Kamis, 20 Februari 2014

Kesekian Kalinya Hatiku Bersuara


Hidupku kian lama semakin indah semenjak dirimu bertatahta di kalbuku. Yah, kau sudah terlanjur menjadi dewa di taman hatiku dan juga sudah berhasil menjadikan aku ratu di hatimu, namun sayang hal itu berubah ketika kau lepaskan genggamanku. Kau lepaskan genggamanku hanya untuk mengejar ambisimu, dan ambisimu itu seolah menaburkan  misteri dalam hidupku, namun misteri yang kau taburkan itu kian lama berubah menjadi sebuah panah yang menusuk kalbuku. Dan tahukah kau, semenjak kau pergi untuk melintasi mimpi-mimpimu, hidupku kini bagaikan malam tanpa bintang, bahkan bulan nan genit pun juga sudah enggan tersenyum padaku, kala ku tatap  dia seorang diri.
Sebenarnya aku tak sanggup mengarungi hidup tanpa dirimu, aku rapuh tanpamu,  namun kenangan saat kita bersama-sama tersenyum melihat dunia, hanya itulah yang mampu membuat aku sanggup bertahan melewati sepinya hariku, namun kenangan itu tetap tak mampu meredam kepedihan hatiku.
Ah… kau terlanjur membuat aku terjebak dalam ruang rindu. Namun jauh di lubuk hatiku,  sebenarnya  aku masih tak mengerti alasan mengapa kau sangat berambisi untuk meraih mimpi-mimpimu itu, apakah karena aku bukan mimpimu, hingga kau sangat bergairah mengejar impianmu itu. Ah, sudahlah mungkin itu hanya kekhwatiran ku saja,   aku  sangat yakin kenangan kita akan membuat kau kembali padaku.

Jumat, 14 Februari 2014

Bukan Liburan Biasa


Seperti remaja lainnya, Sisi juga ingin merasakan liburan bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun sayang, keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya, terutama oleh Mamanya. Hingga pada akhirnya Sisi pun berdebat dengan Mamanya, namun tetap saja perdebatan tersebut tidak membuat Sisi diperbolehkan untuk liburan ke puncak bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun takdir seakan memihak keinginan Sisi, keesokan harinya kedua orang tua Sisi pergi untuk menjenguk bibinya, sebenarnya Sisi diajak untuk ikut bersama, namun Sisi menolaknya dengan cara berpura-pura sakit. Tentu dengan kepergian orang tuanya itu, Sisi jadi lebih mudah untuk kabur dari rumah, terlebih lagi Pak Tono, sopir Sisi tidak mengantar ke dua orangtuanya ke rumah bibinya itu. Dengan perasaan yang sangat gembira, Sisi pun menghampiri Pak Tono.
“ Pak Tono, sekarang cepetan Pak Tono anterin saya ke rumahnya Reza “ , pinta Sisi kepada Pak Tono yang dari tadi sedang asyik meminum kopi. “ Sip non “ , jawab Pak Tono tanpa banyak bertanya.
Akhirnya Sisi pun menuju ke rumah pacarnya, yaitu Reza. Namun sayang, kemacetan seakan melanda perjalanan Sisi, dan tentu kemacetan ini membuat hati Sisi dilanda resah dan gelisah, namun perasaan yang melanda hati Sisi tersebut tidak berlangsung lama, perasaan Sisi tiba-tiba berganti dengan perasaan iba, ketika Sisi melihat di balik jendela ada seorang ibu-ibu di dalam bajaj yang sepertinya ingin melahirkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, Sisi langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
“ Bang, ibu-ibu yang di dalam, mau melahirkan ya? ” , tanya Sisi kepada sopir bajaj tersebut. “ Iya neng, ibu-ibu yang di dalem emang mau melahirkan “ , jawab sopir bajaj tersebut dengan wajah yang panik. “ Ya ampun kasian banget, sih..“  , ujar Sisi dengan wajah yang prihatin. “ Lho.. non Sisi kog malah disini, ayo non kita balik lagi ke mobil “ , ajak Pak Tono. “ Aduh pak, masa bapak gag ngeliat sih, kan di dalem ada ibu-ibu yang lagi pengen melahirkan, masa kita diem aja sih, kita tuh harus ngebawa ibu-ibu ini ke rumah sakit “ ,  ujar Sisi kepada Pak Tono. “ Iya juga sih, tapi caranya gimana non, kan jalanan macet? “ , tanya Pak Tono.
Mendengar pertanyaan Pak Tono, Sisi pun terdiam, seakan tak bisa menjawab pertanyaan pak Tono, namun Sisi tak kehilangan akal, Sisi tiba-tiba mendapat ide.
 “ Ehm.. gini aja, gimana kalo Pak Tono gendong Ibu-ibu ini sampai ke depan sambil ikutin jalan aku “ , ujar Sisi memberi ide. “ Iya…iya non, tapi mobilnya gimana non?“ , tanya Pak Tono kembali. “  Aduh.. udah biarin aja mobilnya dititipin sama abang bajaj “ , ujar Sisi tanpa berfikr terlebih dahulu.
Tanpa banyak bicara, Pak Tono mengikuti perintah Sisi dan meninggalkan sopir bajaj tersebut , namun setibanya mereka di depan, betapa kagetnya Sisi ketika melihat angkutan metromini yang ternyata menjadi penyebab kemacetan. Dan tanpa basa basi, Sisi pun  langsung menendang metromini tersebut dengan kakinya, dan tentu saja hal ini membuat amarah sopir metromini tersebut meluap.
“ Hei kau, kenapa pula kau tendang-tendang metro ku ini “ ,  ujar sopir metromini tersebut dengan logat bataknya. “ Lagian dari tadi gag jalan-jalan, gag tau apa kalo dibelakang ada ibu-ibu yang lagi melahirkan! “ , ujar Sisi dengan suara yang lantang. “ Lantas urusan dengan ku apa? Memang aku yang bikin wanita itu hamil?“ , ujar kembali sopir metro tersebut. “ Aduh…. Sakit… “ ujar ibu-ibu hamil tersebut merintih kesakitan. “ Aduh gimana nih, sabar ya bu.. sabar ” , ujar Sisi dengan wajah panik.  “ Ya udah non, daripada kelamaan mendingan kita bawa ibu-ibu ini ke metro ini aja, mumpung metro ini lagi kosong “ , ujar Pak Tono yang masih menggendong Ibu-ibu tersebut.
Ahirnya Sisi dan Pak Tono pun membawa ibu-ibu hamil tersebut ke dalam metromini yang tadi ditendang oleh Sisi. Sebenarnya Sopir tersebut mengusir mereka, namun dengan paksaan Sisi akhirnya hati sopir metromini tersebut luluh juga. Dan dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit, tiba-tiba saja Reza menelfon Sisi.
“ Sayang kamu lagi dimana sih, kog kedengerannya rame banget sih disitu? kamu jadi kan ke rumah aku “ , tanya Reza. “ Aduh maaf ya sayang, aku kayagnya gag jadi liburan ke pucak deh, soalnya aku lagi dalam keadaan gawat darurat nih “ , jawab Sisi. “ Gawat darurat apaan ? ” , tanya Reza kembali. “ Iya soalnya aku lagi lahiran “ , ujar Sisi. “HAAA? LAHIRAN ? SAMA SIAPA ?” , ujar Reza dengan sangat kagetnya.  “ Eh.. salah-salah maksud aku.. “
Gubrak…                                                                                                                       
Belum sempat Sisi mempebaiki kalimatnya, tiba-tiba saja hand phone Sisi jatuh ke bawah, lantaran sopir metromini tersebut mengemudi dengan sangat cepat. Namun ketika Sisi hendak mengambil handphonennya, sisi melihat darah  mengucur di kaki ibu-ibu hamil tersebut, tentu hal ini membuat Sisi terheran-heran, hingga akhirnya Sisi pun bertanya kepada ibu-ibu hamil tersebut.
“ Bu, kog tadi saya ngeliat darah ngalir di kaki ibu sih, ibu dateng bulan ya? “ , tanya Sisi polos. “ Wah non Sisi, itu sih namanya bukan dateng bulan, tapi itu namanya pendarahan non Sisi “ , jawab Pak Tono menjelaskan. “ Aduh..dek..aduh.. sakit “ , ujar kembali Ibu-ibu tersebut. “ APA ? PENDARAHAN ?? adduh… gimana nih, bu sabar ya bu.. tarik nafas yang dalem-dalem  terus keluarin, woi bang cepetan dong nyetirnya! “ , ujar Sisi dengan wajah yang panik.
Dan tiba-tiba saja kepanikan Sisi pun terhenti , lantaran tiba-tiba saja Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak.
“ Aduh..bang kalo ngerem itu pelan-pelan dong, gag liat apa ada ibu-ibu hamil nih “ , ujar Sisi marah. “ Kau ini bagaimana sih? kita sudah sampai ini di rumah sakit “ , jawab sopir metromini tersebut. “ Hah? udah nyampe ya, yaudah kalo gitu cepetan Pak Tono bawa Ibu ini ke dalam “ , ujar Sisi memberi perintah kepada Pak Tono.
Dan tanpa banyak bicara, akhirnya Pak Tono membawa Ibu-ibu hamil tersebut ke dalam rumah sakit yang diikuti oleh Sisi. Untung saja, saat mereka di dalam, mereka langsung bertemu dengan seorang dokter yang menangani tentang kehamilan, jadi ibu-ibu hamil tersebut langsung dibawa ke ruang bersalin. Selama 1 jam lebih, Sisi dan pak Tono menunggu, dan tentu hal ini membuat mereka dihantui perasaan cemas, namun perasaan cemas tersebut tiba-tiba berganti dengan perasaan haru, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin,  dan kebahagiaan mereka pun diikuti oleh ucapan teirma kasih dari ibu-ibu yang tadi.
“ Dek dan juga pak sopir, Ibu sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah mau mengantar Ibu sampai kesini “ , ujar Ibu-ibu tersebut sambil menggenggam tangan Sisi. “ Sama-sama bu, oh..ya Ibu  juga gag usah khawatir soal biaya persalinannya, pokoknya semua biaya persalinan Ibu biar saya yang tanggung “ , jawab Sisi. “ Ya ampun dek, makasih sekali ya dek, saya doakan semoga adek selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah “ , ujar kembali ibu-ibu tersebut. “ Amin.. oh, ya kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, soalnya udah mau malem “ , jawab Sisi mengakhiri percakapan.
Setelah Sisi dan pak Tono pamit pergi, akhirnya mereka pun pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Sisi mulai mengerti bahwa liburan bukan hanya sekedar bersenang-senang dengan pacar atu teman, melainkan menolong orang juga berarti liburan, dan ini bukan liburan biasa bagi Sisi, ini adalah sebuah liburan yang menyenangkan baginya. Namun saat Sisi sampai di rumah, Sisi pun langsung disambut dengan sejuta pertanyaan dari kedua orangtua Sisi, lantaran orang tua Sisi sangat cemas karena anak satu-satunya itu tidak pulang ke rumah dari tadi pagi. Akhirnya Sisi pun menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papanya, dan orang tua Sisi pun sangat bangga terhadap Sisi setelah mereka mendengar semua kejadian yang telah dialami oleh Sisi hari ini.
“ Mama sangat bangga sama kamu Si, tapi ngomong-ngomong kog kamu pulangnya pake taksi sih, bukannya tadi kamu bilang berangkatnya pake mobil ya? terus sekarang kog mamah gag liat mobilnya sih? “ , tanya Mama penasaran.            “ Ehm.. maaf ya Ma, mobilnya tadi aku titipin ke sopir bajaj “ , ujar Sisi dengan suara pelan.
“ Sisiiiii………. !!! “ teriak mama
Tamat

Lagi Lagi Suara Hatiku

        Perlahan-lahan derita ku kini mulai memudar, satu per satu duri di hatiku kini juga sudah mulai terjatuh, bahkan sinar kelam yang selalu menghiasi hidupku kini juga sudah berganti dengan sinar kebahagiaan. Yah, kebahagian yang telah kau buat akhir-akhir ini, seolah-seolah mengembalikan senyumku yang telah lama hilang, bahkan jiwa yang sudah lama layu ini, seakan terasa hidup kembali semenjak hadirnya dirimu disini. Ambisiku untuk memiliki dia, seakan terhenti ketika melihat senyummu yang seperti bunga di musim semi, dan kalau boleh jujur, kala aku melihat kedua bola matamu seolah aku juga melihat berjuta warna pelangi disana, terlebih lagi ketika kau mulai bersuara, seakan aku mendengar alunan symphony cinta yang membuat detak jantungku juga ikut bersenandung mengikuti alunan symphony cinta yang kau buat. 
     Namun perasaan yang kian melanda hatiku, justru membuatku takut kehilangan dirimu, aku takut kau akan menusukkan duri di hatiku, padahal kau tahu, kalau akan sangat sakit untukku, bila aku harus mencabutnya sendiri, tapi jauh di lubuk hati biruku, aku percaya bila semua itu hanya ketakutan bodoh yang terlintas di otakku saja.
      Kini, perasaan tersebut sudah terajut menjadi sebuah cinta, dan tentu saja takkan kubiarkan rajutan cinta itu tercabik seperti rajutan cintaku yang terdahulu, aku akan terus menjaganya dengan segenap hatiku, agar rajutan cinta ini tetap indah dan akan semakin indah bila kita sama-sama menjaganya.

Suara Hatiku Lagi

        Sayang ku, kini aku bukan lagi seorang pengemis cinta yang sering meronta dan meminta kasihmu, aku kini adalah seorang penanti, menanti sesuatu yang mungkin takkan pernah jadi kenyataan, penantian yang mungkin akan berakhir bila detak jantungku juga berhenti, tapi tak apa, menanti bukanlah hal yang meresahkan bagiku, menurutku menanti itu lebih elegan daripada harus mengemis cintamu seperti perawan cinta yang haus akan kasih.
       Menurutku, menanti itu adalah kegiatan yang menyenangkan, sebab kalau aku sedang menanti, aku bisa berimajinasi tentang kita di masa depan atau mengenang kenangan indah kita di masa lalu. Yah, masih jelas di benakku, tentang kita di masa lalu, terlebih tentang malam itu, masih terus berotasi di otakku. Yah, mana mungkin aku bisa melupakan saat kau mendekap tubuhku dengan sentuhan hangat tubuhmu, lalu membelai rambutku dengan lembut jarimu, serta menyentuh bibir yang tak berdosa ini, dengan sentuhan dingin bibirmu, dan tentu saja aku tak kuasa untuk memberontak ketika api cintamu sudah mulai bergejolak. Tapi kalau boleh jujur, kala itu aku memang sudah terjerat dalam hasrat cintamu. 
        Namun sayang, semua hal itu hanya sebatas kenangan lalu yang sebenarnya sangat sakit untuk aku ingat kembali, walaupun juga terlalu indah untuk aku lupakan. Dan kini, dalam kesepianku, aku harus berperang melawan kepedihanku sendiri untuk memperjuangkan apa yang seharusnya dulu aku perjuangkan.

Kamis, 09 Januari 2014

Suara hatiku

Untuk seseorang yang masih ku nanti...

       Ku lihat Mentari bersembunyi di balik awan, seolah enggan untuk tersenyum padaku, bahkan langit pun sudah mulai tak bersahabat, hanya sedih yang mau menemaniku. Namun kesedihanku tidak akan membuat api cintaku padam, api cintaku akan terus membara, sama seperti pertama kali kau menyentuh bibirku. Bahkan sentuhan dari bibirmu pun masih terus menghantui fikiranku.
       Dan seperti yang kau tahu, aku masih disini menantimu, aku tak peduli sekeras apapun kau menyingkirkan cintaku, bahkan sekalipun pelangi berubah menjadi hitam putih, itu semua tetap tidak akan membuatku goyah untuk mencintaimu. Menurutku, cinta tak akan berarti apa-apa bila aku belum bisa memiliki mu, mungkin terdengar arogan bagimu, tapi ini adalah aku yang mencintaimu lebih dari apapun. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku sangat lelah dengan semua ini, namun entah mengapa diri ini sangat haus akan kasih mu. 
       Sayangku, aku tahu ini tak lebih dari sebuah rangkaian kata yang menjijikkan bagimu, namun walaupun begitu, tetap ada satu hal yang perlu kau tahu, yaitu aku akan terus menanti cintamu hingga ragaku sudah tidak bernyawa lagi.

Minggu, 05 Januari 2014

Misteri Pohon Duren

       Oleh : Nola Dewanti
     “Da..ri musim duren hingga musim rambutan tak juga aku dapatkan“ ujar Egi, sambil memainkan ukulelenya. “Aggh.. suara lo itu ngeganggu konsen belajar gue tau gag?“ ujar Adriyan sambil memegang buku Sejarah yang tebal. “Idih.. gaya-gayaan pake belajar segala, emang lo lagi belajar apaan sih, dari tadi serius amat ?” tanya Egi kepada Adriyan. “Eh..kunyuk, lo gag liat apa daritadi gue megang buku sejarah“ ujar Adriyan dengan wajah yang kesal. “Yaellah Sejarah aja pake dipelajarin, eh.. iyan gue bilangin ke elo ya, yang namanya sejarah itu adalah sebuah masa lalu, dan masa lalu itu biarlah berlalu, gag usah kita inget-inget lagi, jadi ngapain juga sih lo belajar sejarah yang hanya sebuah masa lalu itu?” ujar Egi menjelaskan. “Bener..juga ya kata lu“ ujar Adriyan sambil manggut-manggut. “Siapa dulu Egi gitu lho.. udah ah, gue mau nyanyi lagi, da..ri musim duren…” Dan nyanyian Egi pun terhenti, lantaran tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. “Woi.. “ ujar seorang wanita kepada Egi. “Yaellah Rena, ngagetin aja sih, gag liat apa orang lagi latihan vocal“ jawab Egi ketus. “Ah..gaya-gayaan banget sih lu, pake latihan vocal segala. Eh..ngomong-ngomong soal duren, kog gue jadi ngidam duren ya, apa..lagi duren di pohon deket salon Bu Susi” ujar Rena kepada Egi dan Adriyan. “ Iddih.. udah kayag ibu-ibu hamil aja lu, pake ngidam segala…” jawab Adriyan. “Ih..iyan, gue serius juga, tau gag lo pas gue berangkat ngelewatin pohon duren itu, aroma durennya itu wa..ngi banget, nah..makanya itu gue mendadak ngidam duren, eh..ngomong-ngomong nanti pas pulang sekolah kita ambil duren dari pohon itu yuk!” ajak Rena kepada Egi dan Adriyan. “Ogah..ah..gue kagag berani kalo ngambil duren dari pohon itu,” ujar Egi. “Sama..gue juga kagag berani deh” sambung Adriyan. “Ih.. lu berdua kenapa sih, kog gag berani? ato jangan-jangan elo berdua gag bisa manjat ya..??” ujar Rena yang meremehkan keberanian Adriyan dan Egi. “Dih..bukannya kita gag bisa manjat Ren.. tapi pohon duren deket salon Bu Susi itu udah mulai angker, ya gag Gi?“ ujar Adriyan. “Youman coyy” sambung Egi. “Lho, angker kenapa?” tanya Rena. “ Nih..ya gue ceritain, seminggu sebelum kepindahan elo di RT kita, salah satu warga di RT kita sempet ada yang ngambil duren di pohon itu, kabar-kabarnya sih.. pas dia udah di atas pohon itu, dia ngedenger suara cewek yang lagi ketawa, dan elo tau apa yang dia liat pas dia nengok ke atas, dia ngeliat cewek pake baju putih sambil ngelempar duren ke arah orang itu, nah..semenjak kejadian itu deh, warga di RT tempat kita tinggal, udah gag ada yang berani buat ngambil duren di pohon angker itu, bahkan Ketua RT tempat kita tinggal juga gag berani tuh, untuk ngambil duren di pohon itu” ujar Adriyan menjelaskan. “Nah..terus nasib orang itu gimana donk?” tanya Rena kembali. “Ya, untungnya sih.. orang itu masih selamet, cuman tangannya doank yang patah, tapi semenjak kejadian itu, orang itu malah pindah rumah..” sambung Egi menjelaskan. “Oh..gitu.. eh, tapi cewek pake baju putih siapa ya?” tanya Rena sambil sedang berfikir. “Yah..pake nanya lagi, ya siapa lagi kalo bukan..” ujar Egi sambil menatap Adrian. “ KUNTILANAK.. ” ujar Egi dan Adrian sambil mengagetkan Rena. “Aghhhhh…...” dan Rena pun berteriak karena dikagetkan oleh Adriyan dan Egi . “Ih, rese banget sih lo berdua” ujar Rena dengan wajah yang kesal. 
      Adrian dan Egi pun tertawa terbahak-bahak melihat Ekspresi Rena yang kaget, namun tawa mereka pun harus terhenti, lantaran Pak Toro, guru Sejarah mereka sudah masuk. 2 jam berlalu, akhirnya pelajaran Pak Toro pun berganti dengan suara bel istirahat. Seperti bisanya, Adrian, Egi dan Rena pun pergi ke kantin bersama. Namun, saat mereka berada di kantin, Rena masih saja memikirkan sosok wanita yang ada di pohon duren itu. “Eh guys.. gue itu masih kepikiran tau gag, sama sosok cewek yang ada di pohon duren yang kata lo berdua angker itu“ ungkap Rena kepada Egi dan Adriyan. “Yaellah..masih penasaran juga lagi nih anak, kan gue udah bilang kalo sosok cewek di pohon angker itu ya kuntilanak, kalo bukan kuntilanak emang siapa lagi coba, ya gag Egi?” ujar Adriyan sambil mengunyah gorengan. “Yoi bro, lagian nih ya.. gue juga pernah tuh, ngedenger ketawa cewek gitu, pas motor gue lagi mogok di depan pohon angker itu, padahal gag ada cewek sama sekali di tempat itu, dan semenjak gue ngedenger ketawa itu, gue jadi makin yakin banget kalo suara itu adalah suara kuntilanak” ungkap Egi sambil mengunyah permen karet. “ Ehmm..tapi gue masih gag percaya kalo itu kuntilanak, sekarang lo berdua mikir deh, masa iya sih ada kuntilanak
yang bisa ngelempar duren?” ujar Rena yang masih penasaran. “Iya juga ya, emang gag masuk akal banget sih?” ujar Adriyan. “Ya kan gag masuk akal banget? nih..ya, gue punya ide, gimana kalo malem ini, kita ambil duren di pohon itu, dan kita buktiin kalo sebenernya ga ada kuntilanak di pohon itu?” pinta Rena kepada Adriyan dan Egi. Mendengar Perkataan Rena, Egi dan Adriyan pun hanya bisa terdiam sambil mengunyah makanan yang ada di mulut mereka. “Ih..lo berdua kenapa pada diem sih? oh..iya ya, gue lupa kalo lu berdua kan penakut, mana berani lu berdua malem-malem ke pohon angker itu , ya kan?” ujar Rena yang meremehkan keberanian Egi dan Adriyan. “Engg..kita itu bukannya penakut Ren.. tapi lo tau sendiri kan kalo perjaka tinting itu gag boleh keluar malem-malem, ya gag Iyan? ujar Egi sambil menyenggol sikut Adriyan yang dari tadi asyik mengunyah gorengan. “Oh..iya-iya, yoi banget tuh yang dibilangin Egi” sambung Adriyan. “Yaellah.. gag usah kebanyakan alasan deh lo berdua, gue gag mau tau ya, gue tunggu lo berdua jam 7 malem di pos ronda, pokoknya persahabatan kita putus kalo sampe lo berdua gag dateng” ancam Rena kepada Adriyan dan Egi.
