Sayang ku, kini aku bukan lagi seorang pengemis cinta yang sering meronta dan meminta kasihmu, aku kini adalah seorang penanti, menanti sesuatu yang mungkin takkan pernah jadi kenyataan, penantian yang mungkin akan berakhir bila detak jantungku juga berhenti, tapi tak apa, menanti bukanlah hal yang meresahkan bagiku, menurutku menanti itu lebih elegan daripada harus mengemis cintamu seperti perawan cinta yang haus akan kasih.
Menurutku, menanti itu adalah kegiatan yang menyenangkan, sebab kalau aku sedang menanti, aku bisa berimajinasi tentang kita di masa depan atau mengenang kenangan indah kita di masa lalu. Yah, masih jelas di benakku, tentang kita di masa lalu, terlebih tentang malam itu, masih terus berotasi di otakku. Yah, mana mungkin aku bisa melupakan saat kau mendekap tubuhku dengan sentuhan hangat tubuhmu, lalu membelai rambutku dengan lembut jarimu, serta menyentuh bibir yang tak berdosa ini, dengan sentuhan dingin bibirmu, dan tentu saja aku tak kuasa untuk memberontak ketika api cintamu sudah mulai bergejolak. Tapi kalau boleh jujur, kala itu aku memang sudah terjerat dalam hasrat cintamu.
Namun sayang, semua hal itu hanya sebatas kenangan lalu yang sebenarnya sangat sakit untuk aku ingat kembali, walaupun juga terlalu indah untuk aku lupakan. Dan kini, dalam kesepianku, aku harus berperang melawan kepedihanku sendiri untuk memperjuangkan apa yang seharusnya dulu aku perjuangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar