Minggu, 18 Mei 2014

Desember 12







      Kulitnya yang kelabu, serta tubuhnya yang hanya ditutupi oleh koteka sangat menegaskan bahwa pria itu berasal dari daerah cendrawasih. Dilihat dari parasnya, pria itu tidak terlalu menawan, namun sepertinya hal itulah yang membuat seorang gadis Jawa berdarah ningrat seperti Lembayung Gendis Jayadiningrat, justru semakin asik menikmati wajah pria tersebut melalui bingkai foto yang saat ini sedang dipegangnya. Saat Gendis menatap pria tersebut melalui bingkai foto, Gendis nampak begitu bahagia, namun terkadang butiran air mata juga mengalir dari bola matanya, dan juga sering diiringi oleh jeritan yang histeris.  Dan kini, perasaan pilu bercampur rindu menyelimuti hati Gendis, bahkan fikiran Gendis pun teringat pada Desember 12, yah itulah tanggal yang mempertemukan Gendis dengan sosok pria tersebut. Perkenalan Gendis dengan sosok pria tersebut, seolah membuka kembali lembaran kenangan manis Gendis dengan pria tersebut.

 2009, Desember 12
Semburat cahaya jingga yang muncul di ufuk timur sangat menghiasi kanvas angkasa kala itu. Rumput yang bergoyang mengiringi senandung dari kicauan burung, serta langkah kaki warga Saubeba telah mengusik tidur Gendis. Walaupun sedikit  tertatih, namun ke dua bola mata perempuan berambut lebat itu akhirnya terbuka juga. Perempuan itu hanya mencuci wajah manisnya, maklum daerah disana masih kekurangan pasokan air kala itu. Setelah membasuh wajahnya, perempuan itu lekas berganti pakaian tidurnya dengan baju bermotif  batik khas kota pelajar. Gendis hendak pergi dari rumah kepala desa yang semalam ia singgahi, namun sebelum ia pergi, kamera Polaroid segera dia masukkan ke dalam ransel yang motifnya tak jauh beda dengan baju yang dia kenakan saat itu. Sebenarnya Gendis ingin meneliti kebudayaan desa Saubeba untuk bahan skripsinya, namun lantaran Gendis belum bisa berbahasa Papua dengan benar, jadi Gendis butuh seseorang untuk membatunya berkomunikasi. Peneas Lokbere yang menjadi kepala desa disana menyarankan agar Gendis menunggu seorang pemuda yang nantinya bisa membantu Gendis. Satu jam Gendis  menunggu kedatangan sosok pria tersebut, namun pria yang disebut-sebut bisa membantu Gendis pun belum terlihat juga, karena terlalu lama akhirnya Gendis hendak pergi sendiri, namun sayang rencana Gendis untuk pergi sendiri pun gagal, lantaran sosok pria yang masih menggunakan koteka tersebut akhirnya menampakkan dirinya di hadapan Gendis. Mata Gendis tak  berkedip sedikit pun ketika dia melihat sosok pria tersebut.
“ Kamu wanita yang bernama Gendis? “ tanya pria tersebut
Gendis diam seribu bahasa, lalu pria tersebut mencoba memegang tangan Gendis.
 “ Ayo cepat hari sudah mulai siang “ ujar pria tersebut dengan logat Papuanya.
Tersadar tangannya sedang digenggam oleh pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis melepaskan tangannya dari genggaman pria berambut keriting itu.
“ Ehm.. i..iya aku Gendis, tapi kamu siapa? “  tanya Gendis dengan tatapan yang sinis.
“ Dia adalah orang yang saya bilang bisa membantu kamu, namanya Yoku Morinta Kharell” ujar Pak  Peneas Lokbere yang tiba-tiba keluar dari dalam rumahnya.
“ Apaa? dia bisa bantu saya? dia saja masih memakai koteka Pak, bagaimana bisa dia membantu saya?” ujar Gendis tak percaya
“ Walau dia masih mengenakan koteka,  tapi dia orang sangat dikenal oleh masyarakat disini, jadi saya kira dia pasti sangat membantu kamu, lagipula Yoku juga lancar berbahasa Nusantara “ ujar Pak Peneas dengan khas logatnya.
“ Tapi pak..??”
“ Sudahlah kasihan Yoku menunggu, hari juga mulai siang”, ujar Pak Peneas
          Akhirnya Gendis dan Yoku pun pergi meninggalkan Pak Peneas. Sepanjang perjalanan Gendis bertanya-tanya seputar kebudayaan dari desa Saubeba, cukup banyak yang diketahui oleh Yoku, terlebih lagi sikap Yoku yang sangat ramah terhadap Gendis, membuat Gendis ingin mengambil foto Yoku melalui kamera Polaroid yang ia bawa. Gendis yang awalnya beranggapan bahwa Yoku  adalah sosok yang terbelakang, kini justru menganggap bahwa Yoku adalah sosok pria yang menyenangkan. Namun karena langit sudah nampak merekah kemerah-merahan, akhirnya Yoku dan Gendis memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Peneas.
“ Ehm…  aku ingin sekali melihat penyu belimbing” ujar Gendis sepanjang perjalanan pulang.
“ Kalau Gendis ingin melihat penyu belimbing, bagaiamana kalau besok saya dan Gendis pergi ke Jamursba Medi, disana Gendis bisa melihat penyu belimbing bertelur “ ujar Yoku dengan logat bahasanya yang kental.
“ Sungguh kamu ingin membawa aku kesana?” tanya Gendis
“ Tentu, mengapa tidak?”
“ Kalau begitu aku tunggu kamu di rumah Pak Peneas jam 3 sore ya?” ujar Gendis tersenyum manis.
“ Saya janji akan datang ”, ujar Yoku dengan semangat.
Langit yang tadi merekah kemerah-merahan kini berubah jadi gelap, dan Gendis pun baru memasuki rumah Pak Peneas setelah Yoku melambaikan tangannya. Keesokan harinya tepat pukul 3 sore, Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis, namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Yoku tidak memakai koteka melainkan Yoku memakai baju seperti orang kebanyakan.
“ Sudah menunggu dari tadi?” tanya Yoku
“ Yah begitulah, tapi mengapa hari ini penampilanmu berbeda?” ujar Gendis balik bertanya.
“ Ehmm.. saya hanya ingin tampil beda saja, ah, sudahlah lebih baik kita segera pergi “ ajak Yoku.
Yoku dan Gendis pun pergi menuju ke Jamursba Medi. Selama perjalanan Gendis masih bertanya kepada Yoku seputar kebudayaan dari Desa Saubeba, dan tak terasa waktu cepat berlalu, akhirnya Yoku dan Gendis pun tiba di Pantai Jamursba Medi. Setibanya disana, mata Gendis langsung dimanjakan oleh pemandangan pantai pasir putih Jamursba Medi yang membentang sangat indah. Pertama kali kaki Gendis menyentuh permukaan pasirnya, Gendis langsung bisa merasakan halusnya butiran pasir Jamursba Medi, terlebih lagi bayi-bayi penyu belimbing yang sedang merangkak menuju lautan  seakan menyambut kedatangan Gendis dan juga Yoku. Hari mulai senja, namun Gendis seperti tak ingin beranjak pergi dari Jamursba Medi. Sementara itu, Yoku yang masih setia menemani Gendis di Jamursba Medi hanya bisa menatap wajah ayu Gendis.
“ Sore hari disini begitu indah sekali, rasanya aku tak mau pergi dari sini, tapi sayang besok aku harus balik ke Yogya “, ujar Gendis
“ Yogya?” tanya Yoku
“ Iya Yogya, tempat asal ku ”
“ Maksud Gendis, besok Gendis sudalah tidak ada di Sauseba lagi? “ tanya Yoku kembali.
“ Iya “ jawab Gendis sambil mengangguk
  Yoku diam sesaat setelah mendengar perkataan Gendis.
“ Yoku, kenapa kamu diam?” tanya Gendis
“ Ah tak apa, saya hanya tak menyangka secepat itu Gendis pergi”, ujar Yoku tak semangat.
Yoku dan Gendis saling diam, namun wajah dua insan itu jelas menunjukkan bahwa ada sebuah cinta yang tak mampu untuk dideskripsikan. Dan seiring senja yang mulai menua, bibir Yoku pun secara perlahan mulai menyentuh bibir merona Gendis. Pantai Jamursba Medi seakan menjadi saksi bisu cinta mereka.

           Satu tahun kemudian…

2010, Desember 12
Gendis yang hanya seorang diri bersepeda menyusuri jalan Malioboro, terlihat begitu ayu dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya. Namun sayang, senyum manis yang menghiasi parasnya itu tidak berlangsung lama, raut wajah Gendis mendadak panik tak karuan, dikarenakan rem sepeda Gendis mendadak blong, hingga menyebabkan Gendis terjatuh dan hampir menabrak seorang pria.
“ awasss….” teriak Gendis
Gendis jatuh dari sepedanya, sementara  itu pria yang hampir ditabrak oleh Gendis selamat. Tersadar bahwa Gendis terjatuh, pria itu pun segera menghampiri Gendis.
“ Kamu tidak apa-apa?” tanya pria tersebut.
“ A..a..duh, kaki aku” ujar Gendis merintih kesakitan
“ Kaki kamu kenapa?” tanya pria tersebut kembali
“ Kaki aku…” ujar Gendis sambil menatap wajah pria tersebut.
Dan ketika Gendis menatap wajah pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis membisu, seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya itu nyata.
“ Gendis “ ujar pria tersebut terkejut
Gendis masih diam
“ Gendis, ini saya Yoku?” ujar Yoku kembali
“ Yoku..” ujar Gendis
Sontak Gendis menangis dan langsung memeluk erat tubuh Yoku. Yoku terdiam, namun tangan kanannya membelai rambut hitam Gendis. Sentuhan lembut dari jemari Yoku, perlahan mulai menyeka butiran air mata Gendis.
“ Aku tak sangka, kita bisa bertemu lagi di Desember 12, tanggal yang sama ketika kita pertama kali bertemu di Saubeba”  ujar Gendis sambil mengusap bola matanya yang sembab.
Mendengar  Gendis berkata seperti itu, Yoku hanya membalasnya dengan sebuah senyum manis yang terpancar di wajah cerahnya, namun sayang cerahnya wajah Yoku, tak secerah langit di Malioboro kala itu. Langit kala itu nampak kelabu, pertanda butiran air hujan akan jatuh ke bumi, dan ternyata benar rintihan hujan mulai membasahi mereka.
“ Hujan.. ayo segera kita berteduh “ ujar Yoku sambil beranjak berdiri
Gendis berusaha berdiri, namun kakinya yang terkilir tidak bisa menopang tubuhnya.
“ adduh.. “ ujar Gendis yang terjatuh saat berusaha berdiri
“ kaki kamu terkilir?” tanya Yoku
“ iya “ ujar Gendis mengangguk
“ Kalau begitu kamu naik di atas punggungku, biar ku gendong! “ ujar Yoku sambil membungkukkan tubuhnya
“ Kamu sungguh ingin menggendong ku?” tanya Gendis kaget
“ iya, ayo cepatlah naik ke punggungku” ujar Yoku sambil menolehkan wajahnya
 Dan Gendis pun menaiki punggung Yoku
“ Pegangan yang erat, kita akan berlari bersama “ ujar Yoku
Akhirnya Yoku berlari sambil menggendong Gendis. Gendis yang berada di atas punggung Yoku pun nampak begitu bahagia, dan tak berapa lama kemudian Yoku memilih sebuah kedai kopi untuk tempat berteduh.
“ kita sementara disini dulu ya, sampai hujannya reda “ ujar Yoku sambil menurunkan Gendis
“ iya ga apa-apa, oh ya kamu kenapa ke Yogya? “ tanya Gendis
“ Saya kesini karena Pak Peneas yang menyuruh, katanya saya bisa banyak belajar disini ” ujar Yoku sambil membuka sebuah buku yang dibawanya.
“ Oh.. jadi begitu ya”
Selama mereka menunggu hujan reda, Yoku membaca buku tersebut , sebuah buku yang tak dikenal oleh Gendis.
“ itu buku apa ? “ tanya Gendis bingung
“ Ini bukan buku, tapi ini Kitab”
“ Kitab apa?” tanya Gendis kembali
“ Injil “
“ Injil? Itu berarti kamu..?”
“ Aku nasrani “ ujar Yoku sambil menunjukkan kalung salibnya
Mendengar pernyataan Yoku sebagai umat Nasrani, Gendis tiba-tiba terdiam, bibirnya seakan kelu.
“ Gendis kamu kenapa? “ ujar Yoku bingung
“ Ah, aku ga apa-apa kog, tapi kalau boleh tau kamu sejak kapan jadi umat nasrani? “
“ Sejak kamu meninggalkan Saubeba ,dan semenjak saat itu saya menjadi manusia yang sering marah-marah, tapi saya bersyukur Pak Peneas mengajarkan saya tentang keikhlasan dan juga kasih Tuhan, dan saat itu lah saya jadi lebih dekat dengan Tuhan Yesus, kamu masih ingat dengan Pak Peneas kan?”
“ Iya aku ingat kog, oh..ya hujannya udah reda, aku pergi dulu ya “ ujar Gendis
“ Kalau begitu saya antar ya”  ujar Yoku sambil menutup kitab injilnya
“ Ga usah, rumah aku dekat kog dari sini”
“ Tapi kaki kamu?” tanya Yoku
“ Di ujung jalan ada andong kog, kaki aku juga sekarang ga terlalu sakit sih, buktinya aku sekarang bisa berdiri “
“ Ehm..yasudah kalau kamu inginnya begitu, tapi kamu yakin kaki kamu tidak kenapa-kenapa?”  tanya Yoku kembali
“ Iya kaki aku beneran ga kenapa-kenapa, yaudah kalau gitu aku duluan ya” ujar Gendis
Dan Gendis pun berjalan menuju ke sebuah andong di ujung jalan, namun saat Gendis sudah berada di ujung jalan dan segera ingin menaiki andong tersebut, tiba-tiba Yoku berteriak
“ Gendis…!! “ teriak Yoku
Mendengar teriakkan Yoku, Gendis hanya menoleh dengan tatapan wajah yang bingung
“ Sa Cinta Ko “ teriak Yoku dari kejauhan
“ Apa?” ujar Gendis yang juga ikut berteriak
Yoku sempat diam sesaat, namun matanya mengarah ke sebuah papan reklame dekat kedai kopi tempat ia berteduh, dan setelah melihat tulisan di papan reklame tersebut, Yoku kembali berteriak
“ Saya Tresno Karo Kowe “ teriak Yoku kembali
Mendengar perkataan Yoku seperti itu, sontak Gendis langsung berlari menuju Yoku, dan saat Gendis berada tepat di hadapan Yoku, secara tiba-tiba Yoku langsung memeluk erat tubuh mungil Gendis.
“ saya cinta kamu “ ujar yoku sambil memeluk Gendis
“ Aku tau itu, oh..ya tadi kalimat yang pertama kamu katakan, itu bahasa apa, kog aku ga pernah dengar ya”
“ Maksud kamu Sa Cinta Ko?
“ Iya, itu apa maksudnya?”
“  Itu bahasa Papua, yang artinya saya cinta kamu “
“ Oh gitu, terus kamu kenapa ngucapin untuk yang kedua kalinya dalam bahasa Yogya? kamu tau dari mana?”
“ Saya tau dari situ “ ujar Yoku sambil menunjuk ke sebuah papan reklame
“ hahahhaha..” ujar Gendis yang tertawa
Dan Gendis pun tertawa  saat melihat papan reklame untuk pertunjukan ketoprak yang ditunjuk oleh Yoku.
“ Lho, kamu kenapa ketawa? memang ada yang lucu?”
“ Ga apa-apa kog, “ ujar Gendis sambil menahan tawa
“ Ehmm.. yasudah  kalau begitu kamu sekarang mau saya antar?” tanya Yoku kembali
“ Iya aku mau “ ujar Gendis sambil mengangguk
Semenjak pertemuan itu, hubungan Gendis dengan Yoku kian hari semakin dekat. Hubungan mereka bukan lagi sekedar teman biasa, melainkan lebih dari itu. Rupanya hasrat cinta masih melekat di hati Gendis dan juga Yoku, dan pertemuan itu seolah mengobarkan kembali api cinta diantara mereka. Hari demi hari mereka menjalin sebuah cinta yang terdengar klise bagi orang lain, terlebih lagi bila mereka sedang pergi bersama dan terdengar suara adzan berkumandang , pastilah saat itu juga Gendis meminta Yoku untuk menemaninya ke musalla, tempat dimana Gendis bersujud menyembah Sang Maha Kuasa. Sementara itu, Yoku yang berkalung salib sangat setia menunggu Gendis keluar dari musalla. Namun ketika Gendis dan juga para jamaah yang lainnya keluar dari musalla, sering kali para jamaah itu berbisik-bisik menyudutkan Gendis.
“ Keturunan ningrat kog ya pacarannya sama orang kafir, kayak ndak ada laki-laki yang lain aja yo
Begitulah mereka berkata dengan logat Jawanya yang kental. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh para jamaah itu justru semakin membuat Gendis mempertahankan hubungannya dengan Yoku.
       Segala rintangan dan hambatan telah dilalui bersama oleh Gendis dan juga Yoku selama 12 bulan.  Namun sayang, nampaknya hubungan yang selama ini diperjuangkan, seakan menyeret Gendis ke dalam sebuah ketakutan yang selama ini dirisaukan olehnya. Yah, keimanan yang dianut oleh Yoku adalah hal yang membuat Gendis tidak bisa bersama  dengan  Yoku secara utuh, dan itu alasan dari segala ketakutan yang terus berotasi di benak Gendis.
“ Kita sudah melewati jutaan detik, aku khawatir jika kita ga bisa melewati lebih dari itu “ ujar Gendis sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Yoku
“  Mengapa kamu mengkhwatirkan sesuatu hal yang hanya berlandaskan jika?” tanya Yoku
“ Entahlah, mungkin karena rasa khawatir inilah yang membuat aku bertahan hingga sejauh ini”
“ Tapi bukankah khawatiranmu itu tidak terjadi?”
“ Bukannya tidak terjadi, tapi belum terjadi saja, dan itu yang membuat aku semakin takut kehilangan dirimu “
“ Rasa takutmu itu hanya akan melukai hatimu saja, tenanglah saya terlahir ke dunia ini hanya untukmu, apakah itu belum cukup untuk menghilangkan rasa takutmu?”
“ Mungkin kamu memang terlahir untukku, namun apakah kamu dan aku ditakdirkan untuk bersama?”
“ Saya tidak bisa meramalkan takdir, tapi saya yakin Tuhan tahu yang terbaik untuk kita,” ujar Yoku sambil mengenggam erat jemari Gendis
“ Oh ya, nanti malam datang ke rumah aku ya, soalnya aku ingin ibu tahu tentang hubungan kita”
“ Saya janji akan datang ”
            Pukul 7 malam Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis dan juga Ibu Gendis. Yoku yang kala itu mengenakan setelan tuxedo tampak begitu gagah ketika menyapa Ibu Gendis. Awalnya, percakapan antara Ibu Gendis dan Yoku berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi sikap ramah yang ditunjukkan  oleh Ibu Gendis terhadap Yoku membuat rasa ragu di hati Gendis akan hubungannya perlahan mulai pudar. Namun sayang, sikap ramah yang ditunjukkan oleh Ibu Gendis mendadak berubah ketika ia melihat kalung salib melingkar di leher Yoku. Bahkan raut wajahnya pun berubah seperti  api  amarah yang segera ingin disemburkan ke putri satu-satunya itu. Dan secara tiba-tiba saja dia menarik tangan Gendis dan memaksa Gendis untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan Yoku.
“ Kamu toh kenapa ndak bilang ke ibu kalau pria itu bukan muslim, kamu tahu kan kalau keluarga kita berdarah ningrat dan almarhum bapakmu itu juga seorang kiyai, lalu mau taruh dimana muka Ibu kalau kamu sampai menikah dengan orang yang berlainan agama!” ujarnya dengan suara yang lantang
“ Walau kita menganut agama yang berbeda, tapi Tuhan itu kan tetap satu bu “ ujar Gendis dengan suara yang getir
“ Pakai akal sehatmu Gendis, bagaimana bisa anak seorang kiyai bisa menikah dengan orang kafir seperti Itu! “
“ Yoku bukan kafir bu! “ ujar Gendis dengan lantang
 “ Gendis!! “ bentak Ibu Gendis sambil mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Gendis.
Mendengar perdebatan hebat dari dalam, Yoku mendadak masuk untuk melihat kejadian yang sebenarnya.
“ Maaf  bu, bukan maksud saya untuk lancang, tapi tak sepantasnya seorang Ibu menampar wajah putrinya” ujar Yoku
“ Saya tidak butuh nasihat dari kamu, saya harap mulai sekarang dan seterusnya kamu jauhi anak saya, dan sekarang juga saya minta kamu untuk angkat kaki dari rumah saya “
“ Baik kalau itu yang Ibu mau, saya janji tidak akan berhubungan lagi dengan Gendis “ ujar Yoku
“ Yoku, kamu tidak benar-benar melakukan itu kan Yoku?” tanya Gendis sambil menahan tangisnya
“ Maaf  Gendis saya harus melakukannya, ini adalah yang terbaik untuk kita, dan saya juga berterima kasih kepada Ibu karena sudah mau menerima kedatangan saya pada malam hari ini” ujar Yoku
“ Yoku! “ teriak Gendis
Yoku pergi meninggalkan Gendis, bahkan dia pun tidak menoleh saat Gendis memanggil namanya. Gendis berusaha untuk mengejar Yoku, namun perempuan yang tadi menampar Gendis justru menghalanginya.