         Tepat jam 7 malam Rena sudah berada di pos ronda, namun Adriyan dan Egi pun belum juga menampakkan diri mereka, akhirnya Rena pun mempunyai inisiatif untuk menelpon Adrian, tapi belum sempat Rena menelefon Adriyan, tiba-tiba saja ada seorang bapak-bapak menghampiri Rena. “Assalamualaikum nak Rena, lho nak Rena ngapain disini sendirian?” sapa bapak-bapak tersebut kepada Rena. “Eh..pak RT, waalaikumsalam pak, engg..saya lagi nunggu Egi sama Adriyan” ujar Rena. “Oh…gitu, Yaudah saya tinggal pergi gag apa apakan? soalnya saya mau ke salon Bu Susi buat keramasan” ujar Pak Rt kepada Rena. “Oh..yaudah gag apa-apa kog pak, kayagnya bentar lagi Egi sama Adriyan juga mau dateng” jawab Rena. “Ya sudah kalo begitu saya duluan ya” ujar Pak RT sambil menaiki sepeda ontelnya. “Iya pak..” ujar Rena. Usai Pak RT pergi, akhirnya Egi dan Adrian datang dan menghampiri Rena “Aduh..lo berdua lama banget sih datengnya, liat ni tangan gue bentol-bentol gara-gara digigitin nyamuk,” ujar Rena sambil menunjukan tangannya “Aah..sori deh, kan kita nyiapin ini dulu buat penangkal setan” ujar Egi sambil menunjukkan kalung bawang putih yang ada di lehernya. “Udah jam setengah delapan nih, yuk ah..kita ke pohon itu” ujar Adriyan sambil menaiki sepeda fixinya.
        Akhirnya Adriyan, Egi dan Rena pun pergi dengan sepeda fixi mereka. Sesampainya mereka di pohon itu, mereka sepakat untuk melakukan hompimpa terlebih dahulu agar bisa menentukan siapa yang akan memanjat pohon angker tersebut. Setelah mereka melakukan hompimpa, ternyata Adriyan lah, yang akan memanjat pohon angker tersebut. “Nah.. Adriyan sekarang cepetan elu panjat itu pohon angker” ujar Egi dengan wajah yang sumringah. “Iye..ini juga gue mau manjat“ ujar Adriyan sambil mulai untuk memanjat pohon duren tersebut. Akhirnya Adriyan pun memberanikan diri untuk memanjat pohon tersebut, namun saat Adriyan sudah sampai diatas pohon tersebut, Adriyan malah justru berteriak. “AGHGHHHHHGHH…….. “ teriak Adriyan. GUBRAK dan Adrian pun terjatuh dari pohon “Waduh..iyan lo kenape? Lo gigit kuntilanak ya?” tanya Egi dengan wajah yang panic. “Apaan sih lo gi, Iyan lo gag kenapa-kenapa kan?” tanya Rena kepada Adrian. “I..iya gue gag kenapa-kenapa kog, “ ujar Adrian sambil memegang kepalanya “Ya..terus pas diatas lo liat apaan?” tanya Rena penasaran. “Pas..diatas gue liat cewek pake baju putih terus rambutnya berantakan gitu, oh ya sama satu lagi, gue inget banget kalo di mukanya itu ada bekas lukanya” ujar Adriyan menjelaskan. “Tuh..kan Ren, udah kebukti kan, kalo sosok cewek di pohon ini yah kuntilanak, yaudah yuk..kita cabut aja, daripada nanti kita digigit ama tuh kuntilanak gara-gara kita udah ngeganggu dia” ujar Egi yang daritadi masih panik. “Tunggu dulu deh.. kayagnya gue sebelumnya pernah ketemu deh sama cewek yang ada di pohon ini, tapi dimana ya?” ujar Adriyan sambil mengingat. “Oh..iya, gue baru inget” ujar Adriyan lagi. “Lo inget apaan??” tanya Rena kembali. “Lo emang bener Ren, ternyata cewek itu emang bukan kuntilanak, gue baru inget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejer-ngejer gue,” ujar Adriyan. “Tapi lo beneran yakin kalo cewek itu adalah orang gila yang pernah ngejer-ngejer lo?” tanya Rena memastikan. “Iya Ren..gue itu yakin banget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejer-ngejer gue, nih ya.. gue inget banget kalo orang gila yang pernah ngejer-ngejer gue itu, juga punya bekas luka yang persis banget sama kayag cewek diatas pohon ini” ujar Adriyan sambil menunjuk kea rah pohon duren tersebut “Yaudah.. gimana kalo gue sama lo laporin semua masalah ini, ke pak RT, kebetulan pak RT lagi ada di salon Bu Susi, jadi kita gag usah jauh-jauh ke rumahnya” ujar Rena. “Iya..iya lo bener banget, kita memang harus ngelaporin semuan masalah ini ke pak RT, yaudah yuk” ujar Adriyan sambil beranjak berdiri. “yaudah yuk” sambung Egi. “Eh.. yang ngajakin lo untuk ikut siapa? gue kan ngajaknya cuman Adriyan doang” ujar Rena sambil beranjak berdiri juga. “Yah terus kalo gue gag ikut, gue ngapain dong?” tanya Egi dengan wajah yang bingung. “Yah… lo tetep disini lah, oh..ya sekalian juga lo turunin cewek itu ya, kan kasian gi, dia diatas pohon itu mulu” jawab Rena. “Bener tuh yang dibilangin Rena, lo harus tetep disini, lagian kan tadi gue udah manjat gi, jadi sekarang giliran lo lah…” sambung Adriyan. “Wah…lo berdua emang parah banget, masa lo tega sih ninggalin gue sendirian disini..” ujar Egi dengan wajah yang hampir mau menangis. “Tenang gi, cewek itu gag bakal ngegigit kog, kan dia bukan kuntilanak, ya gag yan?” jawab Rena. “Yoman.. yaudah yuk kita langsung ke salon Bu Susi” sambung Adriyan. 
        Akhirnya Adriyan dan Rena pun meninggalkan Egi, dan sesampainya mereka di salon Bu Susi, mereka pun langsung menemui pak RT dan menceritakan semuanya kepada pak RT. Dan setelah mendengar penjelasan Rena dan Adriyan, pak RT pun meminta kepada mereka untuk membuktikan semua omongan mereka. Tanpa bicara panjang lebar, Adriyan dan Rena pun langsung mengajak pak RT untuk ikut dengan mereka ke pohon Duren tersebut, agar bisa melihat kejadian yang sebenarnya. “Aduh..lo berdua lama banget sih datengnya, lo gag tau apa kalo nurunin cewek gila ini susahnya minta ampun” ujar Egi kesal. “Yaellah nurunin orang gila aja pake ngompol segala, lo bener-bener payah gi..” ujar Rena kepada Egi. “Tuh..kan pak dia bukan kuntilanak, liat aja tuh daritadi dia melukin Egi mulu” ujar Adriyan. “Yah..ya.. nak Adriyan dan nak Rena memang benar, dia memang bukan kuntilanak seperti yang saya kira selama ini, nah..kalo begitu saya minta maaf atas ketidakpercayaan saya, dan saya juga ucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Nak Adriyan dan nak Rena, berkat keberanian kalian berdua akhirnya misteri pohon duren ini terpecahkan juga, dan akhirnya juga duren-duren di pohon ini bisa dinikmati kembali oleh semua warga di RT sini” ungkap Pak RT “Yah..sama-sama kog pak” ujar Rena dan Adriyan bersamaan. “Kog yang diucapin cuman Adriyan sama Rena doang sih, saya juga ngebantuin kali pak, ga ngeliat apa saya sampe ngompol begini cuman gara-gara nurunin kuntilanak jadi-jadian ini doang” ujar Egi dengan kesal. “Oh..ya saya lupa, iya..saya ucapkan terimakasih juga yang sebesar-besarnya kepada nak Egi” ujar pak RT. “Yah..udah telat kali pak” ujar Egi ketus. “Ayang bebb kok marah sieh…” ujar cewek gila tersebut sambil mencium Egi.. “hahahahahaha…..” Adriyan, Rena, dan Pak RT pun tertawa 

