir soal biaya persalinannya, pokoknya semua biaya persalinan Ibu biar saya yang tanggung “ , jawab Sisi. “ Ya ampun dek, makasih sekali ya dek, saya doakan semoga adek selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah “ , ujar kembali ibu-ibu tersebut. “ Amin.. oh, ya kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, soalnya udah mau malem “ , jawab Sisi mengakhiri percakapan.
Setelah Sisi dan pak Tono pamit pergi, akhirnya mereka pun pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Sisi mulai mengerti bahwa liburan bukan hanya sekedar bersenang-senang dengan pacar atu teman, melainkan menolong orang juga berarti liburan, dan ini bukan liburan biasa bagi Sisi, ini adalah sebuah liburan yang menyenangkan baginya. Namun saat Sisi sampai di rumah, Sisi pun langsung disambut dengan sejuta pertanyaan dari kedua orangtua Sisi, lantaran orang tua Sisi sangat cemas karena anak satu-satunya itu tidak pulang ke rumah dari tadi pagi. Akhirnya Sisi pun menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papanya, dan orang tua Sisi pun sangat bangga terhadap Sisi setelah mereka mendengar semua kejadian yang telah dialami oleh Sisi hari ini.
“ Mama sangat bangga sama kamu Si, tapi ngomong-ngomong kog kamu pulangnya pake taksi sih, bukannya tadi kamu bilang berangkatnya pake mobil ya? terus sekarang kog mamah gag liat mobilnya sih? “ , tanya Mama penasaran.            “ Ehm.. maaf ya Ma, mobilnya tadi aku titipin ke sopir bajaj “ , ujar Sisi dengan suara pelan.
“ Sisiiiii………. !!! “ teriak mama
Tamat

Lagi Lagi Suara Hatiku

        Perlahan-lahan derita ku kini mulai memudar, satu per satu duri di hatiku kini juga sudah mulai terjatuh, bahkan sinar kelam yang selalu menghiasi hidupku kini juga sudah berganti dengan sinar kebahagiaan. Yah, kebahagian yang telah kau buat akhir-akhir ini, seolah-seolah mengembalikan senyumku yang telah lama hilang, bahkan jiwa yang sudah lama layu ini, seakan terasa hidup kembali semenjak hadirnya dirimu disini. Ambisiku untuk memiliki dia, seakan terhenti ketika melihat senyummu yang seperti bunga di musim semi, dan kalau boleh jujur, kala aku melihat kedua bola matamu seolah aku juga melihat berjuta warna pelangi disana, terlebih lagi ketika kau mulai bersuara, seakan aku mendengar alunan symphony cinta yang membuat detak jantungku juga ikut bersenandung mengikuti alunan symphony cinta yang kau buat. 
     Namun perasaan yang kian melanda hatiku, justru membuatku takut kehilangan dirimu, aku takut kau akan menusukkan duri di hatiku, padahal kau tahu, kalau akan sangat sakit untukku, bila aku harus mencabutnya sendiri, tapi jauh di lubuk hati biruku, aku percaya bila semua itu hanya ketakutan bodoh yang terlintas di otakku saja.
      Kini, perasaan tersebut sudah terajut menjadi sebuah cinta, dan tentu saja takkan kubiarkan rajutan cinta itu tercabik seperti rajutan cintaku yang terdahulu, aku akan terus menjaganya dengan segenap hatiku, agar rajutan cinta ini tetap indah dan akan semakin indah bila kita sama-sama menjaganya.

Suara Hatiku Lagi

        Sayang ku, kini aku bukan lagi seorang pengemis cinta yang sering meronta dan meminta kasihmu, aku kini adalah seorang penanti, menanti sesuatu yang mungkin takkan pernah jadi kenyataan, penantian yang mungkin akan berakhir bila detak jantungku juga berhenti, tapi tak apa, menanti bukanlah hal yang meresahkan bagiku, menurutku menanti itu lebih elegan daripada harus mengemis cintamu seperti perawan cinta yang haus akan kasih.
       Menurutku, menanti itu adalah kegiatan yang menyenangkan, sebab kalau aku sedang menanti, aku bisa berimajinasi tentang kita di masa depan atau mengenang kenangan indah kita di masa lalu. Yah, masih jelas di benakku, tentang kita di masa lalu, terlebih tentang malam itu, masih terus berotasi di otakku. Yah, mana mungkin aku bisa melupakan saat kau mendekap tubuhku dengan sentuhan hangat tubuhmu, lalu membelai rambutku dengan lembut jarimu, serta menyentuh bibir yang tak berdosa ini, dengan sentuhan dingin bibirmu, dan tentu saja aku tak kuasa untuk memberontak ketika api cintamu sudah mulai bergejolak. Tapi kalau boleh jujur, kala itu aku memang sudah terjerat dalam hasrat cintamu. 
        Namun sayang, semua hal itu hanya sebatas kenangan lalu yang sebenarnya sangat sakit untuk aku ingat kembali, walaupun juga terlalu indah untuk aku lupakan. Dan kini, dalam kesepianku, aku harus berperang melawan kepedihanku sendiri untuk memperjuangkan apa yang seharusnya dulu aku perjuangkan.