2011, Desember 12
 “ Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku
“ Eh kamu udah bangun ya, maaf  ya aku udah lancang masuk ke rumah kamu, soalnya pintu rumah kamu ga dikunci sih, jadi aku langsung masuk aja deh. Oh ya, karena sekarang Desember 12 jadi aku buatin kamu sarapan pagi ya, kamu mau makan apa pagi ini?”
“ Kamu kenapa ada di rumah saya ? “ tanya Yoku kembali
“ Aku kabur dari rumah, makanya aku kesini “
“ Kamu harus pulang Gendis! “
“ aku ga mau pulang, aku mau disini sama kamu! “
“ Gendis sadarlah bahwa keimanan kita berbeda, kita memang tidak akan pernah bisa untuk bersama “
“ Kalau gitu kita tinggal di luar negeri saja, aku punya cukup uang kog, kamu mau kemana? Ke Belanda? atau ke Jepang, disana kita bisa menikah dan tetap bisa menganut agama kita “
“ Gendis sadarlah! ini memang yang terbaik untuk kita, kamu akan bahagia jika kamu tidak bersama dengan saya “ ujar Yoku dengan tegas
“ Tapi aku hanya ingin bahagia bersama denganmu, aku tak perduli dengan perkataan orang lain tentang kita, yang aku inginkan adalah bersamamu, menikah denganmu! “ ujar Gendis dengan suara yang lantang
“ Tapi saya tidak ingin menikah dengan wanita yang berlainan agama !! “ bentak Yoku
“ aku ga nyangka kamu mengatakan itu “ ujar Gendis sambil beranjak pergi
“ Gendis tunggu !"
Yoku berlari mengejar Gendis, tapi Gendis seakan menghiraukannya. Namun ketika Yoku sampai di persimpangan jalan dan berteriak memanggil Gendis berkali-kali, barulah Gendis menolehkan wajahnya ke belakang. Akan tetapi  sungguh naas nasib lelaki berbadan tegap itu, ketika ia hendak menghampiri pujaan hatinya yang berada di ujung jalan , tiba-tiba saja sebuah truk berbadan besar menabraknya hingga menyebabkannya terhempas. Terlihat di keningnya darah mengucur, bibirnya pun sangat pucat kala itu, sontak Gendis langsung berlari kearah lelaki itu.
“ Yoku kamu harus bertahan! Kamu ga boleh meninggalkan aku sendiri! “ ujar Gendis sambil menangis
“ Kita pasti akan berjumpa lagi “ ujar Yoku sambil mengenggam tangan Gendis
Perlahan kelopak mata Yoku mulai tertutup, namun entah mengapa kala itu ia meninggalkan sebuah senyum di wajahnya.
“ Yoku !! “ teriak Gendis

Satu tahun kemudian….

2012, Desember 12
            Ditatapnya wajah pria itu melalui bingkai foto yang ia pegang. Awalnya sebuah senyum terpancar di wajahnya, namun lambat laun butiran air mulai mengalir dari bola matanya, dan bila ada yang mencoba mengambil bingkai foto itu, maka ia akan menjerit histeris. Tidak hanya itu, dia juga sering kali berbicara kepada bingkai foto itu, seolah  pria yang ada di bingkai foto yang ia pegang tersebut hidup.
“ Yoku kita pasti nikah kan?” ujar Gendis sambil memeluk bingkai foto Yoku


TAMAT

Kamis, 20 Februari 2014

Kesekian Kalinya Hatiku Bersuara


Hidupku kian lama semakin indah semenjak dirimu bertatahta di kalbuku. Yah, kau sudah terlanjur menjadi dewa di taman hatiku dan juga sudah berhasil menjadikan aku ratu di hatimu, namun sayang hal itu berubah ketika kau lepaskan genggamanku. Kau lepaskan genggamanku hanya untuk mengejar ambisimu, dan ambisimu itu seolah menaburkan  misteri dalam hidupku, namun misteri yang kau taburkan itu kian lama berubah menjadi sebuah panah yang menusuk kalbuku. Dan tahukah kau, semenjak kau pergi untuk melintasi mimpi-mimpimu, hidupku kini bagaikan malam tanpa bintang, bahkan bulan nan genit pun juga sudah enggan tersenyum padaku, kala ku tatap  dia seorang diri.
Sebenarnya aku tak sanggup mengarungi hidup tanpa dirimu, aku rapuh tanpamu,  namun kenangan saat kita bersama-sama tersenyum melihat dunia, hanya itulah yang mampu membuat aku sanggup bertahan melewati sepinya hariku, namun kenangan itu tetap tak mampu meredam kepedihan hatiku.
Ah… kau terlanjur membuat aku terjebak dalam ruang rindu. Namun jauh di lubuk hatiku,  sebenarnya  aku masih tak mengerti alasan mengapa kau sangat berambisi untuk meraih mimpi-mimpimu itu, apakah karena aku bukan mimpimu, hingga kau sangat bergairah mengejar impianmu itu. Ah, sudahlah mungkin itu hanya kekhwatiran ku saja,   aku  sangat yakin kenangan kita akan membuat kau kembali padaku.