TAMAT

Selasa, 17 Desember 2013

Akhir Penantian

Oleh : Nola Dewanti

“ Kakak...” sapa seorang wanita dengan raut wajah yang bahagia.
 “ Yaampun.. Sisil, bikin kaget aja deh lo, kalo mau masuk ketok pintu dulu donk ”   ucap Rachel kepada wanita tersebut.
“ Ih..sok penting banget deh kakak, masa sama adek sendiri harus ketok pintu segala, kayag orang lain aja ”, ucap Prisillia yang lansung duduk diatas sofa.
 “ Yah..mana gue tau kalo yang masuk itu elu, ngomong-ngomong tumben banget nih.. lo dateng ke kantor gue, ada apaan sih? ” ucap Rachel sambil memencet-mencet tombol handphonenya.
 “ Abisnya di bbm gag di bales-bales makanya aku kesini, oh..ya aku pengen bilang ke kakak, kalo besok aku itu pengen ngadaiin acara syukuran, ” ucap Sisil sambil mengelus-elus perutnya.
 “ Sukuran apaan? ” tanya Rachel.
 “ Yah..pake nanya lagi sukuran apaan, yah..sukuran 7 bulanan kehamilan aku lah, makanya besok kakak jangan sampe gag dateng ya? “, ucap Sisil kepada kakaknya, Rachel yang dari tadi masih sibuk dengan handphonennya.
“ Kak.. kakak denger gag sih, aku ngomong apa?” ucap Sisil lagi.
“ Hah..apaan? lo ngomong apaan tadi?” ucap Rachel yang dari tadi sibuk dengan handphonennya.
“ Tuh..kan dari tadi kakak gag denger aku ngomong apaan” , ucap Sisil dengan wajah yang kesal.
“ Sori deh.. emang tadi  lo ngomong apaan sih? ” , ucap Rachel sambil menatap  wajah kesal Sisil.
“ Besok tuh.. aku pengen ngadain acara sukuran buat 7 bulanan kehamilan aku, kakak jangan sampe gag dateng ya, emangnya kakak dari tadi ngapain sih..megangin handphone mulu, coba sini aku liat ” , ucap Sisil sambil mengambil handphone yang dari tadi dipegang Rachel.
“ Yaellah…pantesan aja bbm aku gag dibales, jadi dari tadi kakak chattingan  sama cowok nih.. akhirnya selama 17 tahun, kakakku ini pacaran juga ” , ucap Sisil sambil menggoda kakaknya itu.
                                                                                                                                                    