Jumat, 14 Februari 2014

Bukan Liburan Biasa


Seperti remaja lainnya, Sisi juga ingin merasakan liburan bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun sayang, keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya, terutama oleh Mamanya. Hingga pada akhirnya Sisi pun berdebat dengan Mamanya, namun tetap saja perdebatan tersebut tidak membuat Sisi diperbolehkan untuk liburan ke puncak bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun takdir seakan memihak keinginan Sisi, keesokan harinya kedua orang tua Sisi pergi untuk menjenguk bibinya, sebenarnya Sisi diajak untuk ikut bersama, namun Sisi menolaknya dengan cara berpura-pura sakit. Tentu dengan kepergian orang tuanya itu, Sisi jadi lebih mudah untuk kabur dari rumah, terlebih lagi Pak Tono, sopir Sisi tidak mengantar ke dua orangtuanya ke rumah bibinya itu. Dengan perasaan yang sangat gembira, Sisi pun menghampiri Pak Tono.
“ Pak Tono, sekarang cepetan Pak Tono anterin saya ke rumahnya Reza “ , pinta Sisi kepada Pak Tono yang dari tadi sedang asyik meminum kopi. “ Sip non “ , jawab Pak Tono tanpa banyak bertanya.
Akhirnya Sisi pun menuju ke rumah pacarnya, yaitu Reza. Namun sayang, kemacetan seakan melanda perjalanan Sisi, dan tentu kemacetan ini membuat hati Sisi dilanda resah dan gelisah, namun perasaan yang melanda hati Sisi tersebut tidak berlangsung lama, perasaan Sisi tiba-tiba berganti dengan perasaan iba, ketika Sisi melihat di balik jendela ada seorang ibu-ibu di dalam bajaj yang sepertinya ingin melahirkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, Sisi langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
“ Bang, ibu-ibu yang di dalam, mau melahirkan ya? ” , tanya Sisi kepada sopir bajaj tersebut. “ Iya neng, ibu-ibu yang di dalem emang mau melahirkan “ , jawab sopir bajaj tersebut dengan wajah yang panik. “ Ya ampun kasian banget, sih..“  , ujar Sisi dengan wajah yang prihatin. “ Lho.. non Sisi kog malah disini, ayo non kita balik lagi ke mobil “ , ajak Pak Tono. “ Aduh pak, masa bapak gag ngeliat sih, kan di dalem ada ibu-ibu yang lagi pengen melahirkan, masa kita diem aja sih, kita tuh harus ngebawa ibu-ibu ini ke rumah sakit “ ,  ujar Sisi kepada Pak Tono. “ Iya juga sih, tapi caranya gimana non, kan jalanan macet? “ , tanya Pak Tono.
Mendengar pertanyaan Pak Tono, Sisi pun terdiam, seakan tak bisa menjawab pertanyaan pak Tono, namun Sisi tak kehilangan akal, Sisi tiba-tiba mendapat ide.
 “ Ehm.. gini aja, gimana kalo Pak Tono gendong Ibu-ibu ini sampai ke depan sambil ikutin jalan aku “ , ujar Sisi memberi ide. “ Iya…iya non, tapi mobilnya gimana non?“ , tanya Pak Tono kembali. “  Aduh.. udah biarin aja mobilnya dititipin sama abang bajaj “ , ujar Sisi tanpa berfikr terlebih dahulu.
Tanpa banyak bicara, Pak Tono mengikuti perintah Sisi dan meninggalkan sopir bajaj tersebut , namun setibanya mereka di depan, betapa kagetnya Sisi ketika melihat angkutan metromini yang ternyata menjadi penyebab kemacetan. Dan tanpa basa basi, Sisi pun  langsung menendang metromini tersebut dengan kakinya, dan tentu saja hal ini membuat amarah sopir metromini tersebut meluap.
“ Hei kau, kenapa pula kau tendang-tendang metro ku ini “ ,  ujar sopir metromini tersebut dengan logat bataknya. “ Lagian dari tadi gag jalan-jalan, gag tau apa kalo dibelakang ada ibu-ibu yang lagi melahirkan! “ , ujar Sisi dengan suara yang lantang. “ Lantas urusan dengan ku apa? Memang aku yang bikin wanita itu hamil?“ , ujar kembali sopir metro tersebut. “ Aduh…. Sakit… “ ujar ibu-ibu hamil tersebut merintih kesakitan. “ Aduh gimana nih, sabar ya bu.. sabar ” , ujar Sisi dengan wajah panik.  “ Ya udah non, daripada kelamaan mendingan kita bawa ibu-ibu ini ke metro ini aja, mumpung metro ini lagi kosong “ , ujar Pak Tono yang masih menggendong Ibu-ibu tersebut.
Ahirnya Sisi dan Pak Tono pun membawa ibu-ibu hamil tersebut ke dalam metromini yang tadi ditendang oleh Sisi. Sebenarnya Sopir tersebut mengusir mereka, namun dengan paksaan Sisi akhirnya hati sopir metromini tersebut luluh juga. Dan dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit, tiba-tiba saja Reza menelfon Sisi.
“ Sayang kamu lagi dimana sih, kog kedengerannya rame banget sih disitu? kamu jadi kan ke rumah aku “ , tanya Reza. “ Aduh maaf ya sayang, aku kayagnya gag jadi liburan ke pucak deh, soalnya aku lagi dalam keadaan gawat darurat nih “ , jawab Sisi. “ Gawat darurat apaan ? ” , tanya Reza kembali. “ Iya soalnya aku lagi lahiran “ , ujar Sisi. “HAAA? LAHIRAN ? SAMA SIAPA ?” , ujar Reza dengan sangat kagetnya.  “ Eh.. salah-salah maksud aku.. “
Gubrak…                                                                                                                       
Belum sempat Sisi mempebaiki kalimatnya, tiba-tiba saja hand phone Sisi jatuh ke bawah, lantaran sopir metromini tersebut mengemudi dengan sangat cepat. Namun ketika Sisi hendak mengambil handphonennya, sisi melihat darah  mengucur di kaki ibu-ibu hamil tersebut, tentu hal ini membuat Sisi terheran-heran, hingga akhirnya Sisi pun bertanya kepada ibu-ibu hamil tersebut.
“ Bu, kog tadi saya ngeliat darah ngalir di kaki ibu sih, ibu dateng bulan ya? “ , tanya Sisi polos. “ Wah non Sisi, itu sih namanya bukan dateng bulan, tapi itu namanya pendarahan non Sisi “ , jawab Pak Tono menjelaskan. “ Aduh..dek..aduh.. sakit “ , ujar kembali Ibu-ibu tersebut. “ APA ? PENDARAHAN ?? adduh… gimana nih, bu sabar ya bu.. tarik nafas yang dalem-dalem  terus keluarin, woi bang cepetan dong nyetirnya! “ , ujar Sisi dengan wajah yang panik.
Dan tiba-tiba saja kepanikan Sisi pun terhenti , lantaran tiba-tiba saja Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak.
“ Aduh..bang kalo ngerem itu pelan-pelan dong, gag liat apa ada ibu-ibu hamil nih “ , ujar Sisi marah. “ Kau ini bagaimana sih? kita sudah sampai ini di rumah sakit “ , jawab sopir metromini tersebut. “ Hah? udah nyampe ya, yaudah kalo gitu cepetan Pak Tono bawa Ibu ini ke dalam “ , ujar Sisi memberi perintah kepada Pak Tono.
Dan tanpa banyak bicara, akhirnya Pak Tono membawa Ibu-ibu hamil tersebut ke dalam rumah sakit yang diikuti oleh Sisi. Untung saja, saat mereka di dalam, mereka langsung bertemu dengan seorang dokter yang menangani tentang kehamilan, jadi ibu-ibu hamil tersebut langsung dibawa ke ruang bersalin. Selama 1 jam lebih, Sisi dan pak Tono menunggu, dan tentu hal ini membuat mereka dihantui perasaan cemas, namun perasaan cemas tersebut tiba-tiba berganti dengan perasaan haru, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin,  dan kebahagiaan mereka pun diikuti oleh ucapan teirma kasih dari ibu-ibu yang tadi.
“ Dek dan juga pak sopir, Ibu sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah mau mengantar Ibu sampai kesini “ , ujar Ibu-ibu tersebut sambil menggenggam tangan Sisi. “ Sama-sama bu, oh..ya Ibu  juga gag usah khawatir soal biaya persalinannya, pokoknya semua biaya persalinan Ibu biar saya yang tanggung “ , jawab Sisi. “ Ya ampun dek, makasih sekali ya dek, saya doakan semoga adek selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah “ , ujar kembali ibu-ibu tersebut. “ Amin.. oh, ya kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, soalnya udah mau malem “ , jawab Sisi mengakhiri percakapan.
Setelah Sisi dan pak Tono pamit pergi, akhirnya mereka pun pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Sisi mulai mengerti bahwa liburan bukan hanya sekedar bersenang-senang dengan pacar atu teman, melainkan menolong orang juga berarti liburan, dan ini bukan liburan biasa bagi Sisi, ini adalah sebuah liburan yang menyenangkan baginya. Namun saat Sisi sampai di rumah, Sisi pun langsung disambut dengan sejuta pertanyaan dari kedua orangtua Sisi, lantaran orang tua Sisi sangat cemas karena anak satu-satunya itu tidak pulang ke rumah dari tadi pagi. Akhirnya Sisi pun menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papanya, dan orang tua Sisi pun sangat bangga terhadap Sisi setelah mereka mendengar semua kejadian yang telah dialami oleh Sisi hari ini.
“ Mama sangat bangga sama kamu Si, tapi ngomong-ngomong kog kamu pulangnya pake taksi sih, bukannya tadi kamu bilang berangkatnya pake mobil ya? terus sekarang kog mamah gag liat mobilnya sih? “ , tanya Mama penasaran.            “ Ehm.. maaf ya Ma, mobilnya tadi aku titipin ke sopir bajaj “ , ujar Sisi dengan suara pelan.
“ Sisiiiii………. !!! “ teriak mama
Tamat

Lagi Lagi Suara Hatiku

        Perlahan-lahan derita ku kini mulai memudar, satu per satu duri di hatiku kini juga sudah mulai terjatuh, bahkan sinar kelam yang selalu menghiasi hidupku kini juga sudah berganti dengan sinar kebahagiaan. Yah, kebahagian yang telah kau buat akhir-akhir ini, seolah-seolah mengembalikan senyumku yang telah lama hilang, bahkan jiwa yang sudah lama layu ini, seakan terasa hidup kembali semenjak hadirnya dirimu disini. Ambisiku untuk memiliki dia, seakan terhenti ketika melihat senyummu yang seperti bunga di musim semi, dan kalau boleh jujur, kala aku melihat kedua bola matamu seolah aku juga melihat berjuta warna pelangi disana, terlebih lagi ketika kau mulai bersuara, seakan aku mendengar alunan symphony cinta yang membuat detak jantungku juga ikut bersenandung mengikuti alunan symphony cinta yang kau buat. 
     Namun perasaan yang kian melanda hatiku, justru membuatku takut kehilangan dirimu, aku takut kau akan menusukkan duri di hatiku, padahal kau tahu, kalau akan sangat sakit untukku, bila aku harus mencabutnya sendiri, tapi jauh di lubuk hati biruku, aku percaya bila semua itu hanya ketakutan bodoh yang terlintas di otakku saja.
      Kini, perasaan tersebut sudah terajut menjadi sebuah cinta, dan tentu saja takkan kubiarkan rajutan cinta itu tercabik seperti rajutan cintaku yang terdahulu, aku akan terus menjaganya dengan segenap hatiku, agar rajutan cinta ini tetap indah dan akan semakin indah bila kita sama-sama menjaganya.

Suara Hatiku Lagi

        Sayang ku, kini aku bukan lagi seorang pengemis cinta yang sering meronta dan meminta kasihmu, aku kini adalah seorang penanti, menanti sesuatu yang mungkin takkan pernah jadi kenyataan, penantian yang mungkin akan berakhir bila detak jantungku juga berhenti, tapi tak apa, menanti bukanlah hal yang meresahkan bagiku, menurutku menanti itu lebih elegan daripada harus mengemis cintamu seperti perawan cinta yang haus akan kasih.
       Menurutku, menanti itu adalah kegiatan yang menyenangkan, sebab kalau aku sedang menanti, aku bisa berimajinasi tentang kita di masa depan atau mengenang kenangan indah kita di masa lalu. Yah, masih jelas di benakku, tentang kita di masa lalu, terlebih tentang malam itu, masih terus berotasi di otakku. Yah, mana mungkin aku bisa melupakan saat kau mendekap tubuhku dengan sentuhan hangat tubuhmu, lalu membelai rambutku dengan lembut jarimu, serta menyentuh bibir yang tak berdosa ini, dengan sentuhan dingin bibirmu, dan tentu saja aku tak kuasa untuk memberontak ketika api cintamu sudah mulai bergejolak. Tapi kalau boleh jujur, kala itu aku memang sudah terjerat dalam hasrat cintamu. 
        Namun sayang, semua hal itu hanya sebatas kenangan lalu yang sebenarnya sangat sakit untuk aku ingat kembali, walaupun juga terlalu indah untuk aku lupakan. Dan kini, dalam kesepianku, aku harus berperang melawan kepedihanku sendiri untuk memperjuangkan apa yang seharusnya dulu aku perjuangkan.

Kamis, 09 Januari 2014

Suara hatiku

Untuk seseorang yang masih ku nanti...

       Ku lihat Mentari bersembunyi di balik awan, seolah enggan untuk tersenyum padaku, bahkan langit pun sudah mulai tak bersahabat, hanya sedih yang mau menemaniku. Namun kesedihanku tidak akan membuat api cintaku padam, api cintaku akan terus membara, sama seperti pertama kali kau menyentuh bibirku. Bahkan sentuhan dari bibirmu pun masih terus menghantui fikiranku.
       Dan seperti yang kau tahu, aku masih disini menantimu, aku tak peduli sekeras apapun kau menyingkirkan cintaku, bahkan sekalipun pelangi berubah menjadi hitam putih, itu semua tetap tidak akan membuatku goyah untuk mencintaimu. Menurutku, cinta tak akan berarti apa-apa bila aku belum bisa memiliki mu, mungkin terdengar arogan bagimu, tapi ini adalah aku yang mencintaimu lebih dari apapun. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku sangat lelah dengan semua ini, namun entah mengapa diri ini sangat haus akan kasih mu. 
       Sayangku, aku tahu ini tak lebih dari sebuah rangkaian kata yang menjijikkan bagimu, namun walaupun begitu, tetap ada satu hal yang perlu kau tahu, yaitu aku akan terus menanti cintamu hingga ragaku sudah tidak bernyawa lagi.