           Maklum, Rachel memang sudah tidak berpacaran semenjak lulus SMA, bukan lantaran Rachel tidak laku atau tidak cantik, melainkan Rachel trauma melihat kisah cinta almarhum Mamanya yang berujung perceraian, trauma yang dialami Rachel ini, membuat Rachel dilangkahi oleh adiknya, yang sudah menikah terlebih dahulu.
“ Yaiyalah.. saatnya gue harus membuka diri buat cowok-cowok yang udah lama ngantri buat gue, eh.. ngomong-ngomong nanti pas abis selesai sukuran, lo temenin gue  kencan ya, soalnya dia ngajakin kencan Sil..” pinta Rachel kepada Sisil.
 “ Yaampun..masa mau kencan aja harus di temenin sih, ehm..gimana ya? ” jawab Sisil kepada kakaknya.
“ Yah..Sil..ayo donk mau ya? ” ucap Rachel.
 “ ok..deh, aku mau, demi kakakku yang cantik ini ” , jawab Sisil kepada Rachel.
 “ Nah..gitu donk, itu baru namanya adik yang solehah” ucap Rachel dengan raut wajah yang bahagia.
      Keesokan harinya, setelah selasai sukuran 7 bulanan, akhirnya Rachel yang ditemani dengan adiknya, Prissilia berangkat ke suatu caffe di daerah Kemang untuk bertemu dengan pria tersebut. Tapi, hingga setengah jam Rachel menunggu di caffe tersebut, Farid, pria yang ia kenal lewat sosial media tersebut, belum juga menampakkan dirinya, hingga akhirnya Farid pun menelfon Rachel.
“ Hallo..Rachel kamu jadi dateng kan?  aku udah di caffe nih..” ucap Farid kepada Rachel.
“ Aku juga udah dateng kog, emang  kamu pake baju warna apa sih?” tanya Rachel kepada Farid.
 “ aku..pake baju warna biru ”  jawab Farid.
“ Sil..baju biru sill ” ucap Rachel kepada Sisil.
    Lalu Sisil pun langsung melihat-melihat kesekelilingnya, untuk mencari pria berbaju biru tersebut, dan mata Sisil pun langsung tertuju kearah belakang, karena memang dia satu-satunya pria berbaju biru di caffe tersebut.
“ Kak-kak.. itu kak cowok yang kakak cari ” ucap Sisil dengan suara yang pelan.
“ Mana sih?” tanya Rachel sambil melihat ke sekelilingnya.
 “ Itu..tuh..dibelakang kita” ucap Sisil lagi.
 Dan Rachel pun menengok kearah belakang untuk melihat pria yang ia cari.
“ ASTAGHFIRULLAH ’’ ucap Rachel yang langsung menunduk kebawah.
“ Halo..Rachel.. , kamu masih disitu kan? ” tanya Farid.
 “ Ehm..i..iya Farid, eh..Farid kayagnya aku gag jadi ketemuan sama kamu deh… ”
“ Lho kenapa? kan kata kamu, kamu udah disini? ” tanya Farid lagi.
 “ Eh..iya sih, tapi tiba-tiba perut aku sakit gitu.. gara-gara ngeliat cowok yang pake baju warna biru ” , ucap Rachel yang langsung menutup telfonnya dengan Farid.
“ Yuk..ah kita kita cabut ”, ucap Rachel kepada Sisil dengan muka yang kesal.
Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan caffe tersebut. Sepanjang perjalanan Sisil pun tertawa dengan bahagianya.
“ Wah..kakak emang..parah.. , kakak tega banget ninggalin dia sendirian di caffe, lagian kakak emang ga liat fotonya dulu apa? ” , ucap Sisil sambil menahan tawa.
“ Ih..gue itu, udah liat fotonya, tapi..foto yang ditunjukinnya itu beda banget sama aslinya, di fotonya itu, dia ganteng banget terus juga badannya kayag Deddy Corbuzier, tapi kenapa aslinya kayag Deddy kok..buncit ”, ujar Rachel kepada Sisil.
 “ Wuahhahhaha….” tawa Sisil kembali menggelegar.
 “ Eh..malah ketawa lagi nih anak, bukannya prihatin gitu, ini mah.. malah bahagia diatas penderitaan kakaknya “ , ucap Rachel dengan wajah yang kesal.
“ Haha..sori deh kak.. gitu aja marah, yaudah deh..daripada kakak marah-marah terus, mendingan kakak dateng kesini aja, siapa tau abis pulang kakak dapet pencerahan ” , ucap Sisil sambil menunjukan kartu nama seorang ustad kepada Rachel.
“ Apaan tuh?” ucap Rachel dengan wajah yang bingung.
“ Masa kakak gag inget sih? baru aja tadi dia ceramah di  acara sukuran aku,” ujar Sisil.
“ oh..ustad yang mirip Rizky Nazar itu, ya? ” ucap Rachel sambil mengambil kartu nama ustad tersebut.
“ Yaps..bener banget, yah..aku sih cuman nyaranin kakak untuk dateng kesini aja, kan siapa tau abis pulang kakak dapet jodoh deh..” ujar Sisil kepada kakaknya.
       Ternyata keesokan harinya Rachel memilih untuk tidak bekerja, lantaran Rachel memang benar-benar ingin pergi ke rumah ustad tersebut. Setibanya Rachel di rumah ustad tersebut, Rachel langsung disapa dengan sopan oleh ustad tersebut . Sebenarnya maksud kedatangan Rachel ke rumah ustad tersebut, awalnya memang hanya untuk mencurahkan segala permasalahan yang kini sedang dihadapinya, namun, niat awal itu berubah menjadi perasaan cinta, ketika Rachel mendengar semua nasihat yang diberikan oleh ustad tersebut. Maklum, selain mahir dalam merangkai kata-kata, ustad tersebut juga memiliki paras yang mirip dengan Rizky Nazar, wajar Rachel jadi naksir dengan ustad tersebut.
“ Ehm..makasih ya ustad, gara-gara nasihat ustad, sekarang saya jadi ngerti cara menghadapi permasalahan saya..” ucap Rachel dengan mata yang berbinar-binar.
 “ Yah..sama-sama, kan tugas saya cuman menyampaikan saja ” ucap ustad tersebut kepada Rachel yang dari tadi senyum-senyum sendiri.
      Namun perasaan cinta Rachel kepada ustad tersebut tidak berlangsung lama, perasaan itu berubah ketika tiba-tiba  2 orang wanita berpakaian muslim datang menghampiri ustad tersebut.
“ Assalamualaikum abi ” , ucap kedua wanita tersebut sambil mencium tangan ustad tersebut.
“ Wa’alaikumsallam, nah..ini neng Rachel…  istri-istri saya, Aisyah dan Annisa,”
 “ Assalamualaikum mbak Rachel ” sapa kedua wanita tersebut dengan sangat sopannya.
“HAH? APA? ISTRI-ISTRI USTAD???” ucap Rachel dengan wajah yang sangat kaget.
“ Iya, ini istri-istri saya, Aisyah dan Annisa, kenapa emangnya ya?” Tanya ustad tersebut.
 “ Ehmm..gag apa-apa kok ustad, e..yaudah deh saya pamit pergi dulu ya, assalamualaikum ustad ” ucap Rachel yang langsung pergi meninggalkan ustad tersebut.
       Dengan perasaan yang kesal akhirnya Rachel pergi meninggalkan ustad tersebut, namun sebelum Rachel naik ke mobilnya, Rachel terlebih dahulu menelevon Sisil.
“ Eh..anak sinting, lo tega-teganya banget ya, mau ngejodohin kakak lo  sendiri sama ustad yang udah punya 2 istri, gue tau Sil.. gue itu perawan tua, tapi..bukan berarti  gue mau rela dijadiin istri yang ke 3  juga kali..” ucap Rachel kepada Sisil.