Minggu, 05 Januari 2014

Misteri Pohon Duren

       Oleh : Nola Dewanti
     “Da..ri musim duren hingga musim rambutan tak juga aku dapatkan“ ujar Egi, sambil memainkan ukulelenya. “Aggh.. suara lo itu ngeganggu konsen belajar gue tau gag?“ ujar Adriyan sambil memegang buku Sejarah yang tebal. “Idih.. gaya-gayaan pake belajar segala, emang lo lagi belajar apaan sih, dari tadi serius amat ?” tanya Egi kepada Adriyan. “Eh..kunyuk, lo gag liat apa daritadi gue megang buku sejarah“ ujar Adriyan dengan wajah yang kesal. “Yaellah Sejarah aja pake dipelajarin, eh.. iyan gue bilangin ke elo ya, yang namanya sejarah itu adalah sebuah masa lalu, dan masa lalu itu biarlah berlalu, gag usah kita inget-inget lagi, jadi ngapain juga sih lo belajar sejarah yang hanya sebuah masa lalu itu?” ujar Egi menjelaskan. “Bener..juga ya kata lu“ ujar Adriyan sambil manggut-manggut. “Siapa dulu Egi gitu lho.. udah ah, gue mau nyanyi lagi, da..ri musim duren…” Dan nyanyian Egi pun terhenti, lantaran tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. “Woi.. “ ujar seorang wanita kepada Egi. “Yaellah Rena, ngagetin aja sih, gag liat apa orang lagi latihan vocal“ jawab Egi ketus. “Ah..gaya-gayaan banget sih lu, pake latihan vocal segala. Eh..ngomong-ngomong soal duren, kog gue jadi ngidam duren ya, apa..lagi duren di pohon deket salon Bu Susi” ujar Rena kepada Egi dan Adriyan. “ Iddih.. udah kayag ibu-ibu hamil aja lu, pake ngidam segala…” jawab Adriyan. “Ih..iyan, gue serius juga, tau gag lo pas gue berangkat ngelewatin pohon duren itu, aroma durennya itu wa..ngi banget, nah..makanya itu gue mendadak ngidam duren, eh..ngomong-ngomong nanti pas pulang sekolah kita ambil duren dari pohon itu yuk!” ajak Rena kepada Egi dan Adriyan. “Ogah..ah..gue kagag berani kalo ngambil duren dari pohon itu,” ujar Egi. “Sama..gue juga kagag berani deh” sambung Adriyan. “Ih.. lu berdua kenapa sih, kog gag berani? ato jangan-jangan elo berdua gag bisa manjat ya..??” ujar Rena yang meremehkan keberanian Adriyan dan Egi. “Dih..bukannya kita gag bisa manjat Ren.. tapi pohon duren deket salon Bu Susi itu udah mulai angker, ya gag Gi?“ ujar Adriyan. “Youman coyy” sambung Egi. “Lho, angker kenapa?” tanya Rena. “ Nih..ya gue ceritain, seminggu sebelum kepindahan elo di RT kita, salah satu warga di RT kita sempet ada yang ngambil duren di pohon itu, kabar-kabarnya sih.. pas dia udah di atas pohon itu, dia ngedenger suara cewek yang lagi ketawa, dan elo tau apa yang dia liat pas dia nengok ke atas, dia ngeliat cewek pake baju putih sambil ngelempar duren ke arah orang itu, nah..semenjak kejadian itu deh, warga di RT tempat kita tinggal, udah gag ada yang berani buat ngambil duren di pohon angker itu, bahkan Ketua RT tempat kita tinggal juga gag berani tuh, untuk ngambil duren di pohon itu” ujar Adriyan menjelaskan. “Nah..terus nasib orang itu gimana donk?” tanya Rena kembali. “Ya, untungnya sih.. orang itu masih selamet, cuman tangannya doank yang patah, tapi semenjak kejadian itu, orang itu malah pindah rumah..” sambung Egi menjelaskan. “Oh..gitu.. eh, tapi cewek pake baju putih siapa ya?” tanya Rena sambil sedang berfikir. “Yah..pake nanya lagi, ya siapa lagi kalo bukan..” ujar Egi sambil menatap Adrian. “ KUNTILANAK.. ” ujar Egi dan Adrian sambil mengagetkan Rena. “Aghhhhh…...” dan Rena pun berteriak karena dikagetkan oleh Adriyan dan Egi . “Ih, rese banget sih lo berdua” ujar Rena dengan wajah yang kesal. 
      Adrian dan Egi pun tertawa terbahak-bahak melihat Ekspresi Rena yang kaget, namun tawa mereka pun harus terhenti, lantaran Pak Toro, guru Sejarah mereka sudah masuk. 2 jam berlalu, akhirnya pelajaran Pak Toro pun berganti dengan suara bel istirahat. Seperti bisanya, Adrian, Egi dan Rena pun pergi ke kantin bersama. Namun, saat mereka berada di kantin, Rena masih saja memikirkan sosok wanita yang ada di pohon duren itu. “Eh guys.. gue itu masih kepikiran tau gag, sama sosok cewek yang ada di pohon duren yang kata lo berdua angker itu“ ungkap Rena kepada Egi dan Adriyan. “Yaellah..masih penasaran juga lagi nih anak, kan gue udah bilang kalo sosok cewek di pohon angker itu ya kuntilanak, kalo bukan kuntilanak emang siapa lagi coba, ya gag Egi?” ujar Adriyan sambil mengunyah gorengan. “Yoi bro, lagian nih ya.. gue juga pernah tuh, ngedenger ketawa cewek gitu, pas motor gue lagi mogok di depan pohon angker itu, padahal gag ada cewek sama sekali di tempat itu, dan semenjak gue ngedenger ketawa itu, gue jadi makin yakin banget kalo suara itu adalah suara kuntilanak” ungkap Egi sambil mengunyah permen karet. “ Ehmm..tapi gue masih gag percaya kalo itu kuntilanak, sekarang lo berdua mikir deh, masa iya sih ada kuntilanak
yang bisa ngelempar duren?” ujar Rena yang masih penasaran. “Iya juga ya, emang gag masuk akal banget sih?” ujar Adriyan. “Ya kan gag masuk akal banget? nih..ya, gue punya ide, gimana kalo malem ini, kita ambil duren di pohon itu, dan kita buktiin kalo sebenernya ga ada kuntilanak di pohon itu?” pinta Rena kepada Adriyan dan Egi. Mendengar Perkataan Rena, Egi dan Adriyan pun hanya bisa terdiam sambil mengunyah makanan yang ada di mulut mereka. “Ih..lo berdua kenapa pada diem sih? oh..iya ya, gue lupa kalo lu berdua kan penakut, mana berani lu berdua malem-malem ke pohon angker itu , ya kan?” ujar Rena yang meremehkan keberanian Egi dan Adriyan. “Engg..kita itu bukannya penakut Ren.. tapi lo tau sendiri kan kalo perjaka tinting itu gag boleh keluar malem-malem, ya gag Iyan? ujar Egi sambil menyenggol sikut Adriyan yang dari tadi asyik mengunyah gorengan. “Oh..iya-iya, yoi banget tuh yang dibilangin Egi” sambung Adriyan. “Yaellah.. gag usah kebanyakan alasan deh lo berdua, gue gag mau tau ya, gue tunggu lo berdua jam 7 malem di pos ronda, pokoknya persahabatan kita putus kalo sampe lo berdua gag dateng” ancam Rena kepada Adriyan dan Egi.