 “ Tunggu-tunggu.. ada apaan sih ini?, tiba-tiba nelvon marah-marah gitu? ” tanya Sisil.
“ Alah.. gag usah pura-pura gag tau gitu deh.. lo kan  yang nyaranin gue buat dateng ke rumah ustad itu, terus lo bilang kalo gue dateng ke rumahnya, gue bisa berjodoh sama tuh ustad. Tapi apa? Tuh..ustad udah punya 2 istri. ” ucap Rachel lagi.
 “ Oh..ustad yang kemaren gue tunjukin itu,.. hah? kakak bilang apa tadi, punya 2 istri? perasaan baru minggu kemaren, dia bilang cuman punya 1 istri, kenapa sekarang udah 2 aja.. cepet amat yah..”  jawab Sisil.
 “ Wah..lo emang bener-bener gag punya perasaan, udah tau dia udah punya istri, terus kenapa waktu itu, lu bilang kalo gue ke rumah tuh ustad, gue bisa dapet jodoh? ”  tanya Rachel.
“ Iya sih.. waktu itu aku bilang kayag gitu, tapi maksud aku itu, siapa tau kakak bisa dapet jodoh setelah kakak mendengar nasihat-nasihat dari tuh ustad, bukan berarti aku mau ngejodohin kakak sama ustad itu ” ucap Sisil dengan sangat jelas.
 “Ah..tau ah..lama-lama gue bisa gila ngomong sama  lu terus ”, ujar Rachel yang langsung menutup telvonnya dengan Sisil .
     Usai memarahi Sisil lewat telfon, Rachel  tidak langsung ke rumahnya, melainkan Rachel pergi ke suatu caffe untuk menenangkan pikirannya. Akhirnya Rachel tiba di caffe tersebut, namun, saat Rachel masuk ke caffe tersebut, tiba-tiba seseorang pria menabrak Rachel, hingga membuat Rachel jatuh.
” Rachel…” ucap pria tersebut sambil membantu Rachel berdiri.
 “ Ehm..siapa ya? ” ucap Rachel dengan wajah yang bingung.
“ Ini..gue Reyhand temen SMP lo? Masa lo lupa sih? ” jawab pria tersebut.
“oh..iya-iya..gue inget, elo Reyhand yang suka ngompol itu ya?” ujar Sisil kepada Reyhand.
“ Yah..jangan inget bagian itunya donk ”, ucap Reyhand dengan wajah menahan malu.
“ Haha..abisnya lo waktu SMP suka banget ngompol sih..” , ujar Rachel lagi.
 “oh..iya maaf ya, tadi gue gag sengaja nabrak lo, ehm..gimana sebagai permintaan maaf gue, lo, gue traktir minum kopi? ” , pinta Reyhand kepada Rachel.
 “ Ehm…oke deh, kalo gitu ” , ujar Rachel.
      Semenjak hari itu Rachel bertemu dengan Reyhand, sikap Rachel jadi berubah seperti gadis ABG yang sedang jatuh cinta, hingga pada akhirnya mereka pun berpacaran. Dan semenjak Rachel berpacaran dengan Reyhand, trauma Rachel pun sedikit demi sedikit mulai sembuh  dengan seiringnya waktu. Hingga pada akhirnya Reyhand pun melamar Rachel.
“ Rachel..aku punya surprise buat kamu, tapi syaratnya kamu harus tutup mata dulu ” , pinta Reyhand kepada Rachel.
 “ surprise..apaan sih?” tanya Rachel dengan wajah yang bingung.
 udah..kamu tutup mata aja dulu ” ujar Reyhand.
“ oke..oke aku tutup mata nih…” ujar Rachel, sambil menutup matanya.
“ nah.. sekarang buka mata kamu. ” ujar Reyhand kepada Rachel.
Dan ketika Rachel membuka matanya, Rachel melihat sebuah kotak berisikan cincin yang sedang dipegang oleh Reyhand.
“ Rachel.. mungkin aku gag bisa jadi pacar yang sempurna buat kamu, tapi aku janji sama kamu, akan berusaha menjadi imam yang baik buat kamu setelah kamu memakai cincin ini di jaris manis kamu ” ucap Reyhand sambil memegang kotak yang berisikan cincin.
 “ Aku juga janji akan menjadi istri yang baik buat kamu ” jawab Rachel dengan singkat.
       Semenjak saat itu, Rachel sudah tidak menjadi cewek single lagi, Rachel sudah memiliki Reyhand yang akan siap menjadi pasangan hidupnya.  Gedung, undangan, baju pernikahan, semua sudah dipersiapakan oleh mereka untuk acara pernikahannya nanti. Namun sayang, keadaan tidak memihak Rachel. Seminggu sebelum acara pernikahan mereka, Reyhand mendadak harus pergi ke Belanda, lantaran Reyhand harus menjenguk opanya yang mendadak sakit keras.
“ Reyhand.. kamu ke Belandanya,  ntar aja ya abis pernikahan kita? ” pinta Rachel kepada Reyhand.
“ Gag..bisa gitu dong sayang, aku kan cucunya, iya kalo setelah pernikahan aku masih bisa lihat opa, kali engga, gimana? ” ucap Reyhand sambil membelai rambut Rachel.
“ Yaudah..kalo gitu aku ikut ke Belanda, ngejenguk opa kamu ” ujar Rachel.
 “ Lho..kamu gimana sih? kalo kamu ikut, nanti siapa yang ngurusin persiapan acara pernikahan kita?,  udah ya, kamu gag usah khawatir, aku pasti bakalan pulang kog, sebelum acara pernikahan kita ” , ucap Reyhand sambil mencium kening Rachel.
       Namun, semenjak Reyhand pergi ke Belanda, tak pernah sekalipun Reyhand memberi kabar kepada Rachel, bahkan televonnya pun tidak pernah aktif. Reyhand benar-benar seperti hilang ditelan bumi, hingga tanggal pernikahan mereka pun berlalu, Reyhand belum juga menampakkan dirinya. Dan semenjak saat itu, Pernikahan yang dimimpikan Rachel seakan sirna begitu saja, bahkan hidup Rachel semakin tidak karuan. Rachel mendadak berhenti bekerja, tubuhnya pun, kian lama semakin kurus, tidak ada lagi tawa dalam hidup Rachel. Tentu hal ini membuat Sisil sangat khawatir terhadap kondisi kakaknya tersebut.
“ Kak..sampe kapan sih kakak mau kayag gini terus ” , ucap Sisil kepada Rachel.
“ Sampe Reyhand dateng ” ucap Rachel sambil terus menatap gaun pernikahannya.
“Kak..Reyhand tuh..gag akan pernah dateng, Reyhand itu cuman cowok brengsek, ayo donk..kak, kakak tu..gag boleh kayag gini terus, Mama pasti sedih ngeliat kakak kayag gini, kakak harus move on dari Reyhand, masih banyak diluar sana cowok yang lebih baik daripada Reyhand,” ucap Sisil kepaa kakaknya.
       Namun semua perkataan Sisil, tetap tidak membuat Rachel sadar, Rachel justru pergi meninggalkan Sisil.  Dan Rachel akhirnya pergi ke suatu caffe yang biasa ia dan Reyhand datangi. Namun saat Rachel tiba di caffe tersebut, Rachel seperti melihat Reyhand dari arah jauh.
“ Reyhand…” ucap Rachel sambil mencoba mendekati pria tesebut.
       Dan saat Rachel menyebut namanya, pria tersebut membalikan badannya, ternyata memang benar, pria tersebut adalah  Reyhand sang belahan jiwa Rachel. 
     Namun , ketika Rachel ingin menghampiri Reyhand, tiba-tiba sesosok wanita muncul menghampiri Reyhand, dan ketika wanita itu muncul, Reyhand pun tersenyum dan langsung mencium kening wanita itu.
        Dan semenjak saat itu, berakhir sudah penantian Rachel selama ini..

Tamat