         Tepat jam 7 malam Rena sudah berada di pos ronda, namun Adriyan dan Egi pun belum juga menampakkan diri mereka, akhirnya Rena pun mempunyai inisiatif untuk menelpon Adrian, tapi belum sempat Rena menelefon Adriyan, tiba-tiba saja ada seorang bapak-bapak menghampiri Rena. “Assalamualaikum nak Rena, lho nak Rena ngapain disini sendirian?” sapa bapak-bapak tersebut kepada Rena. “Eh..pak RT, waalaikumsalam pak, engg..saya lagi nunggu Egi sama Adriyan” ujar Rena. “Oh…gitu, Yaudah saya tinggal pergi gag apa apakan? soalnya saya mau ke salon Bu Susi buat keramasan” ujar Pak Rt kepada Rena. “Oh..yaudah gag apa-apa kog pak, kayagnya bentar lagi Egi sama Adriyan juga mau dateng” jawab Rena. “Ya sudah kalo begitu saya duluan ya” ujar Pak RT sambil menaiki sepeda ontelnya. “Iya pak..” ujar Rena. Usai Pak RT pergi, akhirnya Egi dan Adrian datang dan menghampiri Rena “Aduh..lo berdua lama banget sih datengnya, liat ni tangan gue bentol-bentol gara-gara digigitin nyamuk,” ujar Rena sambil menunjukan tangannya “Aah..sori deh, kan kita nyiapin ini dulu buat penangkal setan” ujar Egi sambil menunjukkan kalung bawang putih yang ada di lehernya. “Udah jam setengah delapan nih, yuk ah..kita ke pohon itu” ujar Adriyan sambil menaiki sepeda fixinya.
        Akhirnya Adriyan, Egi dan Rena pun pergi dengan sepeda fixi mereka. Sesampainya mereka di pohon itu, mereka sepakat untuk melakukan hompimpa terlebih dahulu agar bisa menentukan siapa yang akan memanjat pohon angker tersebut. Setelah mereka melakukan hompimpa, ternyata Adriyan lah, yang akan memanjat pohon angker tersebut. “Nah.. Adriyan sekarang cepetan elu panjat itu pohon angker” ujar Egi dengan wajah yang sumringah. “Iye..ini juga gue mau manjat“ ujar Adriyan sambil mulai untuk memanjat pohon duren tersebut. Akhirnya Adriyan pun memberanikan diri untuk memanjat pohon tersebut, namun saat Adriyan sudah sampai diatas pohon tersebut, Adriyan malah justru berteriak. “AGHGHHHHHGHH…….. “ teriak Adriyan. GUBRAK dan Adrian pun terjatuh dari pohon “Waduh..iyan lo kenape? Lo gigit kuntilanak ya?” tanya Egi dengan wajah yang panic. “Apaan sih lo gi, Iyan lo gag kenapa-kenapa kan?” tanya Rena kepada Adrian. “I..iya gue gag kenapa-kenapa kog, “ ujar Adrian sambil memegang kepalanya “Ya..terus pas diatas lo liat apaan?” tanya Rena penasaran. “Pas..diatas gue liat cewek pake baju putih terus rambutnya berantakan gitu, oh ya sama satu lagi, gue inget banget kalo di mukanya itu ada bekas lukanya” ujar Adriyan menjelaskan. “Tuh..kan Ren, udah kebukti kan, kalo sosok cewek di pohon ini yah kuntilanak, yaudah yuk..kita cabut aja, daripada nanti kita digigit ama tuh kuntilanak gara-gara kita udah ngeganggu dia” ujar Egi yang daritadi masih panik. “Tunggu dulu deh.. kayagnya gue sebelumnya pernah ketemu deh sama cewek yang ada di pohon ini, tapi dimana ya?” ujar Adriyan sambil mengingat. “Oh..iya, gue baru inget” ujar Adriyan lagi. “Lo inget apaan??” tanya Rena kembali. “Lo emang bener Ren, ternyata cewek itu emang bukan kuntilanak, gue baru inget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejer-ngejer gue,” ujar Adriyan. “Tapi lo beneran yakin kalo cewek itu adalah orang gila yang pernah ngejer-ngejer lo?” tanya Rena memastikan. “Iya Ren..gue itu yakin banget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejer-ngejer gue, nih ya.. gue inget banget kalo orang gila yang pernah ngejer-ngejer gue itu, juga punya bekas luka yang persis banget sama kayag cewek diatas pohon ini” ujar Adriyan sambil menunjuk kea rah pohon duren tersebut “Yaudah.. gimana kalo gue sama lo laporin semua masalah ini, ke pak RT, kebetulan pak RT lagi ada di salon Bu Susi, jadi kita gag usah jauh-jauh ke rumahnya” ujar Rena. “Iya..iya lo bener banget, kita memang harus ngelaporin semuan masalah ini ke pak RT, yaudah yuk” ujar Adriyan sambil beranjak berdiri. “yaudah yuk” sambung Egi. “Eh.. yang ngajakin lo untuk ikut siapa? gue kan ngajaknya cuman Adriyan doang” ujar Rena sambil beranjak berdiri juga. “Yah terus kalo gue gag ikut, gue ngapain dong?” tanya Egi dengan wajah yang bingung. “Yah… lo tetep disini lah, oh..ya sekalian juga lo turunin cewek itu ya, kan kasian gi, dia diatas pohon itu mulu” jawab Rena. “Bener tuh yang dibilangin Rena, lo harus tetep disini, lagian kan tadi gue udah manjat gi, jadi sekarang giliran lo lah…” sambung Adriyan. “Wah…lo berdua emang parah banget, masa lo tega sih ninggalin gue sendirian disini..” ujar Egi dengan wajah yang hampir mau menangis. “Tenang gi, cewek itu gag bakal ngegigit kog, kan dia bukan kuntilanak, ya gag yan?” jawab Rena. “Yoman.. yaudah yuk kita langsung ke salon Bu Susi” sambung Adriyan. 
        Akhirnya Adriyan dan Rena pun meninggalkan Egi, dan sesampainya mereka di salon Bu Susi, mereka pun langsung menemui pak RT dan menceritakan semuanya kepada pak RT. Dan setelah mendengar penjelasan Rena dan Adriyan, pak RT pun meminta kepada mereka untuk membuktikan semua omongan mereka. Tanpa bicara panjang lebar, Adriyan dan Rena pun langsung mengajak pak RT untuk ikut dengan mereka ke pohon Duren tersebut, agar bisa melihat kejadian yang sebenarnya. “Aduh..lo berdua lama banget sih datengnya, lo gag tau apa kalo nurunin cewek gila ini susahnya minta ampun” ujar Egi kesal. “Yaellah nurunin orang gila aja pake ngompol segala, lo bener-bener payah gi..” ujar Rena kepada Egi. “Tuh..kan pak dia bukan kuntilanak, liat aja tuh daritadi dia melukin Egi mulu” ujar Adriyan. “Yah..ya.. nak Adriyan dan nak Rena memang benar, dia memang bukan kuntilanak seperti yang saya kira selama ini, nah..kalo begitu saya minta maaf atas ketidakpercayaan saya, dan saya juga ucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Nak Adriyan dan nak Rena, berkat keberanian kalian berdua akhirnya misteri pohon duren ini terpecahkan juga, dan akhirnya juga duren-duren di pohon ini bisa dinikmati kembali oleh semua warga di RT sini” ungkap Pak RT “Yah..sama-sama kog pak” ujar Rena dan Adriyan bersamaan. “Kog yang diucapin cuman Adriyan sama Rena doang sih, saya juga ngebantuin kali pak, ga ngeliat apa saya sampe ngompol begini cuman gara-gara nurunin kuntilanak jadi-jadian ini doang” ujar Egi dengan kesal. “Oh..ya saya lupa, iya..saya ucapkan terimakasih juga yang sebesar-besarnya kepada nak Egi” ujar pak RT. “Yah..udah telat kali pak” ujar Egi ketus. “Ayang bebb kok marah sieh…” ujar cewek gila tersebut sambil mencium Egi.. “hahahahahaha…..” Adriyan, Rena, dan Pak RT pun tertawa 

TAMAT